Flirting atau menggoda bisa terjadi dalam interaksi sehari-hari antar pria dan wanita, bahkan dalam konteks profesional. Di satu sisi, gerakan tubuh atau gaya bicara yang ramah atau friendly memang bisa mencairkan suasana dan memperlancar negosiasi. Tapi di sisi lain, gesture ini bisa diartikan sebagai godaan yang melanggar batas etika profesional.
Menurut Natalie Kitroeff, penulis dari Bloomberg Businessweek, bagi wanita bersikap ramah saja terkadang tidak cukup. Mereka sering kali harus bersikap genit demi mendapatkan apa yang mereka inginkan. Taktik ini sebenarnya terbukti cukup efektif, tapi memiliki risiko untuk kebablasan.
“Harus ditekankan di sini, flirting harus dilakukan sehalus mungkin dan bukan seperti menggoda atau merayu lawan jenis yang kita sukai atau dalam konteks kencan. Cukup sebatas menjaga kontak mata, menunjukkan minat akan pekerjaannya, dan bersikap lebih ceria,” tulisnya.
Sekarang wanita sudah lebih berani memakai strategi untuk mendapatkan keinginannya. Ada yang memakai akal sehat, yaitu dengan berargumentasi dengan data-data akurat. Ada juga yang memakai akal tidak sehat, yaitu dengan strategi flirting atau ‘menjual’ diri, atau menggoda dengan menggunakan daya tarik yang dimanipulasi. “Keberanian wanita untuk menjadi yang terbaik adalah suatu kemajuan. Tapi, strategi memanipulasi daya tarik tentu sulit untuk dikatakan sebagai kemajuan,” tutur Ami.
PRIMARITA S. SMITA