Travel
The Rose City of Marrakesh

27 Dec 2013


Di antara gulungan-gulungan baju, saya, Dina, menemukan dua kantong kain kecil berisi bongkahan-bongkahan rapuh  warna cokelat. Seketika aroma mawar Maroko atau Marrakesh yang manis lembut menerpa indra penciuman, mengantar saya pada kenangan indah saat menjelajah kota tua Maroko, hanya berdua dengan belahan hati saya, Ryan. Di antara pasarnya yang penuh warna dan rasa, serta lorong-lorongnya yang berliku-liku membingungkan, saya menemukan romantisisme tersembunyi.



Menerbangkan Mimpi di Riad
Kota Maroko sudah ada sejak abad ke-11. Dinding panjang dibangun di sekeliling kota seolah melindunginya dari dunia luar. Seiring dengan berjalannya waktu, Marrakesh terus berkembang. Lahan di dalam perlindungan dinding kota saja menjadi tak cukup. Kota pun meluas. Namun, dinding tak diruntuhkan, menjelma menjadi kota modern yang tumbuh di sekitarnya. Bagian kota yang tersembunyi di balik dinding kota kuno ini kini disebut medina, yang berarti kota.

Marrakesh bukan satu-satunya kota di Afrika Utara yang memiliki distrik medina seperti ini. Namun, medina Marrakesh sangat terkenal sebagai kota yang sejarah tradisi abad pertengahannya masih bertahan hingga kini.

Dari dalam taksi, saya dan Ryan berpegangan tangan,  memandang dinding medina yang menjulang tinggi dan panjang. Kami datang ke sini untuk mencari romansa abad pertengahan, kembali ke ratusan tahun silam, ke zaman yang menjadi setting kisah-kisah seribu satu malam.

Kami memasuki dinding medina dari gerbang samping. Hari sudah mendekati tengah malam, namun masih banyak orang berlalu-lalang. Pemandangan penduduk kota berpakaian tradisional menaiki gerobak yang ditarik keledai, di bawah siraman lampu kekuningan, seolah membawa kami ke masa lalu. Taksi bergerak perlahan, berusaha keras tidak menabrak orang maupun gerobak, menelusuri lorong-lorong sempit, berliku, dan bercabang tak teratur. Sebagian besar terlalu sempit untuk dilewati dua mobil kecil. Jika mobil berpapasan dari arah berlawanan, salah satu harus mundur mengalah. Ini pun tidak gampang karena banyaknya orang, sepeda, dan gerobak yang lalu-lalang.

Kota ini bagaikan sebuah labirin raksasa berdinding merah muda yang seragam, tak berfitur, dan tak berjendela. Hanya berpintu kecil di depan. Rasanya tak percaya saat sopir taksi mengatakan kami sudah sampai di riad, tempat kami akan bermalam. Di depan mata hanya tampak daun pintu kecil dengan papan nama nyaris tak kentara di sampingnya. Bukankah riad seharusnya mewah?

Riad adalah rumah tradisional Maroko, atau istana, yang memiliki pelataran atau taman di tengahnya, dengan ruangan-ruangan di sekelilingnya. Di sini para wanita muslim dapat menikmati kehidupan yang tersembunyi dari dunia luar. Banyak riad di medina Marrakesh yang kini dipugar menjadi penginapan. Dari luar, riad tak tampak berbeda dari rumah-rumah di kota tua lainnya yang sangat sederhana.

Keraguan tepercik di benak saat akan mengetuk pintu. Seorang wanita berkerudung menyambut ramah. Kami dibawa masuk melalui ruangan gelap hingga tiba di pelataran di tengah riad. Kami pun terkesima. Pelataran berbentuk persegi itu berlantai ubin dengan motif geometris, di pusatnya terdapat air mancur dengan tebaran kelopak-kelopak mawar di permukaannya. Di sana-sini terdapat pohon jeruk. Tidak tampak gersang seperti di luar. Di keempat sisinya terdapat bangunan bertingkat empat, untuk kamar-kamar. Semua lantainya memiliki balkon menghadap ke pelataran ini.

Pelataran didekor ala film Aladdin. Permadani berwarna-warni, lampu meja kuning dengan lekuk-lekuk menawan.  Sepanjang dinding pelataran yang menghadap taman disediakan sofa. Di sini kami menikmati teh daun mint yang dituang dari teko antik dan kue-kue kecil bertaburkan kelopak-kelopak mawar.

