Trending Topic
Rasional Saja

31 Dec 2013

Pesta yang intim, berbincang-bincang dengan semua tamu yang datang, bukanlah hal yang ‘tabu’ lagi dalam pesta pernikahan di Indonesia. Tergolong wajar, jika calon pengantin memilih untuk berpesta secara lebih ’sederhana’, dengan jumlah total tamu tak lebih dari 400 orang. “Dalam 2 tahun terakhir, sekitar 30% dari pernikahan yang diadakan di The Dharmawangsa termasuk dalam private wedding,” jelas Sjachroni Salam (Roni), Assistant Director of Event The Dharmawangsa Jakarta.

 Menurut sosiolog Ida Ruwaida dari Universitas Indonesia, makin banyaknya keinginan pasangan muda memilih cara yang lebih personal ini karena adanya pergeseran makna mengenai seremonial atau upacara itu sendiri. “Di Indonesia, dorongan untuk menyebarkan kabar baik mengenai pernikahan yang dianggap legal adalah dengan mengundang banyak pihak. Apalagi pada masyarakat Indonesia yang berangkat dari masyarakat pertanian yang memiliki kolektivitas yang kuat --sehingga kedukaan atau kebahagiaan menjadi milik bersama-- banyak yang ingin berkontribusi.”

Ketika mendengar berita baik seperti pernikahan, ‘sudah dari sananya’ pasti heboh. Ungkapan sebuah pernikahan  bukan hanya menyatukan dua orang,  melainkan menyatukan dua keluarga besar menjadi satu keharusan. Jangan lupa, definisi keluarga di sini bukan hanya keluarga inti, tetapi berlanjut pada lapisan berikutnya, seperti sepupu hingga sepupu kedua dan seterusnya. Pada perkembangan masyarakat modern, makna bersatunya dua keluarga ini mulai mengalami pergeseran. Masyarakat yang tadinya kolektif, sekarang cenderung lebih individual dan lebih perhitungan.   

“Korelasi sosial dan karakteristik kelompok pada masyarakat perkotaan tentu berbeda dengan masyarakat di pedesaan. Fenomena private wedding party ini tidak mungkin dilakukan di pedesaan, tetapi akan masuk di masyarakat perkotaan yang memang sudah sangat memahami batas-batas siapa yang dianggap keluarga, sekadar teman atau sahabat yang diutamakan,” papar Ida.
Advertisement

Keterikatan sosial yang demikian ketat dengan kriteria yang jelas pada masyarakat perkotaan, membuat lingkaran pertemanan di dalamnya lebih selektif. Walaupun keluarga berbasis darah, tetapi jika relasinya tidak terlalu dekat dan intensitasnya kurang, besar kemungkinan seseorang tidak termasuk dalam lingkaran penting dalam kehidupan orang lainnya. Hal ini kemudian berlaku saat menentukan jumlah undangan pada pesta pernikahan yang bersifat privat. 

“Klien yang menginginkan pesta dengan undangan terbatas rata-rata menginginkan acara pernikahan yang simpel. Mungkin mereka sudah bosan dengan perayaan pernikahan yang didatangi banyak orang, namun terasa datar. Karena acaranya hanya bersalaman, lalu pulang,” ujar Ria Indra dari Artea Wedding Organizer. Hal ini juga disepakati oleh Tiara Josodirdjo dari Tiara Josodirdjo & Associates. “Anak muda saat ini mau berpesta dengan kawan-kawan akrabnya, dan biasanya jumlah kawan akrab lebih terbatas,” katanya. 





 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?