Menurut Adriana, perceraian itu berat secara psikologis, sosial, dan ekonomi. Jadi, jika ternyata lebih baik cerai, sebaiknya Anda pertimbangkan hal-hal berikut ini dulu.
- Kemapanan ekonomi. Mampukah kita menanggung biaya hidup anak tanpa suami?
- Lingkungan sosial Anda. Persiapkan diri Anda atas konsekuensi yang mungkin muncul, seperti stigma sosial. Siapkan juga faktor psikologis diri Anda, safety net, dan support system yang bisa membantu Anda menjaga anak jika nanti Anda harus bekerja.
- Mental dan lingkungan sosial anak. Sampaikan dengan hati-hati mengenai perceraian Anda dengan ayahnya. Jelaskan juga hal ini kepada guru-guru anak Anda, sehingga mereka bisa melindungi anak dari tekanan sosial yang mungkin muncul.
Setelah bercerai, berilah Anda waktu untuk move on. Jangan jadikan memulai hubungan baru dengan pria lain sebagai jalan pintas untuk move on. “Pasalnya, jika sedang dalam proses perceraian atau baru bercerai Anda sudah memulai hubungan baru, akan ada masalah yang dibawa ke hubungan baru. Apalagi, jika Anda cenderung tertarik pada tipe-tipe pria yang mirip. Takutnya, ketertarikan Anda pada pria baru tersebut hanyalah hormonal dan emosional, bukan ketertarikan logis,” ungkapnya.
Jadi sebaiknya, ada masa melajang dulu, minimal 6 bulan. Di masa itu, fokuslah pada anak Anda dan lakukanlah refleksi ke belakang, kenapa ini terjadi dan apa yang harus diperbaiki dari diri sendiri. “Anak Anda juga perlu istirahat dari drama hubungan orang tuanya. Demikian juga dengan Anda, Anda perlu membangun ikatan ibu dan anak yang lebih baik, serta membangun relasi yang baik dengan mantan suami,” papar Adriana. (f)