Fasih berbahasa Urdu dan Punjabi (selain bahasa Inggris beraksen Yorkshire kental), Warsi tak bisa lepas dari tradisi Pakistan. Di usia 19 tahun, ia menerima perjodohan keluarga dengan salah satu kerabat jauhnya. Pernikahan itu bertahan hingga 17 tahun. Pada tahun 2009, ia menikah lagi dengan Iftikhar Azam.
Tahun 2005, ia melepas kariernya sebagai pengacara demi karier baru di dunia politik. Ia maju sebagai calon legislatif dari partai Konservatif, mewakili Dewsbury. Ia pun tercatat sebagai wanita muslim pertama yang tergabung dalam partai Konservatif, meski saat itu ia harus menerima kekalahan.
“Mungkin pada saat itu saya kalah karena kulit saya terlalu cokelat bagi sebagian orang (yang tidak mungkin akan memilih orang Asia) dan terlalu wanita (bagi mereka yang berpikir parlemen bukan tempat bagi wanita). Menjadi wanita, keturunan Asia, dan muslim pula, adalah tiga tantangan besar untuk masuk ke politik di Eropa,” katanya.
Meski kalah dalam pemilu --Warsi yang kemudian bekerja sebagai special adviser di partai Konservatif-- karier politiknya terus menanjak hingga sempat menduduki posisi sebagai ketua partai. Tahun 2007, Warsi pun ditunjuk sebagai Shadow Minister for Community Cohesion. Ia menjadi anggota termuda yang bergabung dengan House of Lord. (ini lembaga semacam apa ya FIC? Terangin dikit ya.
“Ayah berpesan, ‘Sayeeda, lalu apa gunanya kamu punya posisi sebagai pemimpin, jika kamu tidak bisa memimpin opini untuk isu-isu yang fundamental seperti ini?’ Saya pun berpikir, pendapat ini benar,” kata Warsi, yang terus mengingat pesan ini hingga sekarang.
Kendati demikian, Warsi juga pernah menghadapi tantangan dari sebagian komunitas muslim. Ketika merebak kasus perang terhadap teroris di Afganistan, tahun 2009, yang mengakibatkan banyak warga setempat meninggal, Lady Warsi mendapat protes keras dari sekelompok muslim, yang mempertanyakan keislamannya.
Di sisi lain, ia juga pernah membela pemakaian jilbab. Ketika itu, tahun 2010, di Inggris merebak perdebatan tentang pro-kontra pemakaian jilbab, setelah sebelumnya seorang politikus Inggris melarang penggunaan jilbab di tempat publik. Warsi mengatakan, jilbab sama sekali tak membatasi wanita untuk beraktivitas. Pilihan tentang boleh tidaknya menggunakan jilbab sebaiknya menjadi keputusan individu masing-masing.
"Saya pasti akan tertekan kalau dipaksa mengenakan rok mini ke tempat kerja dengan alasan baju itu yang paling pas bagi wanita. Sama halnya jika ada orang yang memaksa saya untuk memakai baju yang menutup dari kepala sampai kaki,” ujar Warsi, tegas. (Ficky Yusrini)