Aldi ternyum tipis. Ini mudah. Rachel, jelas sekali dia masih amat mencintainya. Saat berpacaran, berkali-kali disakiti pun, dia selalu memaafkan. Nia, tampaknya dia wanita sederhana. Dia luwes dan baik. Tidak mungkin dia tega mempermalukan Aldi di depan jutaan penonton televisi.
”Oke, sekarang kita take untuk testimoni,” ucap seorang kru.
Rachel: Aku senang ada di sini bahkan bertahan sampai dua besar. Aku sudah berpacaran selama 4 tahun dengan Aldi. Aku sudah sangat mengenalnya. Aku tidak suka dibohongi teman sendiri. Kuakui, aku bersiasat selama ini agar bertahan. Tetapi, aku fair, tidak manis di luar tapi menusuk temannya sendiri dari belakang.
Aldi: Rachel itu wanita yang percaya diri dan menawan. Dia memiliki banyak bakat. Dia sangat mengenalku. Kami sempat berpacaran cukup lama. Sempat terpikir apakah dia sungguh wanita yang paling tepat untukku. Kemungkinannya cukup besar. Selama ini dia sangat pengertian padaku.
Nia: Aku tidak percaya bisa sampai ke babak akhir. Apalagi, peserta yang lain cantik-cantik. Dulu kami tidak memiliki banyak kenangan. Kini, setelah lama bepisah dan saling melupakan, justru kami makin saling mengenal. Aku berharap, siapa pun yang dipilih Aldi adalah yang paling tepat untuknya.
Aldi: Nia itu wanita yang pernah kulupakan. Dia amat misterius. Aku selalu penasaran dibuatnya. Dia santai dan sederhana. Aku menyesal kenapa dulu tidak sempat mengenal dirinya seperti sekarang. Aku sempat melupakannya, tetapi kini aku merasa dia sangat nyaman dan perasaanku lebih lepas jika bersamanya.
Hari ini, Rachel dan Aldi pergi memancing dengan perahu.
”Lihat, tangkapanku lebih besar daripada punyamu,” seru Ra¬chel, yang saat itu tampak santai dan segar dengan tank top dan celana jins pendek.
”Tetap saja nanti dibagi dua hasilnya!” sahut Aldi. ”Kita menepi dulu, kita tukar ikannya dengan mutiara.”
”Apa? Mutiara?” tanya Rachel.
”Ya, mutiara air tawar, sih. Jadi, harganya tidak mahal dan masih bisa ditukar dengan ikan,” terang Aldi.
Di pasar nelayan, ada beberapa penjual mutiara yang menjual mutiara mereka yang masih kotor tetapi sangat murah, bahkan bisa ditukar dengan ikan.
”Kalau yang bentuknya agak gepeng dan ada garisnya ini,” ucap Aldi merangkan, ”inilah mutiara air tawar.”
Rachel mengangguk-angguk.
”Kalau mutiara asli biasanya bulatnya lebih sempurna dan lebih halus,” terang Aldi, sambil menggigit sebutir mutiara. Rachel memandang heran. ”Mutiara yang asli kalau digigit seperti berpasir.”
Rachel lalu mengambil sebutir mutiara dan menggigitnya, ”Iya, agak seperti berpasir.”
”Ini untukmu,” Aldi memberikan sekantong kecil mutiara untuk Rachel. Lalu, mengantongi sekantong lagi.
”Itu untuk siapa?” tanya Rachel, iseng.
”Buat Nia.”
Rachel langsung terdiam. ”Kau... menyukainya?” tanyanya.
”Dia baik, menyenangkan dan asyik,” jawab Aldi.
”Dia tidak sebaik dugaanmu. Kau pikir untuk apa dia ikut acara ini? Aku curiga dia punya rencana sendiri,” balas Rachel.
Aldi tersenyum. ”Aku maklum, kau bilang begitu karena dia sainganmu.”
”Aku serius! Aku punya feeling buruk tentang dia,” Rachel membela diri.
Aldi hanya tersenyum. Namanya juga persaingan, pasti berusaha saling memengaruhi. Tetapi, Aldi tidak menyalahkan Rachel yang bicara begitu. Setiap orang pasti ingin menang, ’kan?
Hari berikutnya, Aldi berkencan dengan Nia. Aldi mengajak Nia mengendarai speedboat. Nia yang tidak mahir berenang menjadi pucat pasi.
”Kau yakin sudah tidak mau coba lagi, Nia?” tanya Aldi.
”Aduh, tanganku seperti mau remuk. Ternyata, main speedboat melelahkan juga, ya,” ucap Nia, sambil berbaring di pinggir pantai yang berpasir kecokelatan.
Aldi ikut berbaring di sebelah Nia. Menatap langit yang tidak terlalu cerah saat itu. ”Sepertinya agak mendung. Apa nanti malam ada bintang, ya?” tanya Aldi.
