Support yang besar dari suaminya itu yang membuat Susi pada tahun 1999 menyusun proposal pinjaman dana ke bank. Berbagai bank, nasional ataupun swasta asing, ia datangi. Tetapi, boro-boro dapat pinjaman, “Eh… saya malah dianggap gokil, nggak waras…!” ucap Susi, lagi-lagi sambil ngikik.
Susi sebenarnya bisa mengerti bila para petinggi bank menganggapnya gila. “Lha cah wedhok (anak perempuan-Red), cuma lulusan SMP, kok, ya, bisa-bisanya ngajuken kredit buat beli pesawat?” kenang Susi, tentang rasa heran para bankir yang ditemuinya. Tambah melongo lagi mereka, ketika membaca alasan Susi ingin membeli pesawat: untuk ngangkut ikan! “Lha, apa nggak gila, itu….”
Ilham punya pesawat terbang datang dari dari obrolannya dengan Christian di awal perkenalan mereka tahun 1997. Saat itu, sebagai pengusaha produk hasil laut, Susi sudah menembus Asia, Jepang khususnya, dan mulai menjajaki pasar Eropa dan USA.
Susi harus bisa berpacu dengan waktu. Tak mungkin cuma mengandalkan truk berpendingin, untuk pengepulan sekalipun. Sementara di luar sana, “Orang akan memberi harga lebih tinggi untuk ikan segar yang sampai ke tangan mereka, kurang dari sehari setelah ikan-ikan itu diangkat dari jaring nelayan,” tegas Susi. Bila waktu tempuh bisa diatasi, ini tak cuma baik bagi Susi, “Tetapi juga baik bagi nelayan, karena saya bisa membeli ikan-ikan itu dengan harga lebih bagus lagi.”
Keharusan untuk berpacu dengan waktu inilah yang membuat Susi merasa harus punya pesawat. “Pesawat ringan, kecil saja, karena di pelosok-pelosok Indonesia tak ada runaway panjang. Yang ada cuma airstrip-airstrip pendek,” katanya. Tetapi, ya, itu tadi, Susi malah dianggap gila! Baru setelah 4 tahun bolak-balik mengajukan proposal, ada pengusaha nasional (Susi tak mau menyebut nama) yang memahami ide gilanya, dan mengucurkan dana. Didukung Christian yang amat paham seluk-beluk kedirgantaraan, mimpi Susi akan montor mabur terwujud berupa sebuah Cessna Caravan buatan USA, seharga sekitar Rp20 miliar. (f)
HERYUS SAPUTRO
FOTO: AFP