Perlahan aku mendekat, dari balik kaca etalase tampak bermacam-macam kue dan roti ditata sedemikian rupa. Mengundang selera siapa saja, bahkan orang yang sudah kenyang sekalipun.
Tapi, aku lebih tertarik pada bayanganku sendiri. Seorang pria berusia dua puluh enam tahun, berkemeja kotak-kotak biru tua. Jeans biru pekat dan ransel hitam berisi laptop mampu menyamarkan tubuhku yang jangkung dan agak kurus. Model rambutku masih seperti yang dulu. Lurus tebal dengan belahan samping yang kini kubiarkan menjadi baur, tak terlalu jelas garis batasnya. Tak ubahnya garis waktu yang terkadang bertemu, membiarkan siapa pun mencairkan batas antara kenangan, harapan, atau sekadar keinginan-keinginan semu yang membuat hidup menjadi lebih berwarna.
Sebentuk roti nyaris tertutupi kue-kue yang lebih semarak warnanya. Bentuk yang tak asing lagi bagiku! Aku mendekat, kulekatkan tanganku ke dinding kaca. Embusan napasku meriapkan titik-titik embun yang membentuk beberapa bayangan wajah lain. Lima pemuda cilik dan hari-hari penuh warna. Bayanganku tiba-tiba berubah, jadi anak laki-laki sebaya mereka. Berkaus biru langit, celana pendek merah dengan senyum yang tak pernah lekang oleh kata menyerah.
Lima belas tahun yang lampau, hampir setiap hari aku singgah di toko roti dekat perempatan itu. Hanya untuk memandangi sesosok benda yang sering kali jadi bagian dari mimpi-mimpiku. Mungkin benda itu tak ada artinya bagi orang lain, tapi kebalikannya bagi diriku. Hampir semua orang tahu, benda berekor itu selalu jadi primadona dalam pesta khitanan di kampung kami, yang letaknya di pinggir kota.
Ya, siapa pun tahu, benda itu namanya roti buaya. Roti istimewa yang sengaja dibentuk mirip hewan reptilia bermulut panjang dengan gigi-giginya yang runcing. Toko roti itu menjual tiga jenis roti buaya. Paling kecil panjangnya 45 cm, harganya Rp45.000. Lalu yang ukuran sedang itu 70 cm, harganya Rp65.000. Yang paling mahal tentu saja yang paling besar, harganya Rp85.000. Panjangnya 95 cm, hampir satu meter!
Roti buaya paling besar itulah yang ditampilkan dalam pesta khitanan Satria, temanku yang sangat beruntung. Tidak tanggung-tanggung, jumlahnya dua puluh! Belum lagi pertunjukan kesenian yang sengaja didatangkan dari Garut. Tamu yang diundang lebih dari lima ratus orang. Termasuk beberapa pengusaha terkenal, sahabat ayah Satria. Keesokan harinya, kemeriahan pesta itu menjadi buah bibir penduduk kampung. Termasuk kami berlima, teman sepermainan Satria.
“Sekarang, Satria lagi ngapain, ya?” celetuk Catur, yang baru berusia delapan tahun, paling muda di antara kami. Saat itu aku masih berumur sebelas tahun.
“Paling sedang menghitung uang panyecep. Pasti dia dapat uang banyak!” timpal Amin.
“Wah, itu sudah pasti! Kalian lihat tidak waktu Pak Camat memasukkan amplop…? Mmm… segini, nih, tebalnya!” ujarku. Jempol dan telunjukku membentuk jarak kira-kira ketebalan amplop. Mungkin, amplop itu lebih tebal daripada jemariku yang kurus.
“Ah... paling juga uang seratusan baru!” kata Catur. Yang lain riuh menimpali.
“Kalau seratus ribuan, kaya banget, dong, Pak Camat. Lebih kaya dari bapaknya Satria yang punya perkebunan teh!”
