Fiction
Selendang Merah [1]

1 Oct 2011

Ia menemukan selendang merah itu di dada Emak yang rapuh. Kedua tangan kurus terkulai ke sisi pembaringan, hendak menjangkaunya, namun tak sampai. Mata cekung Emak menatapnya hampa, seolah maut telah berkawan dengan Emak.

Ke mana tubuh sintal yang bergoyang di atas panggung diiringi gamelan? Ke mana jemari lentik yang lincah mengibaskan ujung selendang? Ke mana mata kejora yang melirik waspada, saat tangan-tangan jail pria berkeliaran menyelipkan uang ke dalam kemben? Ke mana suara merdu saat melagukan gending-gending Jawa? Ke mana kata-kata kenes yang mengundang senyum para pria? Ke mana semua itu, Emak?

Tangan kanan Emak mengulurkan selendang merah kepadanya. Jagalah ini sebagai kenangan, tatapan Emak seolah berucap begitu. Ia menerima selendang itu dan mendekap erat. Tercium aroma keringat seniwati yang semangat menjalani perannya. Dua mata Emak terpejam. Terdengar dengkur sedikit keras, lalu lenyap. Gending kesedihan mengalun pilu.

Saat itu ia merasakan darahnya mendidih, tangan mungilnya gemetar, “Tak kubiarkan kau pergi dengan cara seperti ini, Emak….”

Jakarta, Maret 1998

Rindang menebarkan senyum, lalu membungkuk hormat pada penonton. Terdengar tepuk tangan dan suitan mengiringi langkah Rindang ke belakang panggung. Seorang pria berperawakan jangkung dan bermata lembut menyambutnya. Tio, pria muda yang dipacarinya sejak tiga bulan lalu.

Di samping Tio, Alia berdiri gelisah. Manajernya itu sedang sibuk memberi isyarat pada Rindang dengan beberapa kali mengedipkan mata.

“Jadi, aku bisa pergi dengan Tio, ‘kan?” tanya Rindang ringan, seraya memandang Alia penuh arti.

Alia mendengus, sambil mengeluarkan agenda dari dalam tasnya.

“Ini jadwalmu hari ini,” Alia menyodorkan agenda kepada Rindang, yang kemudian memeriksanya sekilas.

“Hmm... sekarang aku harus ke salon?”

“Ya,” jawab Alia pendek, sambil melirik Rindang tajam.

“Bagaimana kalau jadwal ke salon ditunda? Aku ingin pergi dengan Tio.” Rindang mengerling.

Tio tersenyum. “Benar, Lia, ayolah… beri waktu Rindang untuk kehidupan pribadinya.”

“Nah, benar kata Tio, aku butuh kehidupan pribadi.”

Mata Tio tampak bersinar penuh harap, sementara Alia bergerak-gerak gelisah. Bagaimana mungkin aku memberimu waktu untuk berbuat kejahatan, Rindang? Sedangkan aku menyayangimu….

“Boleh kan, Lia?” Tio mengajuk.

“Hmm… baiklah,” jawab Alia kaku.

Rindang dan Tio saling pandang. Tersenyum. Malam makin tinggi saat dua mobil berjalan berlawanan arah meninggalkan gedung tempat Rindang konser.

“Suaramu merdu sekali, Rindang. Sampai terngiang-ngiang di telingaku setiap malam,” kata Tio, menatap Rindang lembut.

Rindang membuang pandang dari tatapan Tio. Mereka makan malam di sebuah kafe romantis di pinggiran kota. Terletak di atas bukit, kafe itu membuat pengunjung kafe bisa melihat kerlip lampu di pusat kota. Rindang menyukai suasana romantis ini. Apalagi, jauh dari incaran wartawan infotainment. Tetapi, kata-kata yang baru diucapkan Tio membuat darah di urat nadinya mengalir lebih cepat.

Dulu sekali ia pernah mendengar seseorang mengatakan itu dengan suara berat. Persis suara Tio. Suaramu merdu sekali, sampai terngiang-ngiang di telingaku setiap malam….

Berapa lama ia ingin mengaburkan suara berat itu dari telinganya? Sepuluh tahun? Lima belas tahun? Ia tak bisa. Suara gerimis yang menyertai suara itu pun tak mau lenyap. Terngiang-ngiang di telinga Rindang. Dan malam ini, Tio mengucapkan kata-kata yang sama.

“Bagaimana kau bisa menyanyi begitu bagus?” tanya Tio lagi, mengalihkan mata Rindang kembali kepada Tio.

“Bagaimana, ya?” Rindang pura-pura berpikir. “Mungkin jawabannya sama seperti pertanyaan ini. Bagaimana kau bisa mendesain rumah dengan bagus?”

Tio mengangkat bahu. “Karena aku seorang arsitek.”

“Nah! Itu dia jawabannya. Kalau kau bertanya bagaimana aku bisa menyanyi dengan bagus, itu karena aku seorang penyanyi.”