”Hanya sedikit. Mungkin dini hari nanti baru terlihat banyak bintang di langit,” jawab Nia.
”Kau suka bintang, ya? Aku lahir awal November, coba tebak bintangku apa?” tanya Aldi.
”Apa?”
”Orphiucus. Itu zodiak ke-13,” ucap Nia.
”Memangnya ada?” tanya Aldi.
”Ah, kau sibuk syuting terus, ya? Nggak lihat-lihat berita di internet, sih,” sindir Nia.
”Orphiucus itu sebenarnya sudah ada sejak dulu. Tetapi, untuk menyesuaikan zodiak dengan penanggalan Masehi dan berbagai kepercayaan negatif tentang angka 13, Orphiucus pun dihilangkan,” terang Nia.
”Aku baru tahu. Lambang opus itu apa?”
”Orphiucus! Bukan opus! Lambangnya ular kobra.”
Aldi hanya mengerutkan dahinya.
”Eh, ada kerang,” seru Nia, seraya bangkit dari tidurnya. Nia mengambil kerang yang agak besar, lalu menempelkan kerang itu ke telinganya.
Aldi kembali mengerutkan dahinya.
”Dengar...,” ucap Nia perlahan. ”Konon, kalau kau bisa mendengar suara dalam kerang, berarti kau telah mendengarkan suara dunia. Karena, kerang ini sudah berkeliling dunia.”
”Sini aku coba dengar,” ucap Aldi, sambil menempelkan kerang itu ke telinganya. ”Nggak ada suara apa-apa, tuh!”
”Kubawa pulang saja, siapa tahu Rachel bisa dengar.”
Aldi terdiam. ”Kau saat begini masih saja memikirkan sainganmu.”
”Dia temanku, dia anak yang baik,” ucap Nia.
Aldi tersenyum. Nia benar-benar wanita yang polos. Seharusnya dulu dia mengenal Nia seperti ini. Yakin, deh, Aldi tidak akan mencari wanita-wanita lain untuk mengisi hidupnya.
Polling sampai sore ini, Nia dan Rachel masih bersaing amat ketat. Mereka bergantian menduduki posisi teratas, ujar Toni.
”Aku tidak akan terpengaruh pada polling,” ucap Aldi, sambil bersandar pada kursi malas yang digoyangkannya.
Margi menatap Aldi. ”Memangnya ada apa?”
”Aku akan memilih sesuai hati nuraniku,” ucap Aldi.
”Al, ini hanya drama. Kau, kok, jadi serius begini?” tanya Toni.
”Aku sudah bosan berganti pacar terus, Ton. Aku ingin yang pasti. Mungkin cara menemukannya aneh, yaitu melalui acara konyolmu ini. Tetapi, aku rela, kok, dibilang bodoh atau melankolis, asalkan aku menemukan wanita yang tepat untukku,” ucap Aldi.
Margi dan Toni memandangi Aldi dengan seksama. ”Al,” Toni kembali buka suara, ”saranku... jangan mengikuti perasaanmu dalam hal ini. Kau harus profesional. Mungkin kau terlalu dalam memahami peranmu, jadi kau terbawa alur cerita ini secara berlebihan.”
Aldi memandang Toni tajam. ”Aku sudah menentukan pilihan.” Lalu, beralih pada Margi, ”Menurutmu, siapa pun pilihanku, apakah akan berefek buruk pada karier dan citraku di masa mendatang?”
”Tidak,” jawab Margi. ”Kedua wanita ini bisa memberimu image positif, karena keduanya bersih dari gosip dan tidak pernah terlibat berita yang tidak mengenakkan.”
”Sekarang, akulah dalang dalam acaraku sendiri,” ucap Aldi pada Toni.
Toni menatap balik Aldi. ”Kuharap kau beruntung!”
”Selamat malam, Indonesia, semua perhatian tersedot dalam acara final ini. Selamat menyaksikan siaran langsung yang akan menentukan hidup para wanita ini. Rachel dan Rahmania. Siapakah yang akan menjadi Cinderella malam ini? Meraih hati sang idola dan menghancur hati jutaan wanita lain. Kita lihat pilihan sang idola.”
Rachel menghampiri Aldi yang tampak menawan dengan setelan jas hitam. Aldi berdiri di tengah hall dengan gagah. Rachel melenggang dengan gaun merah dan tampil dengan dandanan sempurna.
”Rachel, kau adalah kekasihku yang paling sabar menghadapi kelakuanku,” ucap Aldi. Rachel tersenyum malu. ”Kau lembut hati, tetapi tidak cengeng. Cintamu padaku tidak diragukan lagi.”
Rachel memandang wajah Aldi yang dicintainya dengan penuh harap.
Penulis: Yenny Renati
Pemenang Penghargaan Sayembara Menulis Cerber femina 2008