Bagi Susi, ini sebuah peluang bisnis yang amat menantang. Permintaan pasar yang besar mendorong Susi berkelana dari satu tempat pendaratan ikan ke tempat pendaratan ikan lainnya. Nyaris semua pantai sepi di pesisir selatan Pulau Jawa ia telusuri, mengenal dari dekat para nelayannya, sambil memesan lobster. Tentu, Susi siap membelinya dengan harga yang bagus, dengan catatan: lobster tangkapan harus baik, yaitu yang utuh dan lengkap anggota tubuhnya saat didaratkan.
Lobster-lobster itu juga mesti ditangkap secara alamiah, tidak menggunakan cara-cara yang dapat merusak lingkungan, misalnya dengan membongkar karang atau menggunakan pestisida. Satu lagi, “Saya tidak menerima lobster yang dalam keadaan bertelur,” lanjutnya. Kalau tak sengaja mendapatkan lobster yang sedang masa bertelur, ia meminta segera cepat dikembalikan ke laut, betapapun besarnya (yang secara ekonomi membuatnya rugi). Dia memang concern pada regenerasi alamiah ini. Lobster-lobster yang didapatnya dari berbagai pantai di selatan Jawa itu, kian menapakkan dirinya sebagai pemasok hasil laut jempolan.
Sukses itu tak membuat Susi diam di tempat. Diversifikasi usaha terus diupayakan. Ia, misalnya, tak pernah melupakan Pangandaran sebagai kawasan wisata yang potensial untuk berbisnis. Untuk itu, tahun 1989 Susi membuka restoran Hilmans di dekat pantai, dengan spesialisasi menu ikan segar. Calon pembeli bisa memilih sendiri ikan segar yang diminatinya, lalu para koki mengolahnya menjadi hidangan pilihan. Konsep itu ternyata diminati konsumen yang membuat resto itu tak pernah sepi.
“Hidup kan terus bergerak. Puncak-puncak pencapaian harus terus diciptakan tiap hari,” ungkap Susi. Entah, dari mana ia pungut teori kehidupan itu. Tetapi, Susi memang kian jauh melangkah. Tak cuma pedagang besar ataupun resto-resto di Jakarta yang menunggu pasokan ikan darinya tiap malam, tetapi juga pabrik-pabrik pengolahan ikan untuk ekspor. Konon, untuk lobster, Susi disebut-sebut sebagai pemasok utama yang menguasai 70% market share di Jakarta.
Kali ini, Susi tak harus berlama-lama mimpi. Tahun 1996, ia mulai merintis pendirian pabrik pengolahan ikan sendiri, di pekarangan samping rumahnya di depan terminal bus Pangandaran. Hasilnya menakjubkan! Tahun itu Susi mencatatkan diri sebagai bakul ikan Indonesia yang berhasil mengekspor lobster beku ke Jepang dengan label Susi Brand.
Ratusan tenaga kerja lokal diserap pabriknya untuk menyiangi ikan. Limbah yang berupa tulang dan isi perut ikan dipisahkan, dicacah atau digiling, untuk pakan itik di kebunnya, sementara bagian dagingnya dibuat filet atau produk ikutannya (seperti bakso, dan lainnya). Cuma dalam tempo setahun setelah ia mengekspor lobster beku, ragam jenis seafood beku dari pabrik Pangandaran itu diekspor ke Jepang dengan label Susi Brand. Seperti yang femina saksikan di pasar ikan Tsukiji, Tokyo.
Menembus pasar Jepang memang sebuah prestasi. Karena, Jepang merupakan pangsa pasar ikan segar terbesar di Asia, yang menerapkan aturan ketat untuk produk yang masuk ke negaranya. “Pengolahan ikan di pabrik saya dikerjakan sesuai standar internasional, termasuk tidak memakai bahan pengawet kimia,” tutur Susi. Selain itu, dia bisa menyediakan ikan segar yang 'usianya' kurang dari 24 jam dari penangkapan. (f)
HERYUS SAPUTRO
FOTO: DOK FEMINAGROUP