<<<< Cerita Sebelumnya
Antrean maju satu per satu. Begitu lama. Mungkin, untuk pertama kalinya aku mengutuk putaran waktu. Dia membayar kentangnya, lalu berlalu. Aku tidak sabar ingin segera sampai ke gerai pemesanan. Untunglah dia duduk di sebuah bangku.
Kubawa kentangku dengan hati-hati, dan kudekati bangku itu. Dia duduk di ujung bangku, tampak menikmati kentang di tangannya. Patat Pindasaus. Seleranya sama denganku.
Matanya menerawang ke kejauhan ketika kulangkahkan kakiku dengan berjingkat-jingkat. Adrian, tidakkah kau tergerak untuk sejenak berpaling?
“Hai!” sapaku, dengan suara tercekat di tenggorokan.
Dia berpaling, mengangguk, lalu tersenyum. Begitu datar! Teganya kamu!
“From Indonesia?” jawabnya ramah.
Aku terpana. Mata itu, bibir itu. Mengapa kamu berkata begitu?
Dia lalu mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya ragu-ragu.
“Teddy.”
Apa? Tentu saja itu bukan namamu. Kau adalah Adrian. Adrian Bagaspati. Lupakah kamu?
“Dan kamu?” tanyanya lagi, sambil tetap menggenggam tanganku.
“Aku Rey!” teriakku lirih, terombang-ambing antara tak percaya dan kecewa.
“Dan bukankah kamu Adrian?”
Wajahnya mendadak pucat kebingungan, tetapi dia memaksa tersenyum.
“Aku mirip temanmu, ya? Atau kekasih? Ha…ha…ha… wajahku memang pasaran. Kamu sendiri, apa yang kamu lakukan di sini? Bekerja? Studi?”
Ludahku mengalir ke kerongkongan. Sangat pahit. Mungkin bercampur dengan getir dan keringat dingin yang membasahi tubuhku saat ini.
Kenapa kau, Adrian? Apa yang kamu bicarakan? Peran apa yang kamu mainkan? Apakah kamu menggodaku?
“Kentangmu sudah terlalu dingin,” gumamnya tiba-tiba. “Patat Pindasaus. Selera favorit lidah Indonesia. Aromanya pasti mengingatkanmu pada sate.”
Namun, bukan daging liat yang menyembul di baliknya, melainkan kentang goreng yang garing dan renyah. Serenyah suaramu, mungkin tawamu. Gemanya masih terngiang di telingaku. Bukankah kita pernah begitu dekat? Bukankah kau pernah mengatakan kau masih merindukanku? Kau pernah menganugerahkan mahkota kehormatan yang begitu berharga, menjadi seorang kekasih.
“Kau ingin tahu, kenapa aku tidak membalas e-mail-mu?” tanyaku, berusaha lolos dari kebekuan.
“Maaf?”
Duhai, matamu yang berpura-pura lugu. Di balik semua itu, kamu pasti mengetahui segala sesuatu.
“Puisi dalam postingmu sangat indah. Aku bagaikan terlahir dan menemukan diriku kembali.”
“I’m sorry. Mungkin kamu salah mengenali orang.”
Dia mengemasi ranselnya.
“Adrian! Teganya kamu!” pekikku dalam tangis. Betapa inginnya aku memukuli dadanya yang bidang.
“Saya harus segera pergi,” tukasnya, nyaris berbisik. Wajahnya kembali memucat. Kepalanya celingukan, memandang setiap orang dengan rikuh.
Malukah kamu pada orang-orang yang lalu-lalang? Mengapa kepada orang lain kau begitu peduli, dan bukan kepada perasaanku?
“Dengar! Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan. Mungkin aku mirip dengan seseorang yang kamu kenal. Maaf, selamat tinggal!”
