Health & Diet
Stroke, Kanker Otak, Meningitis

2 Oct 2012


Dr. dr. Wismaji Sadewo, SpBS dari RS  Premiere Jatinegara, Jakarta, mengatakan, sakit kepala bisa menjadi indikasi penyakit berat yang menyerang pusat saraf.  Berikut ini adalah 3 penyakit yang menyerang otak:

Stroke
Hipertensi hingga gaya hidup
Berbeda dengan aneurisma, stroke adalah saat pembuluh darah pecah secara spontan, tanpa ada penggelembungan sebelumnya. Stroke terjadi karena adanya penyumbatan, penyempitan, atau pecahnya pembuluh darah menuju otak, yang menyebabkan pasokan darah menuju otak berkurang. Penyumbatan dan penyempitan ini, kata dr. Wismaji, disebabkan oleh banyak hal, seperti hipertensi, penyakit jantung, diabetes, tingginya tingkat kolesterol, kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol, obat terlarang, hingga infeksi.

Kanker otak
Sel yang tumbuh seenaknya
Advertisement
Kanker otak adalah kanker yang mengganggu struktur saraf dan tumbuh di sekitar otak dan tulang belakang. Untuk mengobatinya, sel-sel kanker harus diangkat dengan cara dioperasi. “Kanker ini membuat bagian mata menonjol, penderita pun mengalami gangguan penglihatan karena tumornya menggerogoti saraf penglihatan. Jika tidak segera diatasi, tumor akan menekan saraf penglihatan tersebut. Sayangnya, kadang-kadang setelah tumor diangkat, saraf yang terlalu lama tidak mendapatkan pasokan darah sulit dikembalikan seperti semula,” papar dr. Wismaji.  

Meningitis atau radang otak
Bengkak karena infeksi
Penyakit ini bersifat menular, terjadi karena infeksi berbagai macam virus dan bakteri. Saat terserang, otak akan meradang. Disebut meningitis, jika selaputnya saja yang meradang. Disebut meningoensofalitis, jika yang membengkak adalah otak dan selaputnya.
Penderita biasanya mengalami nyeri di leher, sakit kepala, dan terasa kaku di bagian kuduk (belakang leher). Sejumlah tes laboratorium akan menunjukkan jenis kuman yang menyerang sehingga pengobatan pun dapat dilakukan dengan memilih antibiotik yang tepat.
Akibat meningitis, penderita bisa kehilangan kesadaran, bahkan koma.  Penyembuhannya dengan cara mengurangi pembengkakan. “Bayangkan jika otak diletakkan dalam ruangan yang pas, lalu bengkak. Akibatnya, ruang itu tidak cukup lagi untuk menampungnya. Otak jadi tertekan,” jelas dr. Wismaji.
    Biasanya, dokter tidak langsung menganjurkan terapi pembedahan, terutama jika belum parah. “Tapi, kalau sudah dalam keadaan serius, terkadang pembedahan kepala terpaksa harus dilakukan untuk menyelamatkan nyawa,” papar dr. Wismaji.(f)




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?