Meski demikian, keduanya mengaku, perubahan dalam komunikasi tidak terjadi secara instan. Penyesuaian masih banyak terjadi saat anak pertama dan kedua telah lahir, mengingat jalinan asmara mereka sebelum menikah hanya berlangsung dalam hitungan minggu.
“Di tahun 2006, selang beberapa bulan setelah si bungsu lahir, ayahnya Gilang, Ramadhan K.H., meninggal dunia. Beliau satu-satunya sosok orang tua bagi kami berdua. Percakapan antara saya dan ayah mertua selama 8 hari terakhir sebelum ia berpulang, ‘dalam’ sekali bekasnya untuk saya,” tutur Shahnaz, yang menikah dalam kondisi yatim-piatu, sementara ibunda Gilang sudah meninggal juga.
Percakapan dari ayah Gilang banyak sekali mengubah cara berpikir Shahnaz, termasuk sifat keras kepala dan egonya yang akhirnya jauh mengempis. Seorang Ramadhan K.H., yang seorang penulis biografi, rupanya banyak menceritakan bagaimana ia dan istrinya, yang seorang diplomat, berkompromi dalam berumah tangga dengan dunia yang berbeda.
Shahnaz ingat sekali pesan dari sang ayah mertua, “Kalau kamu sudah bosan memaafkan Gilang, atau Gilang sudah bosan mencintai kamu, maka hancurlah perkawinan kalian. Titip Gilang, ya, Naz…. Jangan ditinggal dia.”
Ucapan ini juga dilatari kenyataan bahwa baik Gilang maupun Shahnaz datang dari keluarga cancer survivor. Di usia 26 tahun, Shahnaz dideteksi menderita penyakit kanker ovarium, sementara ibu Gilang juga menjadi breast cancer survivor selama 23 tahun hingga Gilang remaja. “Saya ingat sekali pesannya untuk menjaga kesehatan dengan baik, agar saya bisa terus menjadi cancer survivor,” kenang Shahnaz, yang mengaku bahwa respeknya kepada Ramadhan K.H. bak melebihi cintanya pada Gilang.
Tari Trisulo (Kontributor Jakarta)
Foto: Dok. Pribadi