“Lea, kenapa kamu mau menerima ajakan La Radi?” Wajah Tante Liyan bingung mengamatiku berdandan di muka cermin.
“Tenang. Kebetulan, mood-ku sedang bagus,” jawabku, enteng.
“Tante mau dibawakan makanan?” tanyaku, di balik gerbang.
“Tidak perlu repot. Selamat makan.” Tante Liyan melepas kepergian kami, masih dengan wajah bingung.
Malam indah bertabur bintang. Di atas laut hitam bertebar cahaya lampu aneka warna. Kali ini aku memaksa La Radi untuk makan di sebuah warung tepi laut. Rasanya nikmat melahap ikan bakar, sembari memandang laut indah kemilau. Semula La Radi terlihat kikuk, tidak terbiasa makan di warung tenda. Kepalanya celingak–celinguk sebelum masuk, seakan takut dikenali orang. Semilir angin laut membuatku lahap menyantap ikan sunu besar kemerahan yang dibakar, lengkap dengan sepiring nasi hangat dan sambal tomat.
“Lea.”
Aku menoleh kaget, mencari suara yang begitu kukenal.
“Wa Tia!” Aku beranjak, berjalan ke arah sahabat yang sangat kurindu. Seketika orang–orang memandang. La Radi tampak salah tingkah, malu menjadi pusat perhatian. Dasar pejabat!
“Bagaimana kabarmu?” tanyaku, setelah Wa Tia bergabung di meja kami, dan mulai menyantap pesanannya.
Wa Tia tidak segera menjawab. Mulutnya penuh dengan makanan. Baru dua hari keluar rumah, tubuh Wa Tia sudah sedikit menyusut. Wajahnya pun terlihat menciut, membuat mata bulatnya kian menonjol.
“Sekarang kamu tinggal di mana?”
“Biarkan dia makan dengan tenang.” La Radi menyenggolku. Pria itu ternyata mengamati Wa Tia, yang seperti tidak makan berhari–hari.
“Maaf, saya lapar sekali. Dari pagi belum makan nasi.” Wa Tia tersipu, sambil mengelap bibirnya yang tebal. Tampak lebih tebal akibat kepedasan sambal. “Saya tadi dari wartel dan tidak sengaja melihatmu turun dari mobil. Sekarang saya tinggal di rumah teman. Rencananya, besok saya akan menyeberang pulau, tinggal bersama seorang tante.”
“Sampai kapan kamu meninggalkan rumah?”
“Sampai ayah sadar, dia tak boleh menjual anaknya demi harta.”
“Dia kabur dari rumah?” tanya La Radi, setengah berbisik di telingaku.
“Ya. Dia menolak dijodohkan dengan pria beristri. Sayang, Tante Liyan tidak bisa membantu, karena tidak ingin merusak hubungan dengan tetangga.”
“Saya bersyukur, tantemu tidak menampung saya. Karena, saya dengar, La Darumba mengutus preman untuk mencari saya dan akan memulangkan saya secara paksa ke rumah orang tua. Lea, terus terang, saya takut.”
“Jangan khawatir. Berdoalah. Semoga kamu bisa selamat dan hidup tenang bersama tantemu.” Aku mencoba menghibur.
“Sekarang kamu mau ke mana? Mau diantar pulang?” La Radi melirik arlojinya.
“Terima kasih. Beruntung saya datang ke kota malam ini. Sudah ditraktir, diantar pulang pula!” Mata Wa Tia berbinar memandang aku dan La Radi silih berganti.
Mobil berpelat merah itu terguncang di jalan rusak bergelombang. Menuju ke sebuah permukiman sedikit jauh di tepi kota. Mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah kayu beratap reyot. Setelah Wa Tia turun, tergesa aku mengambil uang dalam dompet. Hanya tersisa dua lembar lima puluh ribuan. Aku lupa, baru besok aku berencana mengambil uang untuk membayar tiket kapal dan belanja oleh–oleh. Tiba–tiba La Radi menyisipkan tiga lembar ratusan ribu di tanganku. Aku terkejut.
“Terima kasih. Kamu baik banget!” bisikku, seraya melipat lembaran uang itu dan meloncat turun dari mobil, mengejar Wa Tia.
