Sejak pindah ke kota besar, kehidupan kami berubah. Suami Anda menjadi jarang di rumah, lebih banyak menghabiskan waktu dan uang dengan teman-teman barunya untuk berfoya-foya. Keuangan keluarga pun ikut terganggu. Bagaimana menyadarkan suami dan menyelamatkan perkawinan .
Menurut Irma Makarim, mungkin Anda jengkel pada sikap suami, namun jangan samakan semua orang. Tidak semua orang yang hidup di kota besar gemar berfoya-foya. Jangan hanya menyalahkan dirinya dan terpancing emosi. Berusahalah menyadarkan suami agar tidak mendahulukan gengsinya di mata teman-teman, yang malah bisa menghancurkan rumah tangga. Lebih baik ajak suami duduk bersama untuk membicarakan kondisi keluarga, termasuk keuangan keluarga yang terganggu.
Ajak suami berusaha bersama untuk menyelamatkan keuangan keluarga. Tekankan pentingnya keterbukaan pada suami. Minta ia untuk menginformasikan secara terbuka, berapa penghasilannya tiap bulan. Buatlah daftar pengeluaran untuk kebutuhan rumah tangga dan pribadi. Untuk memulihkan kesehatan keuangan keluarga, mau tak mau Anda berdua harus memotong biaya-biaya di luar kebutuhan primer.
Sedangkan menurut Monty Satiadarma, Perilaku manusia memang dipengaruhi dorongan untuk memperoleh kesenangan dan dampak kesenangan segera, sehingga tidak bisa mengendalikan emosi dan nalarnya. Ketika seseorang terjerat dalam kondisi seperti itu, yang muncul adalah upaya mencari pembenaran dan alasan yang dinilai masuk akal untuk mempertahankan penyimpangan perilakunya. Terkadang seseorang harus mengalami kondisi terburuk dahulu untuk membuka kesadarannya.
Anda tak perlu emosi, karena tidak akan memecahkan masalah. Lebih baik Anda membagi sistem keuangan rumah tangga secara terpisah. Untuk itu, Anda harus memiliki penghasilan sendiri, dan tidak tergantung pada penghasilan suami. Biarkan ia mengatur pemasukan dan pengeluarannya sendiri. Jika ini tidak dilakukan, suami tidak akan pernah belajar menata pemasukan dan pengeluarannya. Jika tidak berbuat sesuatu, Anda seolah mendukungnya.