“Iya, mobilnya saja dua. Kata Satria, mereka masih punya beberapa mobil lagi yang disimpan di rumah mereka yang lain.”
“Enak, ya, jadi orang kaya…!”
“Tapi, belum tentu mereka bahagia! Saudara ibuku kaya, tapi anaknya masuk penjara karena kecanduan obat terlarang!”
“Ah, kamu, ngomongnya sok dewasa! Mendingan kita taruhan, yuk. Kita tebak berapa isi amplop dari Pak Camat! Jawabannya nanti kita tanya sama Satria, siapa yang paling mendekati jumlah itu, dia yang menang!”
“Yang menang hadiahnya apa?”
“Pokoknya, kita harus menyerahkan benda milik kita yang paling berharga!”
Kami terdiam. Berpikir keras.
“Aku mau kasih dua ekor hamster kesayanganku!”
“Aku mah si Popo saja, kelinci yang baru dibelikan ayahku….”
“Aku punya tiga ekor ikan cupang yang keren, tapi jangan lupa dikasih makan, ya!”
“Mainan tetris punyaku boleh, deh, diambil!”
Kami sama-sama berkhayal jadi pemenang taruhan. Tentu saja, memiliki benda-benda istimewa itu berarti seorang juara dan membuatnya jadi yang paling keren di antara mereka. Tapi, apa kata Amin tadi? Harus dikasih makan? Wah, bikin repot juga, ya! Juara, sih, juara… uang jajan tiap hari bisa amblas kalau dipakai buat beli makanan hewan-hewan itu!
Dudi yang sedari tadi diam saja, akhirnya bersuara juga.
“Benar, nih, kita mau taruhan? Kalau aku kalah, ambil, deh, sepedaku!”
Kami saling berpandangan. Dudi
nekat! Taruhannya kelewat besar. Sepeda gunung warna biru metalik itu harganya sangat mahal. Dibeli dari semua uang panyecep khitanan Dudi. Itu pun masih kurang, karena ayah Dudi masih menambahnya.
“Ya, serius! Sekarang kita sebut saja, jumlah tebakan kita!”
“Oke, tapi jangan menyesal, ya, kalau kalian kalah! Aku bisa saja bilang taruhannya sepedaku, soalnya aku pasti menang!”
“Jangan sombong dulu. Aku jadi curiga, jangan-jangan kamu sudah tahu jawabannya dari Satria!”
“Ya, nggak, dong, kalian semua lupa, ya? Waktu aku disunat, Pak Camat kasih amplop yang tebal banget. Isinya lima puluh lembar uang seribuan baru. Jadi, pasti aku bisa menerka lebih baik daripada kalian!” ujar Dudi, polos.
Kami tertawa. Dudi paling tua umurnya di antara kami, hampir empat belas tahun, hanya beberapa bulan lebih tua dari Satria. Satria dan Dudi sama-sama kelas satu SMP. Sudah sebesar ini Dudi pintar-pintar bodoh. Seharusnya apa yang dia ketahui dirahasiakan dulu. Sebutkan saja tebakannya, tanpa mengatakan dari mana dia tahu jawabannya.
“Ya, sudah, karena Dudi sudah tahu duluan, kita batalkan saja taruhan ini!” kata Amin.
“Ya… ya! Kata Pak Ustaz, taruhan itu dosa, lho!” timpal Catur.
“Tapi, belum tentu jumlah uangnya sama dengan yang di amplop Satria,” sela Bagas.
“Memang, sih, tapi aku masih ingat tebalnya amplop Pak Camat waktu Dudi disunat, kurang lebih sama dengan yang aku lihat kemarin!”
Akhirnya kami bubar. Dua ekor hamster yang lucu dan gesit, seekor kelinci gembul, tiga ekor ikan cupang keren yang doyan makan, tetris, dan tentu saja sebuah sepeda gunung biru metalik, mau tidak mau menggelinding keluar dari benak kami.
Penulis: Katherina
Pemenang III Sayembara Mengarang Cerber femina 2009