“Pasti ada yang menurunkan bakat menyanyi padamu.”

Rindang pura-pura tak mendengar kata-kata Tio. Ia menyibukkan diri dengan menu makan malamnya. Tio tersenyum, meraih jemari Rindang dalam genggaman tangannya yang kokoh.

“Rindang, boleh aku mencintaimu sampai ajalku?”

Boleh saja. Memang itu yang kuinginkan….

Tio merasakan jemari Rindang membalas genggaman tangannya. Namun, Tio tak merasakan darah di urat nadi Rindang mendidih.

Advertisement
Hangat matahari pagi menerobos masuk melalui jendela kamar yang terbuka. Rindang menggeliat. Samar-samar ia mendengar langkah kaki menghampiri ranjangnya, lalu selimutnya ditarik dengan kasar. Rindang masih memejamkan mata dan berusaha kembali menarik selimutnya menutupi tubuh.

“Bangun, Rin!” suara Alia sedikit menghardik.

Rindang membuka matanya dengan malas.

“Ada jadwal ke mana saja hari ini?”

“Hari ini jadwalmu bicara empat mata denganku.”

“Benarkah? Jadwal yang bagus.”

Rindang memejamkan matanya kembali seraya memeluk guling. Alia duduk di sisi pembaringan.

“Apa yang kau lakukan semalam bersama Tio?”

Perlahan Rindang bangkit dan berjalan menuju wastafel. Terdengar aliran air keran dan Rindang mulai membasuh mukanya.

“Kenapa kau selalu ingin tahu?” Rindang balik bertanya. “Pekerjaanmu manajer artis, bukan psikiater.”

“Tapi, aku kakakmu, Rindang…,” suara Alia tertahan, menyiratkan kemarahan dan kekhawatiran mendalam.
Rindang mengelap mukanya dengan handuk, lalu berbalik. Matanya menatap Alia tajam.

Aku kakakmu. Alia…. Ya, dia memang kakakku….

Lintasan masa lalu berputar cepat dalam benak Rindang.

Alia dan dirinya tumbuh di bawah atap yang sama, meskipun darah mereka berlainan. Alia membuat Rindang merasakan nikmatnya bermanja pada seorang kakak. Alia membuat kesedihan dalam diri Rindang sedikit terkikis. Alia pula yang membuat Rindang berani mengejar mimpinya menjadi penyanyi. Bahkan, Alia rela menunda sekolahnya, karena ingin mendampingi Rindang berkarier sebagai penyanyi.

Tetapi, kasih sayang Alia terkadang berlebihan. Membuat Rindang sering merasa sesak napas.

“Aku sudah dewasa, Lia. Aku tahu apa yang kulakukan. Lagi pula, apakah aku tak boleh mengenal pria? Aku bosan dengan rutinitas jadwal yang padat itu. Wawancara, syuting iklan, nyanyi, salon!”

Alia menggigit bibirnya kuat-kuat. Tubuhnya bergetar. Bibirnya bergerak-gerak hendak mengucapkan sesuatu, namun tak sepatah kata pun terucap.

“Kau tampaknya selalu sibuk setiap aku pergi kencan dengan Tio. Kenapa, sih?” tanya Rindang, melewati tempat Alia berdiri, lalu kembali berguling di tempat tidur.

“Karena… karena… aku tidak mau kau berbuat jahat. Apalagi, membalas dendam melalui Tio. Aku menyayangimu, Rindang.”

Rindang berkerut kening tak mengerti.

“Membalas dendam? Kau ini bicara apa, sih? Apa maksudmu?”

“Sudahlah! Jangan pura-pura tak tahu!”

Tiba-tiba Alia melemparkan alat perekam ke arah Rindang.

“Rekaman itu lebih dari cukup untuk membuka rahasiamu!”

Perlahan Rindang meraih alat perekam itu dan menekan sebuah tombol. Dadanya berdesir saat mendengar suaranya sendiri sedang bicara berapi-api dengan seseorang. Dari sisi pembaringan, Alia menatap Rindang tajam, seolah meminta pertanggungjawaban.

Gemawing, Maret 1985

Sore menjelang petang, ketika Emak menggandeng tanganku memasuki ruang rias. Ruangan ini sempit dan pengap, namun lampu petromaks yang tergantung di sisi atas menyala terang. Pintunya hanya ditutup dengan kain kelambu.

Di sana sudah ada lima tandak (penari) sedang merias diri. Hanya mengenakan pakaian dalam dan sibuk memoles-moles wajah mereka dengan beraneka bedak. Mereka tersenyum ramah padaku, kecuali Sulas, tandak tua yang kalah pamor dengan Emak dan selalu bersikap kurang menyenangkan.

“Makin hari kau makin cantik saja Rindang. Nanti sudah besar bisa jadi primadona tandak kita. Kau mau jadi tandak juga, Rindang?” kata seseorang yang sedang menggambar alis.

Aku tersenyum malu-malu, memegangi lengan Emak.


Penulis: S. Tary



 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?