Celebrity
Soal Ambisi dan Hati

22 Oct 2014

Kepergian Andini Effendi (32) untuk kuliah S-2 ini sengaja ia cocokkan waktunya dengan beberapa peristiwa penting. “Saya ingin meliput pemilu presiden AS tahun 2012, lalu pulang sebelum pemilu legislatif dan pemilu presiden Indonesia 2014,” kata penggemar acara masak-memasak di televisi ini.
Saat pemilu legislatif, Andini menghabiskan lebih banyak waktu membawakan berita dan memantau penghitungan suara dari studio. Tapi, saat pemilu presiden, ia memilih untuk turun ke lapangan dan bertemu langsung dengan para kandidat. “Saya tidak mau asal tahu saja. Saya ingin kenal dekat dan berteman dengan mereka yang akan mengambil alih administrasi baru negara ini,” tekadnya, waktu itu.
Sebelum pulang ke Indonesia, Andini sempat traveling selama dua bulan ke Amerika Selatan untuk mengunjungi kampung halaman beberapa teman kuliahnya. Perjalanan ini ia anggap sebagai perjalanan mencari diri sendiri. Sebab, ketika pulang dan kembali bekerja, artinya ia harus mendedikasikan sebagian besar urusan dan waktunya untuk orang lain.
“Saat traveling saya menemukan banyak hal tentang diri saya yang saya tidak ketahui sebelumnya. Misalnya, ternyata saya bisa, lho, backpacking ke daerah terpencil naik bus umum bareng aneka hewan,” kenangnya, tersenyum.
Ia juga makin menyadari pentingnya menjaga stamina demi tuntutan profesinya yang tinggi. Selain rutin yoga, Andini juga sempat mencoba kombinasi pilates dan body weight training, serta cycling class dan muay Thai. “Saat berat badan saya naik sehabis traveling, biasanya saya langsung melakukan mayo diet, atau diet tanpa garam, nasi, air es, dan alkohol,” katanya.
Advertisement
Selama jauh dari rumah, Andini yang mengaku introver juga berusaha memperluas jejaring dan sengaja bergaul dengan orang dari berbagai  bangsa. “Saya ingin punya banyak teman dan mencari pacar dari negara lain!” ujarnya, tergelak. Semua keinginannya ini akhirnya terwujud. Tiap bulan selalu ada saja teman kuliahnya dari belahan dunia lain yang mengunjunginya di Jakarta.
Bukan cuma itu, Andini diam-diam juga menemukan cinta di New York. Namun, karena terpisah jarak, keduanya kini hanya bertemu 3 bulan sekali. Kekasihnya adalah keturunan Yahudi, budaya yang membuatnya begitu penasaran karena masih asing di Indonesia. Ia bekerja di sektor swasta, namun punya minat dan passion tentang international affairs yang sama besarnya dengan Andini.
“Tiap hari kami selalu saling update dengan mengirimkan link berita ini itu. Dia teman saya untuk berargumen tentang politik dan topik berat lainnya. Dia juga bisa diajak ngobrol tentang hal-hal yang konyol,” tutur  pencinta yoga itu.
Meski sudah sekitar 2 tahun berstatus in a relationship, Andini merasa bahwa hubungan jarak jauh adalah yang terbaik untuk dirinya dan kekasihnya saat ini. “Kami berdua tipe orang yang membutuhkan personal space, supaya kami bisa fokus pada diri sendiri dan pekerjaan. Jadi, saat bertemu kami menghabiskan waktu bersama yang lebih berkualitas,” katanya.
Ditanya soal rencana ke depan, Andini percaya akan ada waktunya untuk mulai memikirkan tentang kehidupan berkeluarga. Tapi, untuk saat ini ia ingin mendedikasikan kariernya di media untuk turut memajukan Indonesia.
Sebab, menurut Andini, Indonesia sempat menjadi the ‘it’ country yang dibicarakan di kalangan global. Tapi sayangnya, kita terlalu disibukkan dengan urusan dalam negeri. “Karena itu, saya berambisi ingin mengenalkan Indonesia lebih jauh. Bukan hanya dari segi politik atau ekonominya, tapi juga tokoh-tokoh pentingnya di bidang lain,” tutur Andini, yang menyimpan cita-cita untuk menjadi seorang peace mediator suatu hari nanti.(PRIMARITA S. SMITA)


 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?