Ada beberapa kasus yang membuat Anda mau tak mau perlu membicarakannya secara jujur dan terbuka. Misalnya, ketika Anda diam-diam sudah mengarahkan agar ia tidak menstimulasi bagian intim secara berlebihan, tapi ia terus melakukannya hingga Anda merasa sakit. Atau memang dirasa performa pasangan sudah membutuhkan bantuan pihak lain seperti dokter, psikolog, maupun androlog. Berikut hal yang penting Anda pahami:
- Bukan kritik, apalagi bertengkar. Tanamkan di hati bahwa pembicaraan ini semangatnya bukan mengkritisi atau memulai pertengkaran, tapi lebih untuk saling memahami agar mencapai hubungan intim yang diinginkan berdua.
- Kenali dulu tipikal suami. Apakah
ia seorang yang dominan? Yang menganggap dia selalu paling benar dan
bisa melakukan segalanya? Jika ya, jauhi pembicaraan terbuka. Tingkat
ketersinggungan pada tipe seperti ini lebih tinggi. Gunakan bahasa
tubuh.
- Lihat mood-nya. Ketika ia dibebani pekerjaan, sedang lelah, atau sedang menderita sakit, rasanya bukan situasi yang tepat untuk membicarakannya.
- Gunakan kata-kata positif. Daripada membeberkan kesalahannya dalam bercinta, seperti mengatakan: “Saya tidak suka saat kamu melakukan…,” lebih baik Anda kreatif ungkapkan segala hal yang Anda suka saat ia melakukannya. “Aku suka sekali kalau kamu melakukan…,” atau, “Aku senang jika kamu melakukan itu….”
- Berikan waktu. Jika terpaksa harus mengungkapkan hal negatif, jangan lakukan saat itu juga. Misalnya, ketika Anda tidak menyukai posisi bercinta yang sedang suami gemari, jangan langsung diungkapkan begitu permainan usai. Berikan jeda waktu. Siapa tahu saat itu suami hanya sekadar coba-coba. Mungkin, hanya melihat reaksi tubuh Anda yang tidak seperti diharapkan, ia bisa memahami, tanpa Anda perlu mengungkapkannya.
Yuniarti Tanjung (Kontributor Jakarta)