Cara membuatnya tidak sulit. Oncom disiapkan pertama kali. Untuk nasi campur olahannya, Ambar memilih oncom hitam yang terbuat dari bungkil kacang tanah. Selain jarang dipakai oleh nasi tutug lain, oncom hitam terasa lebih gurih. Agar aroma asapnya kuat, oncom tidak ditumis, melainkan dibakar terlebih dulu hingga matang. Dengan dibakar, oncom juga jadi tidak basah. Sebab, jika ditumbuk dalam keadaan basah, maka oncom akan sulit menyatu dengan nasi. Setelah dibakar, oncom dihancurkan bersama bumbu berupa kencur, bawang merah, terasi, dan garam.
Untuk mengaduk nasi, Ambar pun memakai cara tradisional, menggunakan dulang (ulekan) yang terbuat dari bongkahan kayu pohon nangka. Ambar rela menjelajah hingga daerah Cicalengka, dekat Bandung, untuk mencari dulang yang keberadaannya kini sudah mulai langka.
Ambar menyediakan tiga varian rasa nasi, yaitu Sangu Tutug Pasundan, Sangu Tutug Ikan Asin, dan Sangu Tutug Opak Pedas. Sangu Tutug Pasundan merupakan versi asli nasi tutug. Hanya berupa nasi campur oncom, dan diberi taburan kerutuk atau remahan tepung gorengan tempe yang gurih dan garing. Sangu Tutug Ikan Asin jadi jawaban bagi penyuka sangu tutug yang bercita rasa asin gurih. Suwiran ikan jambal berpadu apik dengan nasi hangat, menciptakan sepiring nasi tutug yang menggiurkan.
Pengalaman makan sangu tutug makin lengkap, dengan beragam lauk ala rumahan sebagai pendamping, seperti tahu goreng, tempe goreng, ayam goreng, serundeng, semur daging sapi, hingga tumis-tumisan. (BLI)
Lokasi: Jl. Bina Marga No.13, Baranangsiang, Bogor. Telp: (0251) 8323 392. Harga*): Makanan dan Minuman: Rp3.000 – Rp20.000. Jam buka: Setiap hari, pukul 11.00 – 17.00 WIB. Suasana: Warung makan tradisional.
*) Harga dapat berubah sewaktu-waktu, cek sebelum bersantap.
FOTO: HARRY HIKMATULAH.