“Tadi La Radi singgah?”
“Ya.” Aku mengangguk, sambil melirik ke arah mobil yang dibiarkan terparkir di luar gerbang.
“Ada titipan untuk Ibu Liyan?”
“Ya, itu.” Aku menunjuk dengan dagu ke sebuah kantong plastik hitam di atas meja teras.
La Gani langsung menyambarnya.
“Tunggu! Itu untuk Tante Liyan.” Aku segera merebut benda itu.
“Lea, Tante di sini!”
Tampak olehku kepala Tante Liyan melongok ke luar jendela.
“Tante buru–buru, Lea. Tante ada janji. Kamu makan saja, jangan tunggu Tante.”
Sekilas aku melambai pada Tante Liyan dalam mobil, yang kemudian melesat pergi. Sepertinya Tante terburu–buru. Pasti ada sesuatu yang sangat penting. Membuat aku makin penasaran pada isi kantong plastik itu. Tentu bukan cokelat!
Sore sudah mengganti hari. Namun, Tante Liyan belum juga kembali. Untuk menghindari kejenuhan, aku turun ke laut depan rumah. Duduk di sebuah batu karang besar. Menikmati alam sore yang indah berlaut biru cerah. Mengamati sampan anak–anak nelayan yang melintas seliweran. Suara mereka sahut–menyahut di antara jeritan burung laut. Kembali aku teringat pada Wa Tia. Sedang apa dia sore ini? Semoga saja ayahnya mau mengerti dan membiarkan Wa Tia kembali ke rumah.
Laut tak lagi biru. Azan magrib berkumandang di kejauhan. Aku tersentak beranjak. Berjalan menuju rumah.
Tante Liyan sudah menunggu. Rautnya terlihat tegang.
“Syukurlah kamu sudah pulang.”
“Tante sudah lama pulang?”
“Sejam lalu. Dari mana saja kamu?”
“Dari bawah tebing. Memangnya kenapa?”
Tante tersenyum kecut. “Tante pikir, kamu pergi jauh. Karena, kamu akan dijemput sebentar lagi oleh La Radi. Baru saja dia menelepon.”
Oh, itu sebabnya Tante Liyan terlihat tegang. Rupanya, ia khawatir aku terlambat tiba di rumah dan membiarkan pria pilihannya itu lama menunggu.
“Aku nggak mau pergi,” kataku, sedikit ketus.
Tante Liyan terenyak. Manatapku seakan tak percaya.
“Ada apa, Lea? Mengapa kamu berubah pikiran.”
Aku masuk ke dalam rumah. Tante Liyan membuntuti.
“Tante, Lea sedang nggak mood.” Tubuhku terempas di atas sofa ruang tengah. Tante Liyan duduk di sisiku.
“Kamu tidak bisa membatalkan begitu saja. Kamu harus menghormati La Radi.” Suara Tante Liyan meninggi.
“Aku menghormatinya. Aku bisa meneleponnya sekarang dan minta maaf.”
“Tidak semudah itu, Lea.”
“Kenapa? Apakah Tante keberatan kalau kali ini aku menolaknya?” Kini suaraku yang meninggi.
Kulihat wajah Tante Liyan memerah. Bibirnya sedikit tergetar menahan amarah. Aku mereda.
“Maaf, Tante. Aku nggak bermaksud kurang ajar. Tapi… sebetulnya Lea sama sekali tidak suka padanya.”
Tante Liyan menghela napas. Kedua matanya meredup. Menyimpan kesedihan. Aku merasa bersalah.
“Kenapa kamu baru bilang sekarang? Semula Tante berharap kamu bisa berjodoh dengan La Radi. Agar bisa menetap di Buton, menemani Tante.”
Aku memeluk Tante Liyan.
“Maaf, Tante. Lea tidak bermaksud mengecewakan Tante. Tapi, Lea tidak bisa terus–menerus membohongi diri.”
Tante Liyan mengusap matanya yang sudah mulai basah.
“Lea, apa kamu mau menolong Tante sekali ini saja?”
Aku mengangguk.
“Malam ini kamu pergi dengan La Radi.”
Sungguh! Aku benar–benar tidak mengerti Tante Liyan. Apa belum sadar bahwa aku sudah tidak bisa berpura–pura menyukai pria itu. Mengapa Tante takut mengecewakan dia? Apakah Tante mempunyai utang budi? Kalau bukan karena kasihan, aku tidak sudi menuruti kemauan Tante Liyan.
Malam terasa makin dingin di dalam sebuah resto sedikit mewah. Namun, dibandingkan dinginnya AC ruangan, masih lebih dingin sikapku pada pria di hadapanku.
“Kamu seperti tidak berselera makan malam ini?”
Memang! Karena terpaksa pergi denganmu. Aku menggerutu dalam hati.
“Maaf jika restoran ini tidak semewah restoran di Jakarta.”
Dasar bodoh! Apakah ia tidak merasa, sikapku selalu begini saat bersamanya?
“Lea, sebaiknya kamu berterus–terang saja.”
Aku menatapnya heran.
“Apa maksud kamu?”
La Radi terdiam sejenak. “Saya tahu, kamu tidak menyukai saya.”
Aku tersentak. La Radi tersenyum lembut.
“Jangan takut, saya tidak akan memberi tahu Tante Liyan.”
Aku menganga.
“Kamu pasti menyayanginya. Tidak mau mengecewakan dan membuatnya sedih.”
Sungguh, sama sekali tidak menyangka, perkataan itu bisa keluar dari bibir La Radi. Pria sombong dan feodal, yang bisa semena–mena dengan uang dan jabatan. Jangan-jangan, selama ini aku salah menilainya.
“Saya akan bilang pada Tante Liyan, bahwa saya tidak cocok denganmu.” La Radi menyeringai.
Entah mengapa, kali ini aku merasa senang bersamanya.
“Tapi, apa kita masih bisa berteman?” tanyanya, pelan.
Aku memberikan senyum terhangat yang seketika mengenyahkan dingin.
Di salah satu warung jagung rebus yang berjejer di sisi tebing, aku dan Tante Liyan menikmati sore. Melahap jagung bakar, sembari memandang lepas ke laut biru indah di bawah.
Aku terdiam. Mendengarkan segala pengakuan Tante Liyan. Mengetahui utang budinya pada La Radi, yang selama ini mendukung karier politiknya itu. Termasuk, menerima pinjaman uang tiga puluh juta, yang kuterima kemarin dalam kantong plastik hitam. Uang tambahan yang dipakai Tante Liyan untuk melobi pengurus partai di tingkat pusat.
“Tante menjualku pada La Radi?” suaraku memecah keheningan.
Tante Liyan menggeleng keras. “Tentu saja tidak! Tante hanya merasa tidak enak, setelah dia berbaik hati membantu Tante. Tante minta maaf kalau kamu merasa dimanfaatkan. Tapi, syukurlah, La Radi tidak merasa cocok denganmu. Sehingga, Tante tidak membuat dia kecewa jika kamu sampai menolaknya.”