Rumah tangga yang runtuh berisiko besar menghilangkan rasa percaya, kedamaian, hingga harapan anak. Akibatnya, anak berkembang menjadi pribadi paranoid. Sifat tidak percaya itu dapat membuat anak mengalami kemunduran dalam pergaulan. Entah dia menarik diri dan bersembunyi dalam kesendirian atau sebaliknya menjadi pribadi yang kasar.
Anak Jadi Pembangkang
Dampak negatif lainnya, anak bisa menjadi pembangkang. Anak merasa tak dihargai orang tuanya sehingga membalas dengan bertindak semaunya.
Anak Jadi Minder
Pada kasus lain anak juga bisa jadi peragu dan minder. Hal itu bisa terjadi karena kepercayaan dirinya luruh. Pasalnya, pendapatnya tak pernah didengar dan dihargai orang tuanya.
Merasa Bersalah
Yang paling fatal adalah jika anak sampai menyalahkan diri sendiri dan menganggap dialah penyebab orang tuanya bercerai. Anak-anak yang masih muda (di bawah usia 12 tahun) sangat rapuh menghadapi kenyataan pahit perpisahan orang tuanya. Mereka melihatnya sebagai masalah berat karena kapasitas mengolah informasi dalam pikiran mereka masih terbatas. Imbasnya, timbul rasa bingung hingga menimbulkan asumsi. Salah satunya adalah asumsi, ‘Jangan-jangan mama papa berpisah karena saya’.
Baik-Baik Saja
Perceraian tidak selalu berakibat buruk pada anak. Ada juga tipe anak yang meski kedua orang tuanya bercerai, ia tampak baik-baik saja. Mereka tipe anak-anak yang berkepribadian lebih kuat, berani, dan matang dalam menghadapi kenyataan. Namun, bukan berarti anak yang diam dan berlagak tidak peduli, tidak merasa terluka. Ketidakpedulian yang ditunjukkan bisa jadi sebuah mekanisme pertahanan diri anak agar ia survive menghadapi cobaan berat hidupnya. Di luar tampak tegar dan tenang, namun di dalam hatinya hancur lebur. Ini juga perlu diwaspadai. Karena itu, orang tua harus selalu peka dan membantu anak memahami kondisi tak ideal yang harus terjadi.
Namun Anda juga perlu tahu bahwa dengan arahan yang bijak dari kedua orang tua dan lingkungan, sebenarnya perceraian tak harus membuat si kecil tumbuh dalam luka dan duka. Diperlukan peran orang tua agar anak-anak tidak menjadi korban dari perceraian. (f)