Menurut psikolog Irma Makarim, sebelum menuntut suami berubah, coba introspeksi diri Anda dulu. Apakah ada kesan pemaksaan dari Anda untuk membuatnya berubah? Sementara, tak ada keinginan dari dirinya untuk berubah. Untuk mengubah perilaku suami, ia harus lebih dulu tahu mengapa ia harus berubah. Ungkapkan keberatan Anda atas sikapnya. Anda juga perlu menunjukkan secara jelas bahwa Anda keberatan dikuntit dan dikekang sedemikian rupa. Ia perlu tahu bahwa sebagai individu Anda juga butuh ruang dan pergaulan dengan teman-teman Anda sendiri.
Sedangkan menurut psikolog Monty Satiadarma, coba simak kembali pertemuan Anda dulu dengannya. Bukankah Anda sudah menyadari bahwa sikap suami memang kaku? Dengan fakta itu ternyata Anda tetap memilihnya untuk menjadi pendamping Anda. Tanpa disadari belenggu yang ia lakukan bisa saja sebetulnya Anda nikmati karena jadi merasa dibutuhkan. Namun, lama-kelamaan Anda mulai bosan hidup dalam kekangan.
Tidak mudah mengubah hidup seseorang. Hal itu sama sulitnya dengan upaya mengubah diri sendiri. Suami akan tetap pada keterbatasannya dan Anda sendiri akan bersikukuh ingin mengubahnya. Hentikan segera pola ini! Ini sama sekali tak akan mengubah sikap maupun karakternya, selama keinginan itu tak datang dari dirinya sendiri. Suami harus terlebih dahulu menyadari masalahnya sebelum keinginan untuk berubah timbul.
Terima suami apa adanya. Pahami lebih jauh apa yang menjadi kecanggungannya dalam bergaul. Ia pastinya takut ditinggalkan Anda. Sementara Anda juga diam-diam merasa takut tak dibutuhkan lagi. Anda perlu berbesar hati menerima kondisi hidup yang tengah Anda jalani saat ini. Tinggal cari jalan keluar bagaimana agar kejenuhan hubungan tak mengganggu harmonisasi rumah tangga. Salah satunya lewat latihan pengembangan diri.(f)