Fiction
Topeng [10]

19 Apr 2012


<<  cerita sebelumnya

Diam-diam Saras memerhatikan Windi. Kini dia sedang sibuk bercerita dengan teman-temannya. Sesekali tertawa. Perasaan iri itu kembali menjalari hati kecilnya. Betapa inginnya dia bisa seperti itu. Banyak teman.

“Sar, aku pulang, ya. Kamu masih mau menunggu?”

Windi datang ke mejanya dan membuyarkan lamunan Saras.

“Aku juga mau pulang, kok,” kata Saras.

“Naik apa? Kuantar, yuk,” ajak Windi.

Awalnya Saras menolak. Tidak enak merepotkan orang yang baru dikenalnya. Tetapi, Windi terus saja memaksanya, hingga Saras pun menurut.

Windi berceloteh sepanjang perjalanan. Ceritanya mengalir seperti tidak ada habisnya. Bukan cara bicaranya saja yang cepat. Tindak-tanduknya, cara berjalan, sampai caranya menyetir pun sama. Gesit bukan main. Terus terang, dia lebih suka menyimak tindak-tanduk gadis itu daripada mendengarkan setiap omongannya. Ada sesuatu yang menarik darinya.

“S-A-B-A-R. Itu kunci untuk mempertahankan Arya,” kata Windi, singkat.

Tetapi, sampai berapa lama lagi aku harus bersabar, pikir Saras je­mu. Makin lama, Arya makin tak terkejar. Bukan hanya jauh di mata, tapi juga di hati.

Lama-kelamaan pertengkaran-pertengkaran kecil mulai terjadi. Berawal dari Saras yang mulai berani memprotes Arya. Memprotes segala kesibukannya yang tak pernah kenal waktu. Membuat Arya kesal sendiri. Dia sudah cukup mendapat tekanan di kantor. Tentu saja yang diinginkannya adalah pulang ke rumah yang tenang dan damai. Kekasih yang selalu tersenyum dan mengerti.

Memang tidak adil untuk Saras. Sejauh ini dia berusaha sabar dan menerima Arya apa adanya. Bertahan dengan malam-malamnya yang sunyi dan sendiri. Tapi, sampai kapan? Saras menginginkan kehidupan berpacaran seperti dulu. Seperti pasangan kekasih lain.

Kekesalan Saras mencapai puncaknya ketika pada malam ulang ta­hunnya Arya malah sedang berada di Singapura. Bukan hanya itu. Dia baru menelepon dan mengucapkan selamat pada Saras menjelang tengah malam. Ketika hari sudah hampir berganti. Keterlaluan!

Arya hanya mengucapkan beberapa kata. Singkat. Datar. “Happy birthday, My Dear. Maaf, baru telepon sekarang. Banyak pekerjaan.”

Pekerjaan. Pekerjaan. Pekerjaan lagi. Ingin rasanya Saras menjerit. Mengamuk kalau bisa. Se-mahal itukah waktu Arya untuknya?

Ketika Saras mengungkapkan kekesalannya, Arya berbalik memarahi Saras karena tak mau mengerti kesibukannya. Tapi, karena terbiasa memendam emosinya, Saras tak melawan. Yang dilakukannya hanya menangis. Itu pun setelah telepon ditutup. Itu air mata keduanya hari itu. Yang pertama tadi pagi. Setelah mendapat telepon dari orang tuanya. Mendengar nada suara penuh sayang dari ayah-ibunya.

Ini hari istimewanya. Dia seharusnya tertawa bahagia. Tak ada tempat untuk bersedih. Apalagi sampai menangis.
SMS dari Ibu masuk ke ponselnya. ”Sabtu ini pulang, ya, Nduk. Ibu kangen sama kamu.”

Mungkin, inilah yang dinamakan ikatan batin. Mungkin, Ibu tahu hari ini justru anaknya sedang tidak bahagia. Dan, Ibu selalu siap merentangkan lengannya lebar-lebar. Siap menerima gadis kecilnya ke dalam pelukannya. Membuainya dalam kehangatan.

Membutuhkan teman bicara, Saras menelepon Windi. Tapi, Windi malah terpingkal-pingkal ketika mendengar keluhan Saras. “Maaf, Sar, bukan aku tidak mau. Tapi, kamu salah jika mengira aku bisa memberikan solusi yang tepat untuk masalahmu ini.”

“Kalau begitu, aku minta pendapatmu.”

“Setahuku, Arya memang begitu. Kalau sedang berlomba dengan proyek, jangan berharap dia akan bersikap romantis padamu.”

“Tapi, dulu Arya bilang padaku, dia bukan tipe workaholic.”

Windi mengibaskan tangannya ke udara. Tubuhnya sedikit menegak. “Saras, kamu kan bukan anak kecil lagi. Tidak ada orang yang jujur pada dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa dia gila kerja. Kamu tahu itu. Karena, belum tentu dia sendiri menyadarinya.”

Saras mengembuskan napas. “Tapi, dia lupa ulang tahunku, Win. Dia berbicara dengan nada kesal padaku. Siapa yang tidak marah?”

