Tempe difermentasi dan diikat oleh jamur seperti Rhizopus oligosporus, Rhizopus oryzae, Rhizopus stolonifer, atau Rhizopus arrhizus. “Rhizopus oryzae ditemukan di bagian belakang daun waru dan daun jati,” terang Prof. Dr. Mary Astuti, Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada.
Walaupun kini jamur untuk pembuatan tempe didapat dari pembuatan tempe sebelumnya atau dibeli dalam bentuk bubuk, daun waru dan daun jati berjamur ini masih digunakan sebagai bahan membuat tempe secara tradisional di daerah Yogyakarta. “Fermentasi produk kedelai dengan cara ini hanya ada di Indonesia,” tambah Mary.
Indonesia merupakan produsen dan pengonsumsi tempe terbesar di dunia. Jika bangsa lain yang membuatnya, tentulah mereka produsen dan pengonsumsi terbesarnya, bukan? Selama beratus tahun tak pernah ada negara yang mengklaim pernah membuat produk serupa. Bahkan, bangsa asing yang memproduksinya pun mengakui tempe berasal dari Indonesia. Jadi, kita sebagai bangsa Indonesia tak perlu ragu mengatakan, “Tempe asli dari Indonesia.” (f)