Kentang goreng berserakan di kakiku. Seandainya bumi berguncang, mungkin itu lebih baik bagiku saat ini. Mungkin gelap merayap di luar, mungkin badai datang bergelombang, aku tak peduli. Karena mataku masih terpejam, berat oleh air mata yang tumpah. Badanku berguncang, bukan oleh isak tangis. Aku terisap dalam pusaran hitam. Kubiarkan tubuhku terpilin oleh dahsyatnya pusaran. Aku tak berdaya. Sebuah suara memanggil-manggil namaku, seperti Valerie. Kubiarkan tangan-tangannya yang lembut membopongku. Namun, sebuah kekuatan besar mengajakku untuk menari. Aku meronta dan berputar-putar. Tangan-tangan lembut itu menarik-narikku. Aku semakin beringas. Ingin kulepaskan diriku dari pusaran ini.
“Rey, Rey…. Sadarlah!”
Aku hanya menari, mengikuti irama tubuhku. Mengikuti irama kebencian, ketakberdayaan, entah ke mana aku akan dihempaskan. Gelap mulai menjemputku. Dan aku pun terbang.
"Siapakah aku ini, Val?”
Suaraku tenggelam dalam sedu sedan. Aku benci hanya bisa menangis. Embusan napas Valerie yang berat seperti ….
“Mungkin lebih baik aku mati.”
“Hush, Rey! Jangan berkata begitu!”
Aku tidak mengenali siapa pun, bahkan diriku. Aku tidak tahu untuk apa aku hidup. Aku bahkan tidak memiliki kenangan. Satu-satunya kenangan yang mulai terbentuk secara samar, berubah menjadi labirin yang mengerikan. Yang setia menemaniku hanyalah mimpi buruk.
“Sudahlah, kau harus banyak istirahat. Kau harus menuruti nasihat Dokter Iskandar.”
Dokter Iskandar? Ya, dia sedang bercakap-cakap di balik pintu.
“Apakah dia perlu beristirahat, Dok?” suara Tante Win terdengar sangat cemas.
“Tidak perlu. Banyak berinteraksi dengan orang lain akan memulihkan kondisi kejiwaannya. Dia hanya harus didampingi.”
“Ya, memang Valerie lalai tadi. Seharusnya dia tak boleh meninggalkan Rey barang sedetik pun.”
Akulah penderita sakit jiwa itu. Sedikit suntikan di lenganku akan membuatku tenang. Semua orang menatapku dengan iba. Semua orang berusaha keras mengawalku. Mereka tidak tahu, aku hanya ingin terbebas dari mimpi buruk!
Langit biru memucat, dibingkai oleh jendela. Beberapa ekor merpati melintas, lalu hinggap di bubungan. Suara Tante Win dan Dokter Iskandar terdengar semakin menjauh.
“Hmmm…”
“Apakah mereka tahu siapa dirinya?”
Mata Valerie tak beranjak dari bentangan atap di seberang jendela.
Mungkin merpati-merpati itu juga tak memiliki kenangan, mereka tak membutuhkannya. Mereka tidak mengenali diri mereka dari masa lalu. Namun, mereka pasti tak diganggu mimpi buruk.
“Begitu ringan mereka terbang, begitu tanpa beban.”
“Apa yang kau inginkan, Rey?”
“Hanya ingin mengenali diriku kembali. Aku begitu kehilangan masa lalu.”
“Mengapa kau begitu membutuhkan masa lalu?”
“Supaya aku bisa mengendus kembali kebahagiaan, keceriaan, yang telah hilang dari diriku.”
“Tetapi, tak hanya kebahagiaan yang menghuni masa lalu, Rey. Trauma dan kenangan buruk juga tersimpan di sana. Aku tak mau terbebani oleh masa lalu. Aku hanya ingin terus melangkah.” Mata Valerie mencari-cari sesuatu di antara desau angin yang mengelus pepohonan.
