Sex & Relationship
Sebelum Curhat Dengan Kekasih

5 May 2012


Entah mendapatkan tekanan karena stres dengan pekerjaan, konflik dengan rekan kerja atau atasan, maupun permasalahan keluarga, sebaiknya Anda mengeluarkan isi hati kepada kekasih, karena keterbukaan dan komunikasi adalah kunci hubungan yang 'sehat'. Selain itu, dengan curhat Anda bisa semakin 'dekat' dengan pasangan.

Kenyataannya, memang tidak semua orang bisa curhat kepada orang lain. Orang dengan kepribadian introver biasanya akan menyimpan sendiri masalahnya. Ada juga orang yang dalam keluarganya memang tidak terbiasa berkomunikasi secara terbuka.
Namun, bagi yang ekstrover sekalipun, harus siap secara fisik dan emosi untuk bisa membuka hatinya. “Perlu ada effort atau usaha yang sama besarnya dari pihak yang didengarkan dan mendengarkan. Kita tidak hanya harus menyediakan waktu, tapi juga menyediakan konsentrasi dan perhatian,” tutur psikolog Roslina Verauli.

Itulah sebabnya, ngobrol dari hati ke hati sulit dilakukan ketika pasangan dalam keadaan lelah fisik dan emosi. Saat lelah, seseorang lebih tidak peka dan tidak observatif terhadap kebutuhan orang lain, terhadap pasangannya sekalipun.

“Pasangan yang sudah sangat dekat akan lebih sering ‘berbicara’ dalam bahasa nonverbal dibanding verbal. Gelagat orang yang pikirannya ‘kusut’ biasanya sudah terlihat sebelum orang itu curhat. Sebaliknya,kalau kira-kira pendengarnya tidak konsentrasi, orang jadi enggan curhat,” urai Vera.
Advertisement

Menurutnya,banyak orang yang tidak paham bahwa curhat adalah sarana melepaskan ketegangan, bukan untuk meminta solusi. Orang yang memiliki masalah memerlukan psychological air atau ‘ruang’ psikologis untuk bernapas lega. Caranya, dengan dibiarkan menumpahkan unek-unek secara panjang lebar. Dengan menceritakan masalahnya, seseorang melakukan reframing dan mengurai masalah satu demi satu di kepalanya.“Proses ini penting dalam problem solving.Karena, yang bisa memecahkan masalah adalah orang itu sendiri, bukan solusi dari orang lain,” kata Vera.

Yang biasa memicu konflik adalah ketika ego dan harga diri turut campur dalam sesi intim antara dua individu ini. “Kadang-kadang ego membuat kita merasa lebih pintar dan lebih tahu. Kita merasa bisa memberi jawaban atas semua masalah yang dihadapi pasangan. Kitalah ‘penyelamat’ mereka,” ujar Vera. Hal ini terutama sering terjadi pada pria, yang memiliki insting untuk menjadi problem solver dari segala situasi.

Menurut Vera, pasangan perlu saling memahami, bahwa setiap orang butuh pendengar yang baik. Artinya, pendengar yang tidak sekadar hadir,tapi juga memberi perhatian penuh, menanggapi seperlunya, dan memberi solusi bila diminta.

Ada satu trik ‘rahasia’ psikolog dalam mendengarkan pasien yang dapat ditiru, yaitu mirroring gesture. “Mengikuti bahasa tubuh pasangan saat kita berhadapan dengannya akan membuatnya merasa lebih nyaman,” kata Vera.



 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?