“Sorry, tapi ternyata kamu memang seperti anak kecil. Gadis cilik yang manja. Aku sudah pernah bilang, hanya satu kunci untuk menghadapi Arya: mengerti. Bukan menuntut untuk dimengerti.”
Advertisement

Kata-kata itu terlalu tajam untuk telinga Saras. Terlalu menusuk. Blak-blakan. Menghujam tepat mengenai sasaran. Sebenarnya dia sudah tersinggung. Ingin lekas-lekas pergi dari tempat itu. Tapi....

“Jadi, aku harus bagaimana menurutmu?”

Windi tersenyum. “Sudah kubilang, aku bukan penemu solusi. Aku malah ingin bertanya. Besok kan malam Minggu. Apa rencanamu?”

Saras menggeleng. “Mungkin aku pulang.”

“Sayang, padahal aku ingin mengajak jalan-jalan.”

”Bagaimana kalau menginap di rumahku di Depok? Besok aku akan ke rumahmu du-lu, lalu kita pergi bareng ke rumahku.”

Saras tercengang-cengang ketika memasuki rumah Windi. Luas. Lebih me-nyerupai istana ketimbang rumah tinggal biasa. Tatapannya tertumbuk pada sebuah nama lengkap dengan gelarnya yang terukir di dekat pintu masuk. Tidak besar, namun mencolok. Leonard Setiadi. Seorang pengacara terkenal.

Rumah besar itu terasa besar karena kelengangannya. Hanya ada kemewahan yang sunyi. Tanpa riak kehidupan. Di tengah-tengah tampak sebuah kolam renang dengan air yang berkilauan tertimpa sinar matahari senja. Dikelilingi taman yang juga tidak kecil.

“Beginilah rumahku. Sepi.” Windi berkomentar pendek.

Seorang wanita pelayan mengantarkan dua gelas mi-numan dingin untuk mereka. Windi mengangsurkan yang segelas untuk Saras. ”Ibuku sedang di Hong Kong untuk urusan bisnis. Ayahku sedang bertemu klien. Kakakku, Albert, tinggal di Amerika.”

Mulut Saras membulat. Keluarga kecil. Hanya berempat. Tapi, tercerai-berai di mana-mana. Empat orang dalam satu keluarga yang hampir tak punya waktu bersua. Apa rasanya? Pantas rumah ini begitu sunyi. Rumah indah, tapi tak ada satu penghuni yang betah.

Windi berkemas-kemas, lalu mengajak Saras naik mobil, menuju rumahnya di Depok. Dalam hati Saras terus bertanya-tanya, apa kira-kira komentar Windi melihat keluarganya nanti? Siapa ayahnya, siapa ibunya. Masih maukah dia berteman dengannya nan­ti? Saras merasa tidak mampu menebak isi hati teman barunya ini. Dari luar kelihatannya dia memang baik dan ramah. Tapi, siapa yang tahu dalamnya?

Bahkan ketika mereka sudah sampai di rumah dan Windi telah berkenalan dengan ayah-ibunya, Saras masih terus mengawasi gerak-gerik gadis itu. Mencoba mencari-cari hal yang tidak berkenan dalam bahasa tubuhnya. Tapi, sampai pegal pun dia tidak menemukan. Yang dilihatnya malah pancaran senang. Saat diajak berkeliling melihat-lihat rumahnya. Foto-foto keluarganya. Bahkan, saat meladeni ayah-ibu Saras mengobrol.

“Rumahmu enak,” komentarnya, sebelum tidur malam itu. “Orang tuamu juga. Sangat ramah. Aku suka pada mereka. Terutama ibumu.”

Bukan hal aneh. Banyak yang senang bergaul dengan ibunya. Entah kenapa. Saras bukannya tak bangga. Dia senang karena yang dikagumi adalah ibunya sendiri. Justru karena itu kadang-kadang dia merasa iri. Karena sifatnya sama sekali tidak mirip Ibu. Saras sulit bergaul. Sulit mendapatkan teman. Sulit… ah, pokoknya banyak.
Sejak menginap di rumahnya, hubungan Saras dan Windi menjadi lebih akrab. Windi antusias sekali bila diajak Saras menginap di rumahnya. Dia selalu mengatakan apa yang sudah pernah dikatakannya berulang-ulang.

“Aku suka pada keluargamu. Keramahan ayahmu. Kelembutan ibumu. Ibumu baik dan manis.”

“Itu karena kamu belum terlalu mengenalnya. Asal tahu saja, Ibu orang yang amat protektif terhadap anak-anaknya,” kata Saras.

“Wajarlah, namanya juga ibu. Apalagi, anak-anaknya perempuan semua,” kata Windi.

“Tapi, aku ingin sesekali bebas dari kungkungannya. Aku kan bukan anak kecil lagi. Sekarang aku tanya, apa ibumu masih sempat menanyakan bagaimana keadaanmu. Sudah makan atau belum? Kadang-kadang ibuku malah menginspeksi tempat kosku. Ibumu tidak pernah begitu, ’kan?”

“Karena, mamaku orang sibuk. Dia tidak hanya berperan sebagai ibu dan istri, tetapi juga wanita karier.”

“Itu lebih enak, bukan? Sejak kecil kamu jadi terbiasa mandiri.”

Windi mengangkat kedua lengannya. “Kita tidak usah bahas ini lagi. Rumput tetangga memang selalu kelihatan lebih hijau, ’kan? Aku cuma mau katakan satu hal. Beruntunglah kamu memiliki keluarga yang seperti ini. Hargai saja itu.”



Penulis: Mya Ye



 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?