Fiction
Selendang Merah [5]

6 Jul 2011

<< cerita sebelumnya

Aku benci dan marah sekali mendengarnya. Tiba-tiba saja tanganku sudah menyambar gelas dan membanting gelas itu ke lantai hingga pecah berkeping. Bunyi gelas pecah itu menghentikan suara-suara aneh di dalam kamar Emak. Aku diam menunggu sambil menghitung.

“Satu… dua… tiga… empat… lima….”

Tepat pada hitungan kesepuluh, pintu kamar Emak terbuka.

Emak kembali menutup pintu kamar di belakangnya dan berjalan tergopoh menghampiriku. Rambutnya acak-acakan, juga pakaiannya yang tidak tepat mengancingkannya. Gerak tubuhnya tampak gugup melihatku duduk tepat di depan kamarnya. Apa yang telah dilakukan Emak? Aku tak suka melihat sinar mata Emak yang penuh rahasia.

“Kamu sudah lama pulang, Rindang?” tanya Emak, membelai rambutku.

Aku melihat tangannya basah oleh keringat dan aku menghindar dari tangannya.

“Siapa di dalam kamar, Mak?” tanyaku.

Emak bergerak-gerak gelisah. “Tidak ada siapa-siapa, kok. Tadi Emak mendengarkan kaset dan tertidur mengigau.”

Aku bangkit dan berjalan ke kamar Emak. Tetapi, Emak menarik lenganku kuat-kuat.

“Jangan ke kamar, Rindang! “

“Kenapa?” aku mengerutkan kening.

“Pokoknya jangan ke kamar!”

Aku tak memedulikan Emak. Aku terus berjalan dan mendorong pintu kamar, meski Emak mencoba menghalang-halangiku, bahkan memarahiku. Pintu berhasil kubuka lebar-lebar.

Seorang pria berdiri memunggungi pintu dan sedang sibuk mengenakan pakaiannya. Apa yang baru saja dilakukan terhadap Emak? Ketika menoleh ke arahku, aku mengenali dia. Handoko. Dia adalah pria pertama yang memasuki kamar Emak setelah Bapak meninggal. Aku tak mungkin memaafkan kelancangannya menggoda Emak untuk mengkhianati Bapak. Aku tak akan memaafkannya! Ada kemarahan yang meluap dalam dadaku. Aku berbalik dan pergi.

Jakarta, Maret 2009

Peluncuran album baru Rindang baru saja selesai. Alia menarik lengan Rindang memasuki mobil, menghindar dari serbuan wartawan. Di dalam mobil, Alia langsung menunjukkan sebuah SMS di telepon genggamnya.

“SMS dari siapa?” tanya Rindang, acuh tak acuh.

Alia membaca keras. “Alia, izinkan aku ketemu Rindang. Mungkin umurku tak lama lagi.”

“Dari siapa, sih?”

“Tio...,” jawab Alia, seraya menatap Alia tajam penuh selidik.

“Aku sudah lama tidak ketemu dia. Untuk apa dia mencariku?”

“Karena dia terlalu mencintaimu, Rin.”

Rindang tertawa terbahak. Ia mengeluarkan telepon genggamnya sendiri dan menyodorkan kepada Alia.

“Percaya tidak? Tiap hari dia telepon aku puluhan kali.”

“Dan kau membiarkan saja?” tanya Alia.

“Aku sudah putus dari Tio, Al. Aku tak mau memberinya banyak harapan. Nanti dia kecewa lagi.”

Alia memasukkan telepon genggamnya ke dalam tas, lalu pandangannya menembus jendela mobil. Ingatan Alia kembali melayang pada peristiwa sembilan tahun lalu. Saat ia terbaring opname karena demam berdarah. Rindang menghilang seharian entah ke mana. Setelah itu hubungan Rindang dan Tio putus. Tak ada lagi Tio dalam hidup Rindang. Apa yang telah dilakukan Rindang terhadap Tio? Mungkinkah yang ditakutkan Alia menjadi kenyataan?

“Apa yang kau lakukan terhadap Tio?” bisik Alia, sambil melirik ke arah sopir.

Rindang mengubah posisi duduknya menghadap Alia, lalu menatapnya tajam.

“Kau bertanya seolah-olah aku ini penjahat? Aku memutuskan Tio karena kami tak lagi cocok, memangnya salah?”

“Bukan karena Tio anak Handoko?” Alia balas menatap tajam.

Rindang membuang muka. Sebenarnya ia merasakan sesuatu yang keras menghantam jantungnya, tetapi Rindang menahan diri. Ia benar-benar tak habis pikir, bagaimana Alia bisa tahu segala yang telah ia rencanakan. Bahkan, Alia seperti memiliki banyak mata untuk menguntitnya.

“Sudah kukatakan berkali-kali, Rindang. Aku menyayangimu, karena itu aku tak ingin kau melakukan kejahatan. Balas dendam tak akan menyelesaikan masalahmu.”

Tiba-tiba telepon genggam Alia berbunyi.

