Fiction
Sang Penulis [4]

27 Jun 2011

<< cerita sebelumnya

“Benar,” sahut Darmian, singkat. “Perkenalan kami cepat sekali. Tiba-tiba saja Ayah datang dengan seorang wanita dan anak perempuan, memperkenalkan mereka sebagai orang yang akan menjadi ibu dan adik saya.”

“Reaksi Anda waktu itu?” Abel bertanya penuh rasa ingin tahu.

“Saya sudah pasti kaget sekali. Sejujurnya, saya tidak menyangka akan ada pengganti ibu saya. Apalagi seorang adik perempuan! Semuanya terlalu cepat.”

“Apa yang Anda lakukan?”

“Saya menjadi pribadi yang sangat pemarah. Segala-galanya saya lampiaskan dengan emosi. Tidak ada yang berani menyapa, bahkan pembantu yang sudah saya anggap seperti keluarga, tidak berani bertanya apa-apa, kalau tidak perlu sekali. Di sekolah juga sama. Saya melawan guru-guru, berkelahi dengan anak-anak laki-laki, bolos, merokok. Apa saja saya lakukan untuk membuat ayah saya seperti orang kebakaran jenggot.”

Jantung Abel berdebar-debar. Masa remaja Darmian ternyata jauh dari indah. “Sampai berapa lama?”

Darmian tercenung. “Tiga tahun. Rumah laksana neraka. Ayah saya mulai sering memukuli saya. Ibu tiri saya memilih diam dan mengiyakan saja apa yang saya inginkan, termasuk juga mendiamkan kekerasan yang dilakukan ayah saya. Hingga suatu hari, ketika saya sedang dipukuli  Ayah, Mariana memohon agar Ayah menghentikan semuanya. Mariana berdiri di antara Ayah dan saya, berteriak sambil menangis agar beliau berhenti.”
“Mariana sungguh berani. Padahal, dia baru kelas tiga SMP saat itu, ‘kan?” kata Abel, tanpa menyembunyikan kekagumannya. Siapa yang menyangka bila melihat Mariana yang cantik dan tampak lembut hati itu? Setiap laki-laki pasti berlomba-lomba ingin menjadi pahlawan pelindung, kesatria kuda putih, atau pangerannya.

 “Ya, kau benar. Mariana sangat berani. Sesungguhnya, bukan cuma saya yang kaget. Ayah saya dan ibu tiri saya juga. Kalau mengingat kembali bagaimana Mariana menangis waktu itu, memohon-mohon pada Ayah agar beliau berhenti dan sedikit saja bersedia melihat berapa banyak lebam dan memar yang sudah saya alami, hati saya seperti diremas-remas. Selama ini, tidak ada seorang pun yang mau mengulurkan tangan untuk sungguh-sungguh menyelami apa yang saya rasakan. Ayah berlaku seakan-akan semuanya baik-baik saja,” kata Darmian, panjang lebar.

“Dan ayah Anda luput memperhatikan perasaan Anda sebagai seorang anak kecil,” sambung Abel. Rasa kasihan dan simpati campur aduk di dalam hatinya.

Darmian mengangguk tanda setuju. “Mariana berhasil menghentikan pukulan-pukulan Ayah. Mariana bahkan berhasil membuat rumah menjadi lebih tenang. Kau tahu, Annabel, aku belum pernah melihat seseorang menangis begitu sedihnya untuk saya. Tidak ibu saya, tidak siapa pun. Hari itu adalah titik balik.

Sudah satu minggu Abel tinggal di rumah Darmian. Setiap hari, setelah sesi wawancara yang dilakukan di perpustakaan pribadi Darmian, ia selalu kembali ke kamarnya untuk menyusun data dan merangkai kata-kata. Abel sedang mengetik di laptop-nya ketika pintu kamarnya diketuk. Ketika pintu dibuka, ia mendapati Mariana berdiri di depannya, tersenyum. Abel balas tersenyum. Matanya bertanya-tanya.

“Sedang sibuk, ya?”

Abel menoleh ke laptop-nya yang terletak di atas meja. “Ya, biasa. Aku sedang menggabungkan data.”

Mariana mengangguk-angguk. “Yah, aku cuma berpikir untuk mengajakmu keluar, untuk jalan-jalan. Kamu sudah satu minggu di sini, tapi kita jarang sekali bicara.  Aku ingin mengajakmu ke kafe buku milik temanku, tapi lain kali juga tidak apa-apa,” Mariana mengibas-ngibaskan tangannya. “Sori, sudah mengganggu.”

“Nggak, kok!” sanggah Abel cepat. Ini kesempatan baginya untuk tahu lebih banyak tentang Darmian dari sudut pandang orang lain. Siapa lagi orang yang paling tepat selain Mariana?

“Bener?” tanya Mariana, memastikan. Abel masuk ke kamarnya dan menyimpan file yang sedang ia kerjakan.

