Sejak zaman kolonial, singkong (antara lain jenis singkung kuru) juga ditanam untuk bahan pembuat sakarin, pemanis buatan yang di kalangan awam populer sebagai ‘biang gula’. Belakangan, singkong juga diolah jadi bioetanol,
Seperti di Brasil dan Paraguay, masyarakat asli Indonesia menangkap kehadiran singkong sebagai berkah alam. Umbinya sedikit manis, dan dapat dimakan mentah, sumber energi yang kaya karbohidrat, walau miskin protein. Sumber protein yang bagus justru terdapat pada daun singkong karena mengandung asam amino metionina. Umbinya bisa menjadi bahan pangan alternatif di sela menunggu masa panen padi. Daunnya juga bergizi tinggi untuk diolah menjadi sayur. Belakangan dunia farmakologi juga mencatat, banyak bagian dari tanaman singkong yang berpotensi sebagai obat.
Masyarakat Indonesia terbiasa menyiasati situasi tak menguntungkan yang berkaitan dengan sumber bahan pangan. Jangankan umbi singkong --yang mentah pun enak digragot--, umbi gadung yang jelas-jelas beracun pun bisa disulap jadi keripik yang renyah dan gurih.
Selain tapioka, singkong juga biasa diawetkan sebagai gaplek. Ada beberapa teknik tradisional membuat gaplek. Pertama, singkong yang sudah diiris-iris kemudian direbus, lantas dijemur hingga kering. Tapi, di puncak masa panen, petani umumnya tak lagi punya waktu untuk merebus gaplek, apalagi dalam jumlah banyak. Maka, irisan singkong itu cukup dijemur dan dikeringkan, tentu dengan mutu (dan nilai jual) lebih rendah daripada gaplek hasil rebusan. Ragam camilan tradisional banyak dibuat dari gaplek, yang juga biasa ditumbuk menjadi tepung gaplek, bahan pembuat tiwul.(f)