Fiction
Sang Penulis [3]

27 Jun 2011

<< cerita sebelumnya

Usaha Abel tidak sia-sia. Novel ketiganya meledak. Abel makin membentuk karakter tulisannya dan mempertajam kemampuannya. Sejak saat itu, namanya mulai dikenal pencinta novel. Ia makin produktif. Tepat pada saat namanya makin melambung, kecelakaan menimpa Darmian. Abel sangat terpukul dan merasa sedih. Ia yang selama ini mendapat semangat dari buku-buku Darmian seolah-olah diempas godam beratus-ratus kilogram. Ia ikut limbung. Tapi, lihatlah apa yang terjadi tiga tahun setelah kecelakaan itu. Siapa yang akan berani memimpikan kenyataan bahwa ia akan menghabiskan waktu dua bulan bersama Darmian? Orang yang telah menjadi support abadinya?

Abel menyusun semua novel Darmian dan menyusuri koleksinya dengan sentuhan sayang. Ia akan membawa novel-novel ini ke Bandung juga. Kalau Darmian bersedia, Abel ingin mendiskusikan novel-novelnya. Untuk saat ini, ada dua novel yang menjadi favoritnya, yakni Perempuan Senja dan Tujuh Kilau Permata, novel Darmian yang keempat sekaligus terakhir.

Tujuh Kilau Permata sangat fantastis. Pendalaman Darmian terhadap filosofi kehidupan masyarakat tradisional Dayak yang melatari ceritanya menjadi daya tarik dan bukti bahwa keahlian Darmian meramu cerita  makin meningkat. Abel sudah membaca novel itu lebih dari dua kali, dan setiap kali membacanya, ia tetap masih bisa merasa rambut-rambut di tubuhnya meremang akibat gaya penceritaan dan kisah yang hebat.

Tapi, tentu saja itu harus menunggu, senyum Abel, karena itu adalah untuk kepentingan pribadinya. Namun, bila ia bisa mengorek semua kisah tentang kehidupan Darmian Trisjoyo untuk kepentingan pekerjaan, Abel yakin tak ada lagi pekerjaan yang semenyenangkan dan semendebarkan itu. Darmian Trisjoyo adalah pujaannya. Obsesinya.

“Sesi wawancara pertama: hari Rabu, tanggal 22 April 2009.”
Setelah tiba di rumah Darmian, Abel langsung terjun ke pekerjaannya.

Ia amat antusias. Rasa senangnya muncul dengan alasan-alasan yang tumpang tindih. Mungkin karena ini adalah pertama kalinya ia berlaku seperti jurnalis yang mewawancarai seorang narasumber penting. Atau mungkin karena orang yang duduk di hadapannya saat itu adalah Darmian Trisjoyo. Yang mana saja, Abel tak peduli. Yang penting, ia ada di sana, senyata-nyatanya, dan ia sungguh menikmatinya.

Pita kaset berputar, menunjukkan proses rekaman sedang berlangsung. “Hari ini kita akan berbicara soal keluarga, Pak Darmian. Anda bisa menceritakan tentang latar belakang keluarga Anda.”

Darmian menarik napas sedikit. “Saya lahir pada tanggal 28 Maret 1972, di Jakarta, di sebuah keluarga yang secara turun-temurun berprofesi sebagai dokter. Kakek saya, Hariadi Trisjoyo, adalah dokter bedah. Ayah saya, Arman Trisjoyo, adalah seorang ginekolog. Dan saya sejak kecil sudah diatur untuk menjadi seorang dokter.”

“Diatur?” Abel mengangkat alisnya. Tangan Abel sibuk menulis. Rekaman itu hanya pelengkap. Abel memutuskan, ia akan tetap mencatat detail-detail penting.

“Benar. Terlahir di sebuah keluarga dokter, saya tidak diberikan banyak pilihan. Terutama karena saya anak tunggal, mungkin. Ibu saya punya penyakit jantung yang cukup serius. Beliau tidak diizinkan hamil lagi karena bisa membahayakan jantungnya. Kondisi jantungnya makin parah sejak saya masuk SD. Beliau bahkan pernah diopname di ruang ICU sebanyak tiga kali sebelum meninggal karena gagal jantung sewaktu saya SMP.”

Abel mengerutkan keningnya. “Anda bilang, Anda anak tunggal. Lalu Mariana?”

“Mariana adik tiri saya,” kata Darmian. “Saya akan menceritakannya nanti.”

Abel mengangguk-angguk. “Oke, kalau begitu, kembali ke ibu Anda. Berapa usia Anda waktu beliau meninggal?”

“Saya masih kelas satu SMP, yah, lebih kurang dua belas tahun,” Darmian tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Ia tampak tak acuh.

“Bagaimana perasaan Anda waktu itu?”

