1. Awalnya jatuh cinta pada dunia kuliner?
Marinka: Sewaktu kuliah di Australia, saya terbiasa membuat makanan yang simpel, seperti nasi goreng kambing atau martabak. Lama-kelamaan saya jadi penasaran dan makin suka masak. Setelah lulus dari bidang ilmu design, saya langsung mendaftar ke Le Cordon Bleu karena benar-benar ingin mempelajari basic ilmu memasak, yaitu french cuisine and patisserie.
2. Mengapa memilih bidang kuliner tersebut?
Marinka: French cuisine and patisserie adalah basic dari segala ilmu memasak. Dalam bidang ini, semua ada takarannya. Dari segi teknik segala sesuatunya harus pas dan detail sesuai dengan aturan. Jadi menurut saya, kalau sudah menguasainya akan lebih mudah untuk merambah ke berbagai jenis makanan lainnya.
3. Pengalaman yang diperoleh selama menuntut ilmu?
Marinka: Tiap pagi biasanya dimulai dengan kelas teori memasak, lalu siangnya langsung praktik. Mulai dari cara bikin stock (kaldu), cara mengangkat lemak, hingga memotong bahan makanan. Dulu saya termasuk yang amatir karena teman-teman saya yang lainnya adalah koki profesional yang ingin belajar dari basic juga. Saya ingat, di awal-awal tangan saya sampai tersayat-sayat kena pisau. Namun bagi saya, semuanya proses belajar yang menyenangkan dan tak terlupakan!
4. Masakan apa yang sampai saat ini masih bikin penasaran karena belum berhasil dikuasai?
Marinka: Gluten free bread sampai sekarang masih jadi tantangan. Saya masih belum bisa mengakali bagaimana membuat roti tanpa tepung terigu, tetapi tetap mempertahankan tekstur yang fluffy, empuk, dan kenyal seperti roti pada umumnya.
5. Punya impian terpendam?
Marinka: Jadi pelukis. Dari dulu saya hobi melukis, biasanya temanya tak jauh dari surealisme. Melukis merupakan me time favorit karena bisa memberikan ketenangan batin sekaligus menjadi sarana pelepas stres. Pelukis yang menginspirasi saya adalah Gustav Klimt. Menurut saya, karya-karyanya unik, artistik, dan memberikan warna yang berbeda, seperti lukisannya yang paling terkenal, The Kiss.
6. Suka duka menjadi chef dari awal sampai sekarang?
Marinka: Saya pernah bekerja di hot kitchen (dapur restoran fine dining atau hotel berbintang yang menyajikan masakan dimatangkan dengan api). Dunia itu didominasi oleh pria. Sangat menantang. Bayangkan, orang sekecil saya harus mengangkat berkilo-kilo kentang yang sudah dikupas di dalam air, mengangkat kardus besar-besar, dan mengupas puluhan kulit bebek per hari dalam waktu yang cepat. Walau berat, pengalaman ini menggembleng mental saya. Sukanya, saya terus belajar hal baru dari tiap negara yang saya kunjungi. Saya baru melakukan trip ke Jepang dan diajari tentang makanan Jepang dan cara memasaknya. Ternyata, berbeda dengan yang saya ketahui selama ini.
7. Dalam keseharian, suka memasak untuk pasangan atau sebaliknya?
Marinka: Kebetulan kekasih saya sekarang jago masak makanan Eropa. Jadi, kalau saya lagi malas, dia yang masak buat saya. Meski begitu, ia selalu meminta masukan saya karena dia tahu saya lebih jago, ha… ha… ha….
8. Hobi selain memasak?
Marinka: Saya suka olahraga bela diri, dan sempat rutin berlatih art of combat, namun belakangan frekuensinya berkurang karena kesibukan. Selain itu, saya juga suka nonton film di bioskop atau membaca buku.
9. Proyek selanjutnya?
Marinka: Ingin merilis buku tentang resep masakan Indonesia. Saya akan memilih makanan yang bisa dicicipi oleh ‘lidah’ internasional dan mengungkap kisah di balik semua makanan pilihan saya agar makanan Indonesia booming di dunia internasional.(Woro Hartari Trianti)