Mawar Maroko memiliki harum yang manis, lembut, memabukkan. Membawa rasa romantis bercampur mistis dan ganjil yang sulit dijelaskan. Aroma mawar ini menjadi aroma sabun cair dan sampo di riad ini. Mereka meracik sendiri sabun dan sampo dengan parfum mawar. Wangi yang membuat saya memejamkan mata saat menghirupnya dalam-dalam, wangi yang melekat di badan selama hari-hari kami di sana. Dekorasi serupa juga menghias kamar tidurnya. Kami pun terbawa ke mimpi-mimpi Seribu Satu Malam.




Menjelajah Labirin
Walaupun para turis berdatangan ke medina Marrakesh dari segala penjuru dunia, penduduk kota ini masih hidup secara tradisional, terutama di lorong-lorongnya yang jauh dari pusat kota yang ramai akan turis. Banyak penduduk setempat masih mengenakan jubah panjang bertopi lancip yang disebut djellaba, juga balra, selop kulit berujung lancip. Di jalan-jalannya yang lebih luas, kuda, keledai, dan bagal penarik gerobak barang dagangan banyak terlihat.
    Menjelajah lorong-lorong labirin di Maroko tanpa peta merupakan keasyikan tersendiri. Dengan peta, lorong-lorong tak beraturan dan dinding-dinding merah muda tak berfitur ini sudah membingungkan, apalagi tanpa peta. Namun, di situlah letak keasyikannya. Terkadang jalanan berubah menjadi gang sempit, berliku menjadi lebih sempit lagi, tiba-tiba gang sempit ini beratapkan rumah orang, kemudian beratap langit lagi, dan tak jarang kami tak sengaja berakhir di pelataran rumah orang. Bersama di tempat baru yang asing justru mendekatkan kami. Mengikuti intuisi, kami menikmati blusukan ke sana kemari. Tersesat jadi ‘bumbu’ perjalanan. Ya, perjalanan melatih kami belajar  kompromi.
         Kami berjalan ke mana kami suka. Kami tak peduli lagi di mana tepatnya kami berada. Di mana kami penasaran, ke situ kami melangkah. Saat wangi ajaib tercium, ke situ kami menuju. Di mana kami mendengar keramaian, ke situ kami mengintip. Saat kami melihat warna-warna indah dan bentuk-bentuk asing, ke situ kami beranjak.
    Tanpa sadar kami memasuki daerah souq, pasar tradisional bangsa Berber. Souq Berber Marrakesh adalah yang terbesar di Maroko, ramainya luar biasa. Permadani berwarna-warni cerah digantungkan dari langit-langit toko hingga ke lantai di antara lorong-lorong pasar yang sempit. Meriah!
    Tumpukan lentera hias yang terbuat dari aneka logam dan mozaik kaca aneka warna memabukkan mata. Sinar yang memancar dan terpantul tampak remang berkelap-kelip indah, membuat kami merasa seperti berada di dalam gua harta karun Alibaba yang bergelimangan emas dan batu permata. Makin jauh ke dalam pasar, giliran ratusan desain dan warna balra yang dipajang dari langit-langit hingga ke lantai. Lalu, kain kerudung, kaftan, djellaba, dan pakaian khas Berber Arab lainnya dalam warna-warni meriah dan desain indah.
    Tak sadar kaki melangkah ke dalam sebuah toko kain. Selagi mengagumi warna-warna indah di dinding, lelaki penjaga toko dengan sigap melingkarkan sehelai kain panjang ke badan saya. Dalam sekejap kain tersebut menjelma menjadi pakaian lengkap: celana baggy hingga kerudung bercadar. Kami tergelak. Saya tampak seperti wanita misterius dari dongeng Arab kuno. Ataukah lebih tampak seperti seorang bandit siap beraksi?
Advertisement
    Di lorong yang lain toko rempah sangat menggoda indra penglihatan dan penciuman. Berbagai rempah berwarna kuning, jingga, dan merah, ditata rapi menjadi kerucut-kerucut raksasa. Bau rempah yang kuat memenuhi rongga hidung kami. Toko buah zaitun juga tak kalah cantiknya. Buah  kehijauan atau kecokelatan diatur dalam kerucut-kerucut raksasa di bagian depan toko. Di sepanjang dinding toko, stoples-stoples berisi zaitun berjajar dengan rapi menunggu dibeli.
    Kami menemukan toko sabun tradisional. Uniknya, sabun buatan tangan itu tak dibungkus dalam kemasan, melainkan diciduk langsung dari wadah-wadah raksasa sesuai dengan permintaan sang pembeli. 
    Sebuah toko  dengan stoples-stoples aneka rupa di seluruh permukaan dindingnya menarik perhatian kami. Ada serbuk halus dan serbuk kasar  aneka warna, berbagai kristal, hingga bagian-bagian tumbuhan. Ternyata, ini adalah sebuah toko obat tradisional. Dengan sabar penjaga toko menjelaskan dagangannya. Ia memberi kami sekantong kecil serbuk hitam untuk mengatasi dengkuran.  Ini cocok untuk Ryan.
    Tiba-tiba indra penciuman saya tergelitik. Bau harum itu yang memenuhi rongga kepala kami tadi malam. Ya, bau mawar Maroko yang ada di riad kami! Mengikuti bau harum itu, kami sampai ke tumpukan bongkahan serupa lilin padat berwarna kecokelatan. Saya membeli beberapa bongkah. Parfum padat mawar Maroko. Aroma ganjil yang sensual. Aroma yang  tiap kali saya menciumnya, tak sadar membuat mata terpejam dan bibir tersenyum, seraya pikiran melayang ke ingatan-ingatan indah. Juga kenangan-kenangan indah pada kota tua ini. Aroma favorit kami hingga kini.
    Saat tiba-tiba hujan lebat turun, kami menunggu di sebuah toko barang antik. Banyak barang antik dari besi berat berukir unik di sini. Lentera kuno, kotak surat kuno, teko dan cangkir kuno, pisau kuno, berbagai piring dan mangkuk saji raksasa kuno, gagang pintu kuno, kunci gembok kuno, peti-peti kuno, hingga lampu minyak kuno seperti di kisah Aladdin pun ada!



