Mungkin butuh berlembar-lembar kertas untuk merangkum curriculum vitae (CV) dan aktivitas Sheika Al-Mayassa (31). Jabatannya segudang dan kegiatannya seabrek. Beragam media seakan berebutan memberikan gelar kepadanya. Majalah The Economist menyebutnya sebagai The Art’s World Most Powerful Woman. Selain itu, namanya juga termasuk dalam jajaran 100 The Most Influential People in the World versi majalah Time dan The World’s 100 Most Powerful Women versi majalah Forbes.
Tak mengherankan, saudara perempuan dari bangsawan Kerajaan Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, itu selain kaya raya juga aktif di dunia internasional. Keluarga Sheika Al-Mayassa menginvestasikan harta mereka ke beragam perusahaan besar di dunia dan membuat kekayaan mereka berlipat ganda. Kekayaan ini lantas dimanfaatkan Qatar untuk mengangkat namanya di peta global. Caranya dengan memosisikan Qatar sebagai pusat seni dan kebudayaan dunia. Sheika Al-Mayassa yang kemudian ditunjuk untuk mencapai tujuan ini.
Walau tidak memiliki latar belakang seni (ia adalah sarjana Ilmu Politik dan Sastra dari Duke University, Amerika), Sheika Al-Mayassa menjalankan tanggung jawabnya dengan semangat dan dedikasi tinggi. Ia ikut mendirikan Qatar Museums dan kini menjabat sebagai pimpinan Qatar Museums Authority (QMA), lembaga yang bertanggung jawab dalam pengelolaan beragam museum di Qatar. Selanjutnya, ia juga mendirikan Doha Film Institute, institusi yang mendukung perkembangan film lokal, menstimulasi apresiasi masyarakat Qatar terhadap film sekaligus mendorong pertumbuhan industri kreatif di Qatar.
Bagi Sheika Al-Mayassa, ada agenda tersendiri di balik aktivitasnya ini. Ia ingin mengubah persepsi negatif dunia Barat terhadap negaranya. “Ayah saya selalu berkata, untuk menciptakan kedamaian, kita harus saling menghormati kebudayaan masing-masing. Dunia Barat tidak memahami kebudayaan Timur Tengah. Di pikiran mereka, Timur Tengah adalah Bin Laden,” katanya.
Ia berpendapat, seni adalah sarana yang sempurna untuk mencapai tujuan itu. “Saya ingin membongkar benteng ketidaktahuan antara Timur dengan Barat,” tuturnya lagi. Tahun 2008, Sheika Al-Mayassa membuka Museum of Islamic Art. Museum ini menampilkan ratusan karya bersejarah yang mengilustrasikan kebudayaan Islam dari abad ke-7 hingga abad ke-19. “Kami ingin menampilkan bahwa Islam adalah peradaban yang damai, yang selalu menyerukan toleransi dan ko-eksistensi antara masyarakat yang berbeda,” katanya, tajam.
Sepak terjang Sheika Al-Mayassa ini tak urung membuat banyak orang bertanya-tanya. Mereka menduga, pembelian karya seni yang kebanyakan berasal dari seniman Barat ini hanya untuk koleksi pribadi belaka dan sama sekali tidak bermanfaat untuk masyarakat Qatar. Sebagian lagi menuding bahwa kegiatan Sheika Al-Mayassa ini merupakan rich’s girl plaything. Namun, sejumlah ahli menangkis komentar miring itu. Mereka menduga bahwa hal ini merupakan cara Sheika Al-Mayassa untuk menjadikan Qatar sebagai pusat seni di Timur Tengah. Sehingga, masyarakat Timur Tengah tidak perlu terbang ke New York atau Paris untuk menikmati karya seni tingkat tinggi.
Sheika Al-Mayassa boleh jadi sangat royal untuk belanja seni, namun dalam kehidupan pribadinya ia lebih sering tampil bersahaja. Dalam banyak kesempatan ia memilih untuk mengenakan abaya hitam, aksesori sederhana dan kerap dengan riasan seadanya. Tidak seperti ibunya, Sheikha Mozah binti Al Nasser, yang selalu tampil glamor, feminin, dan chic. Bahkan, dalam suatu acara resmi, Sheika Al-Mayassa mengenakan sepatu kets hijau di balik abaya hitamnya.
Gaya berdandannya ini tak lepas dari gaya masa kecilnya yang tomboi. “Maklum, kedua kakak saya laki-laki,” katanya, sambil tersenyum. Wanita yang fasih berbahasa Inggris, Prancis, dan Arab ini menikahi Sheikh Jassim bin Abdul Aziz Al-Thani, yang sebenarnya masih terhitung keluarga. Mereka dikaruniai tiga anak laki-laki: Sheik Mohammed, Sheik Hamad, dan Sheik Abdulaziz.
Sheika Al-Mayassa merupakan contoh generasi muda Timur Tengah terkini yang modern dan berpendidikan. Ia ingin berbuat banyak bagi negaranya dan masyarakat Timur Tengah dengan cara yang positif dan membangun. Dan ia percaya, lewat kebudayaan, tujuannya itu bisa tercapai. Ia ingin masyarakat dunia datang ke Qatar untuk melihat karya seni internasional sekaligus belajar tentang budaya Timur Tengah di museum-museum yang didirikannya.(f)