<< cerita sebelumnya
“Apakah dia rajin menanyakan anaknya?”
“Tak sampai sebulan sekali.”
“Menjenguknya?”
“Hmm… aku lupa kapan terakhir kali. Mungkin enam bulan lalu.”
Ibu. Tiba-tiba Saras teringat ibunya. Hari ini, mungkin yang pertama kalinya, Saras ingat untuk bersyukur. Meski Ibu tak banyak memberinya kebebasan, terlalu mengekang, ia selalu ada untuk keluarganya.
“Bagaimana kalian menikah dulu?”
“Married by accident. Biasa. Akibat terlalu bebas. Kami berpacaran ketika sedang sekolah di luar negeri. Tak ada pengawasan. Yang paling fatal, usia kami ketika itu masih sangat muda.”
Bukan alasan, dengus Saras dalam hati. Sekelebat dia kembali mengingat dirinya sendiri. Apa bedanya? Dia pun seperti itu. Bermain-main dengan mahkota paling berharga yang hanya dimiliki seorang wanita. Hanya untuk menunjukkan eksistensi diri yang tidak jelas untuk apa dan siapa.
“Dia tidak pernah menanyakan ibunya?”
“Awalnya, ya. Tapi, lama-kelamaan dia mulai mengerti dan berusaha berhenti mencari ibunya.”
“Bukan mulai mengerti. Tapi, dia terpaksa mengerti.”
“Dia memang harus mengerti. Mau tidak mau. Suka tidak suka. Karena, memang beginilah keadaannya sekarang. Toh, dia masih punya aku.”
Egoisnya orang tua. Menuntut buah hati untuk selalu mengerti, tanpa timbal balik untuk memahami.
“Aku tahu kamu sulit mengerti, Sar. Karena, kamu bukan berasal dari keluarga yang terpecah-belah. Tapi, satu yang boleh kamu percaya, aku menyayangi Dita. Dia sudah kehilangan kasih sayang ibunya. Tidak akan kubiarkan pula dia kehilangan cinta ayahnya.”
Sejak bertemu Arya, malam Minggu Saras tak lagi kelabu. Arya sering mengajaknya pergi berdua. Kadang bertiga dengan Dita. Saras mendapat pengalaman baru, mengasuh anak. Dia sebenarnya tak suka anak-anak. Baginya mereka hanyalah makhluk rewel yang merepotkan. Yang membuat tangannya gatal ingin menjitak kepala mereka.
Tak terkecuali Dita. Tapi, terhadap bocah ini dia harus belajar menahan diri. Apalagi, dia tahu, Arya sangat menyayangi putri kecilnya itu. Dita sebenarnya anak yang menarik. Selain wajahnya cantik menggemaskan, sifatnya juga periang. Dia sangat manja pada ayahnya.
Dita bukannya membenci Saras. Sekalipun tahu bahwa Tante Saras pasti teman dekat Daddy, atau malah kekasihnya. Karena cuma wanita itu yang belakangan ini paling sering pergi dengan daddy-nya. Kalau dia menjaili Saras itu, karena sifatnya memang usil. Senang bercanda dan mengganggu orang.
Dita dididik Arya untuk selalu terbuka. Karena itu, dia jarang memiliki perasaan iri dan cemburu pada orang lain. Baginya, semua orang sama menyenangkannya. Tapi, tante yang satu ini lain. Dia bukan hanya sulit diajak bercanda, tapi juga terlalu kaku, menurut pandangan kanak-kanaknya. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Dita tak pernah bisa cepat akrab.
Dita makin antipati, ketika dia memergoki mata Tante Saras berubah tajam memelototinya. Tentu saja tak kelihatan Daddy. Padahal, waktu itu Dita sedang tidak berniat mengusilinya. Mungkin, Tante Saras merasa terganggu karena Dita berteriak-teriak memanggil susternya.
Saras sendiri tidak terlalu merasa bahwa gadis cilik itu mulai memandangnya berbeda. Lagi pula, dia sudah biasa dipandang beda oleh orang lain. Yang penting buatnya, dia bisa tetap berdekatan dengan Arya. Dita urusan kedua. Kalau anak menyebalkan, itu adalah harga yang harus dibayarnya untuk mendapatkan Arya. Meskipun, setengah terpaksa.
Karena tahu tidak akan bisa masuk ke hati Dita, Saras enggan mencoba berakrab-akrab. Tapi, juga tidak bersikap memusuhi. Dia mencoba jaga wibawa, supaya Dita tidak berani macam-macam dengannya. Untunglah, Dita tidak mau pergi bertiga lagi. Jadi, Saras bebas memonopoli Arya. Paling tidak selama beberapa jam.
Yang membuat Saras kagum pada Arya adalah kemampuannya mengatur waktu. Di tengah kesibukannya, dia masih punya waktu untuk gaul dengan teman-temannya dan bermain dengan anak semata wayangnya.