Berbagi Tawa dan Rasa di Jemaa el Fna

Puas menjelajah souq, kami beranjak ke pelataran Jemaa el Fna. Alun-alun raksasa ini sudah menjadi pusat kesibukan masyarakat Maroko dan para pendatangnya sejak berabad-abad silam, dan tak banyak berubah hingga kini. Jemaa el Fna yang terasa kosong dan sepi di siang hari berubah menjadi lautan manusia saat malam menjelang. Di sana-sini tampak parade kecil keluarga. Anak-anak kecil berpakaian indah diusung oleh beberapa orang pria, sementara anggota keluarga lainnya menari-nari. Penunggang unta berpakaian tradisional dan kereta kuda ikut memeriahkan suasana.

Beberapa wanita yang menawarkan tato henna berebut menarik perhatian saya. Masing-masing membisikkan harga mereka ke telinga saya. Setelah proses tawar-menawar dan melihat contoh-contoh desain henna yang mereka buat, saya mengiyakan ibu yang pertama mendekati. Dengan cermat dan luwes ia melukis sulur-sulur daun dan bunga ke punggung tangan saya. Kini saya tak bisa sembarangan bergerak untuk beberapa jam, agar tinta padat tebal yang masih basah ini tidak terhapus dari tangan sebelum mengering dengan baik.

Kami berjalan ke arah menara Masjid Koutobia yang menjulang anggun. Sekelompok bocah berbaju biru mengilap menari-nari. Ada juga pertunjukan akrobat monyet. Di salah satu sisi alun-alun, ada panggung nyanyian dan tarian tradisional yang sangat ramai ditonton warga. Di sana-sini terdapat kelompok-kelompok kecil melingkar. Yang paling depan duduk di bawah, yang belakang berdiri agar bisa melihat. Kami mengintip dari balik kerumunan. Di tengah, terdapat seorang pria yang menjadi pusat perhatian. Dia sedang mendongeng, menceritakan kisah-kisah kuno kepada para penontonnya. Di lingkaran lain, orang-orang yang berkerumun tertawa terbahak-bahak. Rupanya sang pendongeng sedang menceritakan kisah lucu.