“Sejujurnya,” Darmian menghela napas, “saya tidak benar-benar dekat dengan ibu saya. Karena penyakitnya, ia lebih sering berada di rumah sakit daripada di rumah. Segala keperluan saya lebih banyak diurus pembantu dan saya bahkan lebih dekat dengan pembantu saya daripada ibu saya. Ayah saya hanya menyisihkan sedikit waktunya untuk saya. Bagaimanapun, beliau itu dokter. Jadi, pada saat ibu saya meninggal, saya hanya merasa sedikit sedih.”

“Nama ibu Anda?” Abel cepat-cepat bertanya. Itu sebuah informasi yang penting yang tidak boleh dilupakan.

“Olivia.”

“Nama yang bagus,” komentar Abel tulus, seraya menuliskan nama itu di notes-nya. “Lalu bagaimana sebenarnya masa kecil Anda? Walaupun Anda bilang Anda tidak dekat dengan ibu Anda, apakah Anda tidak pernah merindukan beliau? Karena waktu saya kecil, saya selalu mengekori ibu saya,” kata Abel, tertawa.
Advertisement

Darmian tersenyum. “Yah, sudah pasti saya juga merindukan ibu saya. Saya bahkan iri dengan teman-teman saya yang punya ibu yang sepertinya selama dua puluh empat jam bisa mendampingi mereka, tidak seperti ibu saya. Pada masa saya SD, kesehatan ibu saya drop sekali. Pada waktu itu, saya ingat saya pernah memohon pada ayah saya supaya saya bisa tidur di rumah sakit juga. Hanya sekadar bersama Ibu. Tapi, itu sudah pasti tidak mungkin.”

Abel menangkap kepahitan di dalam suara Darmian.

Meskipun awalnya Darmian tidak menunjukkan ekspresi berarti, pertahanan emosinya tampaknya sedikit runtuh ketika mengingat masa kecilnya.
“Apa kenangan terindah yang Anda miliki bersama ibu Anda sebelum beliau meninggal?”

“Ibu saya dulunya guru. Beliau berhenti mengajar setelah melahirkan saya. Beliau punya hobi membaca,  koleksi buku yang beliau miliki sangat banyak. Beliau suka membelikan saya buku cerita anak-anak untuk kemudian membacakannya sebelum saya tidur.” Mata Darmian tampak menerawang. Raut wajahnya melembut. “Saya ingat semua cerita yang beliau bacakan untuk saya. Mulai dari Sinbad, Aladdin, sampai dongeng-dongeng Hans Christian Anderson. Mungkin itu adalah masa yang paling saya rindukan. Petualangan-petualangan seru dan cerita-cerita indah.”

“Apakah pada saat itulah Anda mulai tertarik pada buku?”

“Ya. Buku menjadi teman saya yang paling setia sejak saat itu.”

Abel membiarkan hening meraja sesudah Darmian berhenti bicara. Darmian mengalihkan pandangan matanya. Setelah kira-kira satu menit berlalu, Abel baru berani melontarkan pertanyaan.

“Bagaimana dengan ayah Anda?”

“Ayah saya?”

Sepasang mata Darmian kembali terpaku pada Abel. “Setelah Ibu meninggal, Ayah tetap menjalani hidupnya seperti biasa. Yah, saya juga begitu, masih tetap lebih banyak diurus pembantu.”

“Kakek dan nenek Anda?”

“Mereka tidak tinggal bersama kami, tapi bersama paman saya, anak laki-laki tertua di keluarga kami. Kakek saya sudah meninggal hampir sepuluh tahun yang lalu. Nenek saya menyusul lima tahun yang lalu. Sejak dulu, saya tidak dekat dengan kakek dan nenek saya. Dengar-dengar, sih, karena mereka tidak begitu menyetujui ayah saya menikah dengan ibu saya.”

“Karena apa?” Abel mengerutkan dahinya.

Darmian tersenyum, tapi senyumnya menyiratkan sedikit kesinisan. “Ini bukan zamannya Siti Nurbaya, Annabel, tapi yang namanya status, latar belakang keluarga, tetap yang dijadikan pertimbangan, apalagi oleh keluarga saya. Ibu saya berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Ditambah lagi ibu saya juga sakit-sakitan. Kakek dan nenek saya menentang pernikahan orang tua saya. Tapi, ayah saya tetap menikahi ibu saya.”

“Lalu, setelah ibu Anda meninggal, ayah Anda menikah lagi?”

“Ayah saya menikah lagi satu tahun setelah ibu saya meninggal. Ibu tiri saya seorang janda beranak satu. Anak itu empat tahun lebih muda dari saya. Itulah Mariana.”

“Jadi, Mariana dan Anda adalah saudara tiri?”

cerita selanjutnya >>

Penulis: Vivi



 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?