“Ya? Kritis? Sekarang? Oke! “
Advertisement

Wajah Alia berubah panik begitu menutup telepon genggamnya. Ia langsung memerintahkan sopir untuk putar balik di depan.

“Kita ke mana, Alia? Bukannya ada pemotretan dengan majalah satu jam lagi?” tanya Rindang, bingung.

Alia sibuk membuka agenda, lalu memencet-mencet nomor telepon genggamnya tanpa menjawab pertanyaan Rindang. Ia membatalkan janji pemotretan dan menundanya besok lusa. Setelah aksi telepon menelepon selesai, wajah Alia masih panik.

“Ada apa, sih?” tanya Rindang, penasaran.

“Kita harus ke rumah sakit. Tio sekarat karena AIDS.”

Rindang tertegun sejenak, lalu membuang muka dari tatapan Alia.

Koridor rumah sakit yang panjang itu terasa pendek bagi Rindang. Alia tergesa-gesa mendahului Rindang. Beberapa wartawan muncul di rumah sakit, mencegat langkah-langkah Rindang. Merasa punya kesempatan mengalihkan perhatian, Rindang meladeni wawancara mereka. Alia berbalik dan menarik lengan Rindang.

“Maaf, teman-teman, kami buru-buru. Nanti saja wawancaranya, ya!” kata Alia kepada para wartawan itu.

Rindang mengikuti langkah Alia memasuki sebuah bangsal rumah sakit. Tio terbaring dengan lemah. Matanya terbuka sedikit dan tubuhnya tinggal tulang berbalut kulit. Orang-orang yang berkerumun di sekitar pembaringan menyingkir, begitu melihat Alia dan Rindang datang. Ini adalah pertemuan pertama Rindang dengan Tio, setelah sembilan tahun berselang.

Mata Rindang langsung terpaku pada seorang pria tua yang berdiri di sisi kanan pembaringan, Handoko. Semua informasi yang didapatkan Rindang dari Nolan tak perlu diragukan lagi. Darah Rindang mengalir cepat menuju ubun-ubun. Jantungnya juga berdetak lebih kencang. Pria itu kurus dan tua. Wajahnya pucat seperti kehabisan darah. Dalam tatapan Handoko yang tak lagi mengenalinya, Rindang melihat ibunya menggeliat sekarat. Tak akan kubiarkan Emak pergi dengan cara seperti itu….

“Rindang…,” panggil Tio, pelan.

Alia mendorong tubuh Rindang untuk mendekat ke pembaringan. Rindang mengulurkan tangannya kepada Tio, pura-pura menggenggamnya dengan hangat.

“Aku mencintaimu, Rindang…,” kata Tio lagi. “Katakan padaku kau juga mencintaiku….”

“Kau harus sembuh, Tio,” jawab Rindang.

“Katakan padaku kau mencintaiku…,” kata Tio, makin lemah.

Alia menyodok lengan Rindang pelan.

“Ya, aku mencintaimu juga….”

“Terima kasih, Rindang….”

Mata Tio kemudian terpejam. Bibirnya mengulas senyum tipis. Tubuh kurus kering rapuh itu telah kehilangan nyawa. Seorang wanita di sisi dipan itu menangis keras, sementara Handoko menenangkannya. Beberapa orang kerabat berdatangan, hilir-mudik memasuki bangsal rumah sakit. Perlahan Rindang menyelinap ke luar bangsal. Ada yang terasa lega di sisi hatinya, namun di sisi lain ada debar aneh yang menakutkan.

“Apa yang kau lakukan pada Tio?” tanya Alia langsung, begitu mereka sampai di apartemen.

Rindang melempar tas tangannya ke sofa, kemudian menjatuhkan dirinya di sana. Ia tak suka Alia menanyakan hal itu. Rindang memilih diam.

“Hei! Kau tak punya telinga?”

“Kenapa kau selalu menuduhku melakukan ini itu terhadap Tio? Kau tak pernah memercayaiku Alia!”

“Bagaimana aku memercayaimu, sementara di belakangku kau selalu bertemu Nolan? Bandit besar itu telah membantumu melakukan semua ini, ‘kan? Ya, Tuhan, Rindang! Bagaimana mungkin kau membunuh Tio?”

Rindang mendengus, kesabarannya telah tandas. “Oh, jadi kau juga membayar Nolan untuk memberi informasi tentangku?”

“Itu kulakukan karena aku tak ingin kehilanganmu!”

“Oke! Aku memang melakukan itu! Puas kau, Alia?”

Alia terbelalak. “Rindang… kau….”

“Kau tak pernah tahu bagaimana rasanya kehilangan ibumu dengan cara seperti itu. Kau tak tahu rasanya, Alia!”

“Aku tahu, tapi kau tak harus membalas dendam sekejam itu.”

Rindang meninju sofa. Kemarahan meledak dalam dirinya. “Kau tak tahu! Aku melihat sendiri ibuku meninggal perlahan! Dan pria itu yang telah membuat Emak seperti itu!”

“Tapi, Rin, Tio bukan anaknya Handoko!” jerit Alia.


Penulis: S. Tary





 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?