Penjaja donat menarik tangan saya, berbisik, “Untuk wanita cantik,” dan meletakkan sebuah donat kecil yang telah dingin ke tangan. Saya tersanjung dan senyum-senyum. “Tawar dulu,” bisik Ryan. “Masa, sih, sepertinya gratis,” bisik saya lugu. Namun Ryan benar, begitu donat keras ini tergigit, si penjaja meminta harga tinggi yang tak masuk akal. Dengan senyum manis, saya mengulurkan receh yang pantas, kemudian melipir pergi sambil tertawa-tawa dengan Ryan. Pelajaran untuk tak mudah tersanjung oleh kata-kata manis.

Namun, hanya beberapa menit kemudian, peristiwa terulang. Giliran Ryan yang mendapat perhatian. Hanya, kali ini bukan donat keras, melainkan ular kobra, yang dikalungkan ke lehernya tanpa permisi. Awalnya kami teguh menolak dan meminta mereka untuk menurunkannya, tapi mereka ramah dan baik. Mereka bilang, “Murah, kok, enggak mahal. Seikhlasnya saja. Difoto dulu saja.” Tapi, saat saya selesai memotret Ryan, mereka memaksa kami untuk membayar beberapa puluh euro! Kami pun terkejut, mahal sekali!

Proses tawar-menawar berlangsung dengan menegangkan bagi Ryan, karena ular kobra sedang meliuk-liuk di lehernya, sambil menatap wajahnya, seolah siap mematuk. Sepertinya pawang ular sengaja tak menurunkan sang kobra dari leher Ryan agar kami takut dan rela membayar semahal apa pun agar ular diturunkan. Akhirnya segenggam uang receh yang kami kira pantas, berpindah tangan. Kobra mereka turunkan sambil mengomel. Kami meninggalkan para pawang dengan tegang. Setelah agak jauh dari mereka, tawa kami pun meledak. Donat keras dan ular kobra!

Kami melewati kedai-kedai jeruk peras segar. Segera kami membelinya untuk menghilangkan dahaga, minyak donat di kerongkongan, dan ketegangan akibat kobra. Murah meriah, kami meminum beberapa gelas hingga puas.

Kedai siput rebus menarik perhatian kami. Tampaknya ini adalah makanan ringan favorit warga lokal. Kami memesan semangkuk kecil, dan menikmatinya panas-panas. Favorit warga yang lain adalah kepala domba. Menemukan warung yang menyajikannya tak sulit, cari saja tumpukan kepala domba di meja. Warung-warung tersebut sepi turis, namun ramai oleh warga lokal.

Untuk makan malam, kami memilih aneka brochette, sejenis sate namun jauh lebih besar, dan sepiring kuskus. Lezat. Supaya bisa menikmati banyak jenis makanan, kami sengaja tak membeli hidangan besar, namun porsi-porsi kecil yang banyak. Tapi, sepertinya warung sebelah lebih ramai. Tak ada meja yang kosong. Itu pun masih banyak orang mengantre. Pasti enak sekali, pikir kami. Dan kami pun ikut mengincar kursi orang yang hampir selesai makan. Kami tak kecewa, sosisnya, hidangan utama di kedai ini, memang sangat gurih dan lezat!

Malam  makin larut  tapi kami masih betah mencicipi berbagai jenis kurma, menikmati bergelas-gelas jeruk peras lagi, mencoba makanan lainnya. Hingga akhirnya kami capek melangkah. Kami memilih salah satu restoran bertingkat di pinggir alun-alun, naik ke teras teratasnya yang bersuasana romantis bercahayakan lampu remang dan lilin. Kami duduk di pinggir teras beratapkan langit. Menyesap teh mint panas dan kue-kue kecil sambil memandang alun-alun Jemaa el Fna yang baru saja kami tinggalkan. Suasana ingar-bingar   nun jauh di bawah sana, tak terdengar dari sini. Menikmati keramaian dari kejauhan, dalam kesunyian yang indah.

Di atas kami, bintang-bintang bertaburan di langit. Di bawah kami, lautan tenda warung bercahayakan lampu kuning keemasan, membentang tak kalah indahnya. Menara Masjid Koutobia tampak anggun membelah langit malam. Angin malam bertiup semilir. Ryan merengkuh pundak saya, dan saya menyandarkan kepala ke pundaknya.(f)






 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?