Ketika mendengar berita baik seperti pernikahan, ‘sudah dari sananya’ pasti heboh. Ungkapan sebuah pernikahan bukan hanya menyatukan dua orang, melainkan menyatukan dua keluarga besar menjadi satu keharusan. Jangan lupa, definisi keluarga di sini bukan hanya keluarga inti, tetapi berlanjut pada lapisan berikutnya, seperti sepupu hingga sepupu kedua dan seterusnya. Pada perkembangan masyarakat modern, makna bersatunya dua keluarga ini mulai mengalami pergeseran. Masyarakat yang tadinya kolektif, sekarang cenderung lebih individual dan lebih perhitungan.
“Korelasi sosial dan karakteristik kelompok pada masyarakat perkotaan tentu berbeda dengan masyarakat di pedesaan. Fenomena private wedding party ini tidak mungkin dilakukan di pedesaan, tetapi akan masuk di masyarakat perkotaan yang memang sudah sangat memahami batas-batas siapa yang dianggap keluarga, sekadar teman atau sahabat yang diutamakan,” papar Ida.
Keterikatan sosial yang demikian ketat dengan kriteria yang jelas pada masyarakat perkotaan, membuat lingkaran pertemanan di dalamnya lebih selektif. Walaupun keluarga berbasis darah, tetapi jika relasinya tidak terlalu dekat dan intensitasnya kurang, besar kemungkinan seseorang tidak termasuk dalam lingkaran penting dalam kehidupan orang lainnya. Hal ini kemudian berlaku saat menentukan jumlah undangan pada pesta pernikahan yang bersifat privat.
“Klien yang menginginkan pesta dengan undangan terbatas rata-rata menginginkan acara pernikahan yang simpel. Mungkin mereka sudah bosan dengan perayaan pernikahan yang didatangi banyak orang, namun terasa datar. Karena acaranya hanya bersalaman, lalu pulang,” ujar Ria Indra dari Artea Wedding Organizer. Hal ini juga disepakati oleh Tiara Josodirdjo dari Tiara Josodirdjo & Associates. “Anak muda saat ini mau berpesta dengan kawan-kawan akrabnya, dan biasanya jumlah kawan akrab lebih terbatas,” katanya.