Celebrity
Tidak Bicara Dosa

16 Oct 2014

Diterbitkannya PP No 16 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi pada Agustus lalu, segera menuai kontroversi. Penyebabnya adalah adanya pasal yang mengatur tentang aborsi khusus untuk wanita hamil akibat pemerkosaan dan kehamilan dengan darurat medis. Berbagai protes pun melayang ke Menteri Kesehatan, dr. Nafsiah Mboi, termasuk dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Banyak yang beranggapan, pasal ini akan memunculkan penyalahgunaan aborsi.

    Mengenakan atasan model kebaya biru cerah yang serasi dengan kain panjangnya, Menteri Kesehatan RI berusia 74 tahun ini menerima femina beberapa waktu lalu. Selama satu jam, Ibu Naf --panggilan akrabnya-- menjelaskan alasan di balik munculnya aturan mengenai aborsi, juga tentang keberaniannya untuk mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang menjadi kontroversi.

Tidak bisa dipungkiri, wacana tentang aborsi selalu mengundang kontroversi, antara pihak yang pro life (menolak) maupun pro choice (mendukung). Bukan hanya di Indonesia, hal demikian juga terjadi di berbagai negara.

Kalau boleh tahu, Anda pro choice atau pro life?
Dua-duanya. Saya menghormati  tiap kehidupan. Sama seperti saya anti hukuman mati, kecuali untuk pelaku kejahatan seksual yang berantai, saya ingin dia dihukum mati saja. Tapi, saya percaya bahwa seorang wanita harus boleh memutuskan, bahwa dia memiliki choice, karena dia yang paling kenal dirinya. Kita menghormati  tiap hidup, yes! Tetapi, kadang-kadang ada hal yang harus dipertimbangkan, dan dalam hal demikian saya percaya sepenuhnya kepada yang bersangkutan memutuskan untuk dirinya sendiri. Dan dalam rangka pro life, saya selalu mengatakan pencegahan… pencegahan. Jangan sampai ada satu bayi yang dikandung yang tidak dicintai orang tuanya.

Meskipun agama yang Anda anut melarang aborsi?
Saya pribadi tidak pernah akan melakukan tindakan aborsi. Tetapi, kalau seorang wanita datang kepada saya dan saya lihat dia membutuhkan, maka saya akan mengirimkan dia kepada orang yang bisa melakukan (aborsi) dengan benar dan bermutu. Mengapa? Karena saya bisa mengerti betapa menderitanya seorang wanita yang diperkosa. Bagi saya, soal dosa atau tidak dosa adalah urusan orang tersebut dengan Tuhan-nya. Saya tidak berhak mengatakan ini dosa atau itu tidak dosa.

Beberapa kebijakan Anda dianggap kontroversial, seperti pekan kondom. Mengapa Anda berani?
Saya membela yang benar. Tentang kondom misalnya, (kebijakan) itu berdasar evident base. Kondom itu hanya alat yang kalau dipakai dengan benar bisa menyelamatkan jiwa. Kalau antara suami-istri, yang satu sudah positif HIV/AIDS, kan harus pakai kondom biar tidak menular. Belum pernah ada dalam literature maupun dari pengalaman saya, kondom membuat orang menjadi amoral. Belum pernah ada orang yang ke tempat pelacuran karena ada kondom. Saya juga membela sesuatu karena saya percaya adalah hak  tiap orang untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Kalau untuk itu saya harus memberikan kondom, ya, akan saya lakukan.

Pernah capek  menghadapi kontroversi?
Enggak! Ha…ha…ha….

Apakah Anda memiliki teman berbagi?
Saya itu kalau marah, ya, saya perlihatkan marah, tapi setelah itu selesai.  Ringan saja. Kalau saya tidak setuju, saya katakan tidak setuju. Itu keuntungan saya. Makanya, saya sehat secara mental maupun sosial.

Advertisement
Tekanan kan  terkadang bisa kuat sekali, Anda tidak takut?
Mau demo boleh, tetapi yang jelas adalah hak  tiap orang untuk sehat.  Saya kira menteri kesehatan berkewajiban untuk membantu  tiap orang untuk promote, protect and fulfill human rights. Kalau tidak, artinya saya tidak melakukan pekerjaan saya sebagai pejabat negara.

Didemo itu biasa?
It’s ok. Tapi, biasanya saya memanggil pihak pendemo untuk menjelaskan.

Bagaimana cara Anda mengelola antara karier dan keluarga?
Tergantung fasenya. Waktu anak-anak masih kecil, saya fokus merawat anak, tetapi setelah suami (dr. Aloysius Benedictus Mboi- Red) menjadi Gubernur NTT (1978-1988), saya memilih mendampingi suami dan memasrahkan anak-anak dalam asuhan ibu saya di Jakarta.

Mengapa anak-anak tidak dibawa?

Begini,  tiap keputusan harus diambil secara sadar dan kita tahu dampaknya. Saat itu kami tidak ingin anak-anak menganggap punya rumah besar, punya mobil banyak, dilayani banyak orang itu adalah hal biasa. Kami ingin anak-anak tumbuh dalam kondisi normal. Apalagi, di Jakarta kami tinggal di kompleks angkatan darat yang lingkungannya sangat kekeluargaan dan tidak eksklusif. Karena keputusan itu, saat itu saya dimarahi oleh Presiden Soeharto, ha… ha… ha....

Kapan Anda mulai berkarier?

Setelah suami sudah tidak ada tanggung jawab kepada negara lagi, gantian saya. Asal kita sepakat, ya, sudah kita lakukan. Jangan ngomel. Tapi, kalau bertengkar, ya, boleh, ha… ha… ha…. Suami-istri yang enggak pernah bertengkar itu omong kosong.

Siapa sosok yang menginspirasi Anda?

Sebenarnya banyak. Paling awal adalah ibu saya. Ketika keluarga dari pihak ayah saya mengatakan, ‘Anak perempuan keluarga bangsawan (keluarga Nafsiah adalah bangsawan Bugis-Red) harus dipingit,’ ibu saya bilang, ‘tidak bisa’. Anak laki-laki dan perempuan harus belajar selama otaknya masih mampu. Saya beruntung memiliki ibu yang berpikiran luas karena beliau juga berpendidikan tinggi.

Pengalaman lain yang berkesan bersama ibu Anda?

Saya membuat perjanjian dengan Mami, bahwa saya tidak boleh dikawinkan sampai saya lulus jadi dokter. Di sisi lain, saya diminta Mami untuk tidak pacaran dan minta kawin sebelum lulus. Ya, saya pacaran, tapi Mami enggak tahu,  ‘kan? Ha… ha... ha….(Yoseptin Pratiwi, Faunda Liswijayanti)




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?