Di dalam mobil yang sedang melaju, Mariana bercerita, “Aku dan Tamara sama-sama kuliah di sini dulu. Setelah lulus, kami berpencar. Aku di Jakarta dan dia di Surabaya. Dia sekarang sudah menikah. Hampir lima tahun kami tidak pernah bertemu. Dua hari yang lalu aku dapat e-mail darinya, yang mengatakan dia sekarang lagi di Bandung.”

Advertisement
“Jadi, selama ini dia tinggal di mana?”

“Oh, dia tinggal di Sydney dengan suaminya. Aku memang sempat menceritakan padanya soal kepindahanku dan Mas Darmian ke Bandung. Karena bisa cuti, akhirnya dia bela-belain ke Bandung untuk ketemu,” sahut Mariana. “Kafe buku ini dulu usaha patungan teman-teman. Tapi sekarang milik paman Tamara. Dibeli sewaktu kami lulus kuliah.”   

Abel hanya mengangguk-angguk. Dua puluh menit kemudian, mereka tiba di sebuah kafe yang dari tampak luar sangat cozy. Book+Stop, demikian nama kafe itu ditulis. Book+Stop memiliki desain yang unik dengan gambar cangkir kopi dengan asap mengepul dan buku di atas meja. Para pencinta buku pasti penasaran untuk mencoba masuk. Itulah yang dirasakan Abel.

Mariana mendorong pintu kaca dan masuk diikuti Abel. “Tamara!” panggil Mariana. Wanita yang ia panggil sedang melangkah keluar dari ruang sebelah dengan tumpukan buku di tangannya. Wajahnya langsung cerah.

“Mariana! Aduh, kangen-nya…!” Wanita itu buru-buru meletakkan buku-buku yang ada di tangannya ke atas counter. Dengan senyum lebar, ia merentangkan kedua lengannya untuk memeluk Mariana yang sama senangnya bertemu teman lama.

“Apa kabarnya? Dasar Mariana, masih tetap cantik dan langsing! Tidak seperti aku. Lihat, nih,” kata Tamara, sambil menarik-narik gumpalan lemak di bagian perutnya. Mariana cuma tertawa.

“Bagaimana kabar Thomas dan Rafael?” tanya Mariana.

“Mereka baik-baik saja, kok. Biar si papanya yang ngurus Rafael selagi aku di Bandung. Pokoknya, untuk satu minggu ini, aku jadi wanita single lagi!” sahut Tamara, seraya mengedipkan matanya.

“Book+Stop dulu idenya Tamara. Dia yang pertama kali ingin membentuk komunitas baca untuk mahasiswa. Dulu waktu kami kuliah di Padjadjaran, kami sering sekali kumpul-kumpul dengan teman-teman yang punya hobi sama: membaca. Saling meminjamkan koleksi buku atau novel, akhirnya lama-lama jadi seperti kegiatan rutin. Ujung-ujungnya, kami keluar uang untuk menyewa tempat ini,” Mariana menjelaskan asal-muasal Book+Stop pada Abel, setelah mereka bertiga duduk di meja di bagian sudut kafe.

Abel mengedarkan matanya dengan kagum. Suasana yang nyaman, musik yang mengalun tenang, dan secangkir teh untuk menemani,  sungguh ide yang brilian. Di ruang buku --begitulah ruangan itu disebut-- berjejer rak-rak buku yang tertata apik laksana sebuah perpustakaan. Abel berencana melihat-lihat nanti. Dengan sentuhan bisnis yang baik, tempat ini kini menjadi lokasi favorit para pencinta buku.

“Nah, sekarang ceritakan padaku. Kenapa Mas Darmian tiba-tiba ingin menerbitkan biografi?” tanya Tamara.

“Kami tidak sengaja bertemu Mbak Irna, kenalannya di penerbitan. Semuanya bermula dari sana,” ujar Mariana.

“Dan Annabel ini?”

“Pihak penerbit yang menghubungiku,” sahut Abel. “Mereka memintaku menulis biografinya. Kebetulan, aku salah satu penggemar novel-novel Darmian Trisjoyo. Tanpa perlu berpikir dua kali, aku langsung menyetujui,” kata Abel.

“Aku juga salah satu penggemarnya,” kata Tamara. “Book+Stop punya koleksi lengkap novel Mas Darmian. Aku selalu berharap Mas Darmian mau menulis lagi setelah kecelakaan itu, tapi kurasa biografinya bisa menjadi pelepas rindu.”

Wajah Mariana berubah sedih. “Kecelakaan itu benar-benar malapetaka. Hariman meninggal. Mas Darmian hidup, tapi cacat. Semua rencana hidupku hancur berantakan.”

Tamara mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Mariana. Diremasnya tangan Mariana untuk memberinya kekuatan. Abel tiba-tiba merasa menjadi orang yang tidak seharusnya berada di sana.

cerita selanjutnya >>

Penulis: Vivi



 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?