“Kosong?” Heru membantunya.
“Kosong. Ya, itu benar. Kosong. Seakan ada tempat besar yang tak pernah kusadari keberadaannya menganga dalam diriku. Kau membuatku melihatnya. Dengan cara yang cukup menyakitkan. Sesungguhnya aku tak ingin mengakui tempat itu ada. Setidaknya, sebelum kau datang, aku tak tahu ada tempat semacam itu dalam diriku. Ketika aku tahu, aku tak bisa berhenti berusaha untuk mengisinya. Sebenarnya, aku ingin menimbuninya saja, kalau bisa, tapi ternyata tak bisa.” Dia menatap Heru yang berjarak satu kursi darinya. “Kau bilang, aku terbang padamu untuk bermigrasi.”
“Begitu juga aku.”
“Apakah seekor kupu-kupu tahu bahwa dia akan bermigrasi?”
“Aku rasa dia tahu begitu saatnya tiba. Tak ada yang lebih pasti daripada takdir itu. Semesta bergerak dan berjalan untuk memungkinkan terwujudnya kepastian itu. Tak peduli bagaimana cara atau berapa lama pun waktu mesti menunggu. Sungguh, aku tak pernah mempersoalkannya.”
Bagi Ana, hal itu selalu menjadi soal. Di suatu tempat, jauh dalam dirinya, selalu ada kata mengapa menggapai-gapai. Dia sadar, logikanya belum bisa dengan damai menerima kenyataan bahwa dia jatuh cinta. Heru menariknya begitu saja. Dia jatuh dari zona tak bertuan (begitulah Ana menyebut hatinya) ke dimensi tak bernama. Pun begitu saja.
“Mengapa kau menyebutnya jatuh?” tanya Heru.
“Sebab, seperti banyak peristiwa jatuh lainnya, aku kehilangan orientasi dan kendali. Bahkan atas diriku sendiri.”
“Aku juga. Hanya aku merasa diriku melesat, dari satu fase pertumbuhan ke puncak piramida perkembangan. Kau tahu, dari seekor ulat, entah bagaimana dalam satu detik terbangun dan mendapati diriku telah jadi kupu-kupu. Di mana fase kepompongku? Mungkin aku telah melewatinya tanpa kusadari, entahlah, hari ini aku merasa jadi makhluk baru dan sempurna.”
“Itu tidak berarti jatuh cintamu lebih hebat dariku, bukan?”
“Aku merasa begitu,” sahut Heru.
“Tak mungkin,” bantah Ana. “Tak ada yang bisa jatuh cinta lebih hebat daripada wanita, apalagi jika dia bersuami dan punya anak. Dia memberikan lebih dari sekadar hati atau hidupnya.”
Heru tersenyum. Sebenarnya dia ingin sekali memegang tangan Ana dan mengucapkan terima kasih, sambil menatap matanya. Namun, kemungkinan bahwa setiap saat dapat muncul seseorang dari balik pintu kaca dan melihat keintiman mereka, selalu menjagakan kesadarannya. Cinta ternyata telah menjelma jadi barang mewah baginya. Pada saat bersamaan, secara ironis mencintai hanyalah rongsokan buruk yang harus rapat disimpan dari penglihatan orang agar tidak memalukan. Tapi, dia pun tahu bahaya. Demi Ana dengan segenap ketenteraman hidupnya, dia bersedia bersabar.
Sampai suatu batas yang dia sendiri tidak tahu.
Tak lama, suami Ana pulang. Itu berarti hilangnya saat-saat berharga, ketika berbincang di wartel, sambil saling memandang dan tersenyum lembut. Bukan sesuatu yang sangat spesifik. Ana bicara tentang lagu-lagu kesukaannya dan dia menceritakan pengalamannya di sekolah. Dari saat ke saat dia bisa merasakan Ana makin dekat padanya dan dia pada Ana.
Segala sesuatu pada diri Ana menariknya dengan kekuatan yang sulit dia ungkap. Namun, ada yang lebih berarti daripada sekadar hasrat lahiriah. Heru menyebutnya kemurnian remaja. Memang, suatu ketika, saat cinta telah diletakkan dengan segala kehormatannya di seputar ranjang, adalah absurd, bahkan munafik, segala kemungkinan untuk memberi tempat bagi cinta di luar area kamar tidur. Ketulusan pun merosot jadi semacam hal yang gombal.
Heru memikirkan dirinya dan kesanggupannya bersabar. Itu adalah hal biasa saja baginya, seperti telah terbukti selama beberapa tahun terakhir ini. Sampai saat ini pun dia tetap pria penyabar. Meski, dalam batas-batas tertentu, dia tetap menyadari bekerjanya dorongan-dorongan naluriah dalam tubuhnya. Dia membayangkan hal itu, seperti kecenderungan sebagian serangga pada nyala api. Ana adalah cahaya yang telah menarik rama-rama malam seperti dirinya, dalam nyala yang melumatkan segala. Bukankah Ana pun ingin terlumat di dalamnya? Dia bisa merasakan jauh ke dalam diri Ana, menembus segala kegamangan dan rintangan.
Lalu, ada kalanya dorongan itu demikian kuat menyerbunya. Dia hanya manusia biasa. Pria yang sedang jatuh cinta.
Untuk pertama kali, sejak bertahun-tahun lalu, dia meninggalkan sekolah sebelum jam pelajaran usai. Kerinduannya tak tertahan. Ana menyambutnya dengan terkejut, khawatir, sekaligus senang. Heru berdiri di muka pintu, gelisah. Dia tersenyum gugup.
“Aku hanya ingin bertemu denganmu,” katanya, setengah berbisik. “Sudah lama sekali kita tak ketemu.”
“Kemarin lusa kau ke wartel,” Ana mengingatkan, sambil tersenyum. Dia mundur, memberi jalan Heru masuk ruang tamunya.
Heru menyelinap antara Ana dan pintu. Tangannya menggapai daun pintu, lalu mendorongnya pelan. Celah yang menghubungkan mereka dengan dunia luar menutup habis. Jendela ruang tamu Ana terbuat dari kaca gelap. Cahaya siang Januari yang mendung menyisakan penerangan sekadarnya. Tangan Heru terulur. Ana membiarkan dirinya jatuh, atau menjatuhkan diri, ke pelukannya.
Mereka berciuman. Dia terbawa arus ke suatu arah yang tak diketahuinya. Dia bisa merasakan bibir Heru, dan bibirnya sendiri, saling melumat dan menggapai. Dia seperti melihat sesuatu di kejauhan memanggil-manggil, dan dia tergagap-gagap ingin meraihnya. Heru merengkuhnya erat, dia menekankan badannya pada Heru, seakan ingin merasukinya. Tubuhnya meleleh. Ana melingkarkan lengan. Dia merasakan Heru tersengal di lehernya, menciumi, dan membisikkan sesuatu yang terdengar serupa bait-bait puisi.