“Lea, terima kasih. Kamu sudah banyak menolong saya.” Wa Tia terisak memelukku. “Selamat jalan, saya harap kamu bisa kembali berlibur ke sini.”
“Sampai jumpa, Wa Tia. Semoga keadaan kembali seperti semula. Terima kasih telah menjadi temanku selama di sini.” Suaraku sedikit bergetar. Menyelipkan uang ke dalam genggamannya. “Ini sekadar ongkos.”
“Wah, banyak sekali!” Wa Tia melotot.
“Simpan untuk keperluanmu sampai kamu bisa pulang ke rumah.”
Kembali Wa Tia memelukku. Kali ini teramat keras sampai sesak dadaku dibuatnya. Ia melirik ke mobil, melihat La Radi duduk mengamati kami.
“Semoga kamu menikah dengan orang Buton, supaya kita bisa terus berteman,” bisiknya, sebelum berpisah.
Aku hanya tersenyum.
Hari ini terakhir aku menikmati alam siang kota Bau–Bau. Menyusuri tepi laut biru menyilaukan dengan kilatan mentari dan pantulan dari atap seng rumah–rumah. Malam ini aku sudah harus berangkat dengan kapal menuju Jakarta. Aku diantar La Gani mengambil tiket dan berbelanja oleh–oleh. Tidak lupa mampir ke supermarket, sekadar membeli bekal untuk di kapal. Belanja sekotak biskuit, sekantong keripik, dua botol air mineral, dan selusin kopi intan sachet. Tidak ketinggalan sebuah majalah wanita terbitan terakhir.
“Kapan kembali berlibur ke Buton?” tanya La Gani, usai belanja.
“Mungkin masih lama. Cutiku sudah habis tahun ini.”
“Sering–seringlah datang, temani tantemu.”
Aku hanya diam. Teringat perpisahanku dengan La Radi semalam. Pria itu pun mengharapkan aku bisa datang kembali. Walaupun sikapnya sangat manis, tidak lantas membuatku jatuh cinta. Sungguh, aku merasa sulit mencintai, semenjak putus dari Farhan.
Farhan? Hei, mengapa aku baru teringat padanya sekarang? Apakah aku sudah bisa melupakannya? Di lubuk terdalam, kini aku tidak lagi mendendam. Waktu ternyata mampu mengubah segalanya. Kini aku menyadari, Farhan tidaklah seburuk yang kukira. Dia adalah korban dari situasi. Seperti aku yang sebelumnya sempat berkorban rasa, tidak ingin mengecewakan Tante Liyan. Sungguh kasihan Farhan yang telah berkorban demi ibunya.
Sore menjelang, aku sudah selesai berkemas. Koper kecilku sudah siap di depan pintu kamar. Namun, Tante Liyan belum kunjung pulang hingga senja menghilang. Jadilah aku makan malam sendiri, menyantap ikan segar untuk terakhir kali. Namun, kali ini aku tidak bisa lahap makan.
“Maaf, Lea, Tante ada rapat tadi.” Tante Liyan tiba-tiba muncul di ambang pintu. “Kamu sudah makan? Sebentar lagi kita berangkat ke pelabuhan.”
Entah mengapa, mendadak aku merasa sedih. Mungkin sedih meninggalkan Buton.
“La Radi tadi titip salam untukmu,” kata Tante Liyan, saat kami meluncur di jalan menuju pelabuhan. Melewati tebing dan jalan berliku. Melintas depan rumah Bupati dan jejeran pertokoan tutup.
“Salam kembali,” sahutku riang, membuat Tante Liyan mengernyit. “Semoga Tante sukses di pemilihan nanti.” Aku melepas pelukan Tante Liyan. Kami berada di depan pintu kabin. Klakson kapal sudah meraung dua kali.
“Salam untuk mamamu dan keluarga di Jakarta.” Suara Tante Liyan tersendat, seakan menahan tangis.
“Tante, jangan sedih. Tante bisa datang ke Jakarta. Sudah lama Tante tidak datang. Kami semua kangen pada tante.”
Tante Liyan tersenyum. “Ya, sudah lama Tante tidak pulang. Semoga dalam waktu dekat kamu mene-mukan jodohmu, sehingga Tante mempunyai alasan untuk datang ke Jakarta.”
“Doakan saja, Tante.”