Fiction
The Second Chance Show [8]

4 Jul 2011

<< cerita sebelumnya

”Tetapi, kau tidak bisa mengubah cara berpikirku dan caraku memandang dunia,” ucap Aldi, disambung tatapan heran dari Rachel. ”Aku mendambakan wanita yang bisa melunakkan keras hatiku dan membuka pikiranku akan hal baru. Aku sadar aku sombong dan menyebalkan. Tetapi, dimanja olehmu membuatku merasa selalu dimaafkan dan terus mengulangi perbuatan yang sama. Aku perlu wanita yang bisa mengubah cara berpikirku terhadap dunia dan tegas padaku. Maafkan aku, Rachel.”

Rachel menarik napas perlahan. Matanya berkaca. ”Aku mencintaimu apa adanya. Rela berdampingan denganmu dengan segala kekuranganmu. Kupikir, dengan memahamimu bisa membuatku pantas jadi pasanganmu. Aku sudah berusaha menerimamu apa adanya dengan segala kekecewaan yang kuterima darimu. Tetapi, kau masih saja tidak bisa memahami pengorbananku. Kuharap kau dapat yang lebih baik dariku,” ucap Rachel, lalu keluar hall sambil tersedu.

Margi, Toni, dan para kru hanya terdiam.

Aldi mengembuskan napas dengan keras. Ternyata, Rachel memang mencintainya, tetapi cinta tidak bisa dipaksa. Aldi tidak bisa mencintainya, meskipun diberi kesempatan kedua.

”Kau siap untuk Nia?” tanya Toni.

”Siap,” ucap Aldi tegas.

Nia masuk dengan mengenakan gaun kehijauan yang sangat anggun. Makin hari Nia terlihat makin cantik saja. Wajahnya dibingkai make up sempurna dan model rambut yang membuatnya tampak dewasa.

”Nia,” ucap Aldi perlahan.

”Dulu aku hanya mengenalmu sebentar di tengah kekalutan pikiranku. Aku lari dari kenyataan dan mencari tempat bersembunyi. Kau sudah menemaniku saat itu. Aku menyesal tidak mengenalmu lebih dekat saat ini,” ucap Aldi.

Nia tersenyum sambil berkaca-kaca.

”Makin mengenalmu, aku makin merasa ingin terus bersamamu. Aku tahu kau sangat baik dan sederhana. Kuharap, kau kelak bisa mengimbangiku dan membimbingku untuk berperilaku lebih baik pada orang lain. Apakah kau mau menerimaku kembali dan memberiku kesempatan kedua?” tanya Aldi.

Nia tersenyum.

Toni memberi kode pada Bryan. Bryan segera membawa kotak mendekati Aldi dan Nia. Bryan membuka kotak itu, ada sebuah cincin dan selembar cek bertuliskan Rp500 juta. ”Aldi sudah menentukan pilihannya padamu, Nia. Pilihan yang sulit untuk menentukan antara kau dan Rachel. Kini giliranmu. Mendapatkan cinta sejati dari seorang idola atau mendapatkan uang Rp500 juta?” tanya Bryan.
Nia tersenyum sambil menatap wajah tampan Aldi. Wajah pria yang dikenalnya bertahun-tahun lalu, kini telah dewasa dan menawan. Nia berpikir, inikah yang dirasakan Rachel, godaan untuk memiliki kembali sang idola menggelitik hatinya.

”Aku memilih uang Rp 500 juta,” ucap Nia, tegas.

Seluruh orang di ruang itu tersentak kaget!

”Aku lebih membutuhkan uang daripada Aldi,” lanjutnya.

Aldi memandang Nia tidak percaya. ”Kau... bercanda?”

”Tidak! Aku serius! Amat serius!”

”Tapi, kupikir... selama ini kaulah yang paling tulus daripada mereka.”

”Maksudmu apa? Itu hanya strategi! Kau pikir, aku jalan malam-malam hanya untuk melihat bintang. Kau pikir, dong, niat sekali aku tiap malam lihat bintang. Aku hanya ingin dapat momen darimu. Aku hanya memberi kesan baik padamu. Inilah reality show, Al. Inilah pertunjukan yang sebenarnya! Aku selama ini hanya akting!” ucap Nia.
Aldi menatap Nia tanpa berkedip.

”Harusnya kau mendengarkan peringatan Rachel. Dia amat perhatian padamu dan tahu pertanda buruk tentang diriku!”

Aldi berusaha menahan amarahnya. Toni segera memberikan isyarat untuk break iklan.

”Nia! Apa-apaan kau?! Ini siaran langsung! Kau mempermalukan aku!” umpat Aldi. Tapi, Nia tersenyum cuek.

”Aku tidak butuh marahmu. Aku akan pergi dengan uang Rp500 jutaku. Dan selamat tinggal sang idola yang hancur,” ucap Nia, seraya berlalu menuju kamarnya. Aldi tidak terima, dia mengejar Nia.

