Apa pun alasannya menjadi informan, sesungguhnya cara itu tidak etis. Lebih parah lagi, kegiatan memata-matai itu bisa merusak suasana kerja yang kondusif. Bayangkan, bagaimana seseorang bisa bekerja dengan nyaman, kalau setiap saat ia dibayangi ada ‘mata’ lain yang akan dengan sigap melaporkan kesalahannya.
Kalau informan ini juga sebagai atasan, dan hobi melaporkan kesalahan dan ketidakdisiplinan bawahan kepada bos yang kedudukannya lebih tinggi, sementara sumbangan pemikiran, keahlian, dan bimbingannya terhadap bawahan dinilai minim, maka ia akan dianggap gagal sebagai pemimpin. Nilai gagal bukan hanya dari bawahan, tetapi juga dari atasan.
Selain itu, walaupun kegiatan memata-matai ini mungkin (seolah-olah) mendekatkan informan ini pada bos, bukan berarti hasil memata-matainya itu diukur sebagai penilaian plus untuk pekerjaannya. Kalau bicara ukuran kinerja, menjadi informan sama sekali tidak masuk dalam hitungan prestasi kerja. (f)