Karier bermusik gitaris Tohpati, yang akrab disapa Bontot, berawal saat kelas 5 SD. Ketika itu, kakaknya, Tohpati Ario Wibowo, sudah lebih dulu ikut kursus gitar dan sering berlatih di rumah. Saking seringnya melihat sang kakak memetik gitar, Bontot kecil mulai tertarik pada instrumen yang terbuat dari kayu itu. Ia pun meminta ibunya, Siti Werdhi Harini, mendaftar kursus gitar klasik di Yamaha Musik Indonesia (YMI), Jakarta.
Memang sudah bakat, tak perlu waktu lama bagi Bontot untuk bisa menguasai alat musik petik ini. Kursus gitar selama 3 tahun, ia langsung menorehkan beragam prestasi. Saat SMP, Bontot menyabet gelar Best Guitarist dalam Festival Band se-DKI Jakarta, dengan membawakan lagu rock milik Led Zeppelin, Black Dog.
Duduk di bangku SMA, Bontot mulai memperluas repertoire lagunya. Tak hanya terbatas pada musik rock, ia mulai mengenal musik jazz dan kerap membawakan lagu milik grup fusion asal Jepang, Casiopea. Jenis musik itulah yang belakangan ia anggap paling sesuai dengan karakter dirinya.
“Dari rock, saya belajar cara memainkan gitar dengan garang. Sedangkan di jazz, saya mendapatkan ruangan lebih bebas untuk berimprovisasi. Bagi saya, musik itu harus penuh warna. Dan, aliran jazz-lah yang paling banyak punya warna,” ungkap musikus yang juga ayah dari Adwitya Gita Tisti (13) ini.
Sukses menempa skill dengan menjuarai berbagai festival gitar, Bontot mulai masuk dapur rekaman. Rekaman pertamanya adalah album 10 Bintang Nusantara bersama KLA Project, Indonesia 6, dan Splash Band pada tahun 1987. Berlanjut dengan proyek lain sebagai session player, mengiringi penyanyi Utha Likumahua, arranger Didi AGP, hingga Chrisye pada awal tahun ’90-an.
Bisa mencapai tahap ini, Bontot mengaku hal itu tak lepas dari jasa music director andal seperti Aminoto Kosin, Yongky Suwarno, Dian HP, dan Erwin Gutawa. “Karena merekalah, saya bisa berekspansi. Dari anak band menjadi session player mengiringi penyanyi terkenal sekelas Utha dan Chrisye,” kenangnya. Bersama Chrisye, Bontot berkesempatan manggung di berbagai daerah di Indonesia, kawasan Asia Tenggara, hingga Australia.
Matang sebagai session player, Bontot mulai mencoba menciptakan lagu. Karya pertamanya, Ingin Kumiliki, yang ia buat untuk Ruth Sahanaya, meledak di pasaran. Sejak saat itu, gitaris yang gemar nonton film ini langsung kebanjiran pesanan menciptakan lagu. “Menulis lagu jadi tantangan baru saat itu. Saya harus mampu merangkai nada mentah jadi komposisi harmonis yang enak didengar. Dan, ketika lagu saya diapresiasi banyak orang, nikmatnya bukan main,” ungkap musikus yang juga ingin membuat music score film ini.
Dalam proses membuat lagu, Bontot mengaku selalu membuka diri terhadap segala jenis musik. Mulai dari pop, country, keroncong, sampai dangdut. “Bagi saya, tiap aliran ada plus minusnya. Saat bikin lagu, penting untuk menyeimbangkan pakem semua jenis musik,” ungkap Bontot, yang mengagumi pianis Herbie Hancock.
Untuk urusan ini, Bontot mengaku kerap meminta masukan dari sahabatnya sesama pemain gitar andal, Dewa Budjana. “Dari sekian banyak gitaris, saya memang paling cocok dengan Dewa, karena kami memiliki visi bermusik yang sama. Saat main bareng di panggung, saya dan dia sudah bisa saling membaca gaya masing-masing,” ungkap Bontot, yang dalam waktu dekat akan menelurkan album bersama sahabatnya itu.
Meski terbilang lancar mengerjakan komposisi musik, Bontot mengaku kesulitan saat harus menulis lirik. Makanya, ia pun sangat mengagumi Glenn Fredly, Andien, dan Katon Bagaskara yang menurutnya mampu menulis lirik dengan indah. “Waktu memproduseri album Gemintang untuk Andien, saya banyak belajar darinya bagaimana menulis lirik dengan baik,” kata Bontot, yang mengaku tak pernah segan belajar dari siapa pun, termasuk musikus yang lebih muda.
Terbuka terhadap segala jenis musik, rendah hati, dan mau mendengar masukan orang lain. Agaknya, sikap itulah yang membuat Bontot bisa tetap eksis di tengah persaingan ketat dunia musik tanah air. “Dalam berkarya, saya selalu melibatkan kejujuran agar bisa menjiwai musik yang saya mainkan. Musik itu sesuatu yang indah, jadi harus dibagi dengan cara yang indah pula,” ungkap Bontot, bijak.
Saat ini, kariernya sebagai musikus sudah terbilang lengkap. Namun, di balik beragam pencapaiannya, Bontot masih menyimpan keinginan terbesar, yaitu menggelar konser tunggal dan membuat album jazz internasional. “Inginnya, konser saya nanti dibikin dengan konsep yang beda dari kebanyakan. Saya juga ingin melibatkan musikus hebat di Indonesia, seperti Iwan Fals,” tutupnya, penuh harap.
RIZKA AZIZAH