”Apa salahku padamu?” tanya Aldi ”Teganya kau berbuat ini padaku. Kalau kau menolakku, kau bisa melakukannya setelah acara ini selesai!”

Nia menghentikan langkahnya. ”Aku tidak tahu kalau kau menganggap ini terlalu serius.”

”Kau licik, Nia!” umpat Aldi.

”Ini pelajaran untukmu. Kau meninggalkanku begitu saja. Bagaimana? Sekarang giliranmu kutinggalkan. Enak rasanya?” tanya Nia.

”Ini beda, Nia!” bantah Aldi.

Advertisement
”Sama! Apa yang kurasa dulu sama seperti yang kau rasa kini. Kau meninggalkanku begitu saja. Lalu, kau jadi artis tenar. Aku sering berusaha menemuimu, tapi kau menganggapku seperti penggemarmu yang lain.”

”Ta... tapi, Nia, aku kan saat itu... aku betul-betul tidak ingat kamu...,” ucap Aldi.

”Kenapa kau sama sekali tidak ingat?” tanya Nia. ”Padahal, dulu setiap hari kau memberikan puisi untukku. Setiap hari kita juga melihat bintang.”

”Aku tidak tahu, aku memang tidak ingat!”

”Itu karena kau tidak menghargai orang-orang yang telah hadir dalam hidupmu. Kau sombong! Kau meremehkan semua orang. Ucapan manismu padaku hanya buih saja yang begitu mudah kau lupakan. Kau sama sekali tidak memikirkan perasaanku.”

Percuma semua tim produksi membujuk Nia untuk mem¬buat episode khusus untuk memperbaiki citra Aldi. Awalnya, berbagai komentar tentang acara ini ramai mengisi berbagai media. Namun, dengan berlalunya waktu, mereda ditimpa berita selebritas lain yang lebih up to date.

Aldi mendekam dalam kesedihan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Terhina, kecewa, dan merasa malu. Aldi duduk di sudut kamarnya. Wajahnya pucat. Akhir-akhir ini, Aldi tidak bisa tidur. Perlahan digerakkan tangannya menyentuh pipinya. Air mata.... Ternyata aku punya air mata, ucap Aldi dalam hati.

Terdengar sayup-sayup percakapan Margi dan Toni dari balik pintu. Margi dan Toni sedang ada di ruang tengah.

”Sebenarnya Nia itu siapa?” tanya Margi.

”Entahlah. Saat aku sedang mewawancarai para mantan kekasih Aldi, tiba-tiba dia datang dan langsung bersedia ikut acara. Kupikir, kenapa tidak.”

”Kok, dia bisa begitu tega pada Aldi?” tanya Margi lagi.

”Kupikir, dialah yang paling mencintai Aldi. Dia ingin Aldi berubah, bagaimanapun caranya, meskipun harus dibayar dengan kebencian Aldi pada dirinya.”

”Tetapi, Aldi sampai seperti itu. Kupikir, ini terlalu kejam.”

”Aldi akan bangkit, setiap orang yang ada pada titik rendah akan muncul kembali dengan pribadi yang lebih matang. Aku tahu tentang artis-artis yang jatuh bangun karena berbagai masalah, tetapi tetap eksis. Setiap orang punya kesempatan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Aldi hanya butuh waktu untuk membangun dirinya sendiri.”

”Kuharap kau benar. Seharusnya, kalau Nia ingin mengubah sifat Aldi, dia tidak perlu membuat Aldi seperti itu,” ucap Margi.

”Entahlah, tampaknya Nia ingin proses pembelajaran bagi Aldi secara instan. Sepertinya dia diburu waktu.”

”Aku mau ibumu,” ucap Aldi kecil.

”Tapi, dia ibuku. Dia satu-satunya yang kupunya,” ujar Nia kecil.

”Kalau kita menikah, ibumu jadi ibuku, ’kan?” tanya Aldi kecil.

”Kau janji?”

”Janji.”

”Kau tahu,” ujar Nia kecil. ”Jika seluruh waktuku sudah habis, dan Tuhan hanya menyisakanku satu permohonan, aku hanya ingin....”

”Ingin apa?” tanya Aldi kecil.

”Ingin kau tetap mengenangku.”

Nia membuka matanya, kenangan itu hadir dalam mimpi.

”Nona Nia?”

”Ya.”

”Ayo, bersiap untuk operasi,” ucap seorang perawat.

Nia memegangi kepalanya. Lalu, menatap perawat itu. ”Suster... kalau terjadi apa-apa denganku, tolong kirimkan surat ini. Ini untuk ibuku di desa,” ucap Nia, sambil memberikan sepucuk surat pada perawat.

”Nona Nia...,” ucapnya sedih.

”Sudahlah, aku terima apa pun risiko operasinya nanti. Aku tidak menyesal akan hidup ini, karena aku telah bertemu kembali orang yang kucintai,” ucap Nia sambil tersenyum. (tamat)

Penulis: Yenny Renati
Pemenang Penghargaan Sayembara Menulis Cerber femina 2008



 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?