“Karena kau tak pernah dihampiri mimpi buruk, Val! Karena kau tak menyadari sisa-sisa kebahagiaan yang turut membangun serpihan dirimu. Kau tak pernah mengalami bagaimana rasanya dihantui trauma-trauma yang tak mampu kau kenali. Kau tak mengalami semua itu, sehingga kau tak pernah berjalan dengan gamang!”
Valerie menempelkan telunjuknya di bibir, “Ssst… Mom akan marah padaku kalau membiarkanmu seperti itu.” Dirapatkannya selimut yang menutupi tubuhku. Diraihnya tombol saklar di dekat pintu.
“Jangan! Biarkan lampu tetap menyala…,” pintaku lirih.
“Ups, sorry! Aku lupa.”
Kegelapan selalu membuatku merasa kesepian. Kesepian yang gamang. Dan aku merasakannya kini. Karena sosok Valerie telah menghilang di balik pintu, berganti cahaya-cahaya jingga yang menutupi mataku, membekap telingaku, menghempaskanku ke dasar lembah tanpa batas, tanpa warna.
Seberkas sinar menerpa mataku, lalu terdengar suara tirai disibakkan. Kubuka mata. Valerie tersenyum di tepi ranjang.
“Pagi, Rey! Mudah-mudahan ini hari indahmu. Kamu tidur sambil tersenyum tadi.”
Udara pagi dari jendela memasuki paru-paru. Begitu nyaman.
“Beri aku selamat, Val. Aku mimpi indah malam tadi.”
“Wow!” Valerie memiringkan kepalanya. Bau mint pasta gigi tercium dari celah bibirnya. “Bertemu sang pangeran?”
“Lebih dari itu….”
Duhai, betapa meluapnya perasaan ini. Valerie menunggu, tetap tersenyum.
“Kau tahu, semalam aku bertemu seseorang. Begitu nyata…. Seperti baru kemarin dia ada di sini.”
“Siapa?” Senyum di wajah Valerie sedikit menghilang. Keningnya berkerut.
“Adrian Bagaspati.” Udara pagi yang sejuk terasa membeku.
“Jangan katakan, ‘dia lagi, dia lagi’!” Aku tersenyum.
Valerie membetulkan ujung seprai yang terlipat. Wajahnya sedikit pucat, mengingatkanku pada rangkaian krisan di tepi jendela.
“Adrian sang orator? Bagaimana aku bisa lupa, Rey. Kamu selalu membicarakan dia dalam setiap postingmu dulu.”
“Oh, ya?” Aku mencoba mengingat-ingat. Namun, tiada yang melintas dalam benakku.
“Namun, mengapa sikapnya begitu padaku kemarin, ketika kami bertemu di Prinsesstraat? Kau tahu Val, aku sangat….”
“Rey,” Valerie meletakkan telunjuknya di bibirku. “Sudahlah… jangan mengingat-ingat peristiwa yang melukaimu.”
“Kamu juga mengenalnya, ‘kan? Kamu pasti tahu mengapa dia begitu!”
“Rey, dia bukan….”
“Dia bukan Adrian, melainkan Teddy, mahasiswa teknik di Delft. Begitu kan, katamu? Selalu begitu. Apa sebenarnya yang kalian sembunyikan dariku?”
“Tidak ada yang kami sembunyikan darimu, Rey. Tidak ada. Aku yakin Adrian masih menyimpan cintanya kepadamu.”
Laraku adalah serpihan siang yang terkoyak, jadi kuhirup aromamu pada mimpi-mimpi samar….
“Maukah kau menceritakan sesuatu padaku, Val?”
“Apa?” Val menyelidik dengan sorot matanya.
“Mengapa kami berpisah?”
Val membuang mukanya. Matanya menatap helai krisan yang rontok di ambang jendela.
“Tolong jawab, Val. Menurut sedikit yang kuingat, kami baik-baik saja. Kami saling mencintai. Pasti ada satu kejadian hebat yang memisahkan kami. Apa itu?”.
Penulis: Sofie Dewayani
(Pemenang Penghargaan Sayembara Cerber Femina 2002)