”Yang paling penting adalah kemauan untuk menyediakan waktu,” kata Arya, santai ketika suatu kali Saras bertanya.
”Apa bedanya dengan membagi waktu?”
”Berbeda sekali. Membagi itu memakai patokan waktu. Untuk pekerjaan waktunya segini, untuk hal lain segitu. Itu lebih membebani.”
”Aku juga heran, kamu supersibuk, tapi tetap terlihat santai.”
”Karena, aku menikmati pekerjaanku. Aku juga suka meluangkan waktu untuk kehidupan pribadiku. Itu salah satu terapi supaya tetap survive.”
”Lalu, bagaimana caramu mendidik Dita? Aku lihat kamu juga santai sekali. Tidak khawatir? Anakmu kan perempuan.”
”Aku tak pernah pakai patokan tertentu. Yang selalu kutekankan terhadapnya adalah kemandirian. Tidak bergantung pada orang lain dalam hal apa pun, pada siapa pun. Termasuk padaku, ayahnya sendiri.”
”Tega sekali kamu,” kata Saras.
”Dari mana kamu bisa bilang begitu?”
”Anakmu kan masih kecil.”
”Justru karena dia masih kecil, jadi lebih mudah mengajarkannya. Kamu pikir setelah umur berapa mandiri itu sebaiknya diterapkan? Setelah dia dewasa dan bosan menjadi anak manja? Atau, setelah seumur dirimu?”
”Tapi, aku kan mandiri,” kata Saras.
”Dalam hal apa kamu merasa mandiri?” Arya menaikkan alisnya.
”Aku bisa hidup jauh dari orang tua setelah lulus sekolah. Aku juga terbiasa pergi ke mana-mana sendiri.”
Arya tertawa kecil.
”Kenapa tertawa?”
”Menurutku, kamu belum mandiri.”
”Jangan sok tahu. Kalau bukan mandiri, lalu apa?”
” Menurutku, kamu hanya anak manja yang ingin berontak dengan dalih belajar mandiri. Entah berontak pada apa atau siapa.”
Mata Saras langsung membeliak.
”Maaf. Aku hanya bercanda. Jangan marah.” Digamitnya punggung tangan Saras lembut.
Arya selalu saja berhasil meredam emosinya. Juga ketika suatu hari, beberapa bulan kemudian, Arya meminta Saras menjadi kekasihnya. Dengan cara demikian memikat. Membuat Saras sulit menolak, meskipun pikiran itu tak pernah terlintas dalam benaknya.
Memang tak ada alasan untuk menolak Arya. Ia hampir memiliki segala yang diinginkan seorang wanita pada pria. Satu-satunya cacat mungkin karena Arya adalah seorang duda beranak satu. Tapi, itu pun bukan masalah besar untuk Saras. Justru gadis itu menganggap hal ini sebagai kelebihan. Dengan predikatnya, Arya malah lebih terlihat makin matang.
Sejak berpacaran dengan Arya, Saras makin jarang pulang. Tidak sebulan sekali dia datang orangtuanya. Padahal, Depok terbilang tetangga dekat Jakarta. Hampir satu rumpun. Tapi, setelah bulan ketiga, Saras pulang juga. Dia memilih sendiri. Tidak mau diantar Arya. Paling tidak dia harus memastikan dulu reaksi Ibu, mendengar anaknya sudah menjalin hubungan dengan seorang pria. Apalagi, dia duda, dengan satu anak pula.
“Ibuku belum tentu mengizinkan. Dia bilang harus menunggu saat yang tepat untuk mengenal pria. Dan aku tidak tahu kapan waktu itu tiba. Waktu ibuku berbeda dari waktuku,” kata Saras, saat Arya meminta penjelasan.
“Kukira kamu sangat dekat dengannya.”
“Hanya dalam beberapa hal.”
Arya termangu. Meskipun merasa mengerti karakter Saras, tetap masih tersisa beberapa ganjalan. Gadis yang aneh. Kadang dia bisa bersikap periang, spontan, penuh tawa, dan terbuka. Di saat lain dia bisa berubah menjadi amat introvert, kaku, serta sulit bersosialisasi. Kalau sudah begitu, dia akan asyik sendiri dengan dunianya. Tidak peduli lagi pada keadaan sekeliling.
“Tante Saras itu sok.” Terngiang kembali kata-kata Dita.
“Dita tidak boleh begitu! Atas dasar apa Dita menuduh begitu tentang Tante Saras?” tanya Arya halus, tapi tegas.
“Dita nggak nuduh, kok. Ada buktinya. Nanti juga Daddy tahu.”
Arya tahu, kata-kata seorang bocah berusia enam tahun tidak bisa dianggap sepele. Arya makin tertantang untuk mengetahui siapa gadis yang jadi kekasihnya, latar belakang keluarganya. Dari cerita-cerita sebelumnya, Arya menangkap kesan bahwa hubungan Saras dengan keluarganya baik-baik saja.
Penulis: Mya Ye