Pada pertengahan April 2006, Susi mulai merambah Singapura. Bekerja sama dengan sebuah resor wisata di Pulau Mentawai, pesawatnya mulai mengangkut wisatawan dari Negeri Singa itu ke Mentawai via Padang.
Awal November 2006, Susi Air melebarkan sayap dengan membuka kantor cabang di Jayapura, Papua. Sebuah Cessna Caravan-nya, stand by di bandara kota itu, sebagai pesawat sewaan untuk angkutan barang dan penumpang ke berbagai airstrip yang banyak terdapat di Papua semisal ke Mulia, Dekai, Sarmi, dan Wamena.
Jasa penerbangan yang dikelola Susi kian berkembang. Pada 1 Januari 2007, Cessna Caravan ke-4 miliknya tiba memperkuat armada. Pesawat carter untuk para eksekutif bisa digunakan ke mana saja di Indonesia, khususnya Papua dan Sumatra.
Setelah itu, tahap demi tahap, Susi Air terus berkembang sebagai perusahaan jasa penerbangan carter dan angkut penumpang. Tentu ia tak melupakan niat utamanya, punya pesawat untuk angkut ikan dan udang kualitas ekspor. Siapa pun bisa menyewa pesawatnya. “Asal tidak untuk mengangkut weapon, narkotika dan ikan hias, serta benda-benda terlarang internasional lainnya,” ungkap Susi, yang amat mencintai lingkungan hidup berkelanjutan.
Susi bukan tak sanggup membeli pesawat-pesawat berbadan lebar dan besar. Tetapi, pesawat-pesawat ringan memang menjadi pilihan utamanya, mengingat alam pedalaman Indonesia yang jadi sasaran rute penerbangannya. “Ada banyak tempat di pelosok negeri ini yang cuma punya airstrip pendek. Daerah-daerah itu amat perlu pesawat-pesawat kecil untuk membuka diri ke dunia luar,” ungkap Susi. (f)