Bapak terkekeh lagi. Ibu mengelus-elus rambutku, seperti sedang menghiburku, saat aku kehilangan mainanku. Ah, Bapak, apa, sih, yang lucu?
“Kalau kamu ingin sesuatu dan Bapak atau Ibu tidak bisa menurutimu, kamu pasti kabur,” tutur Ibu, sambil tak lepas memandangku. “Ibu ingat, waktu kamu kabur ke atas pohon jambu. Biar digerayangi semut, kamu tidak mau turun. Oalah, ternyata kamu minta dibelikan permen. Padahal, Ibu bilang tunggu sampai Ibu selesai masak dulu.”
Aku diam saja, mendengarkan.
“Karena itu, waktu kamu kabur naik kereta, kami tak mencoba mencegahnya. Kamu sudah dewasa, Bekti. Kamu sudah bisa bertanggung jawab atas perbuatanmu. Selain itu...,” Ibu terdiam sesaat, matanya berkilat oleh air mata, “kami tidak mampu menuruti semua keinginanmu.”
Aku tertunduk. Ibu tak pernah berbicara seperti itu padaku.
“Sekarang, keinginan mana lagi yang belum bisa kamu dapatkan, Bekti, hingga kamu kabur begini?”
Aku tak berani menatap mata Bapak. Nada bicaranya mengingatkanku saat aku mencoba kabur dari rumah, lalu tercebur selokan di sawah dan tersengat lintah. Aku demam selama dua malam. Badanku meriang. Bapak tak marah. Dia hanya berkata dengan sorot matanya yang tajam, “Bekti, Bekti. Kenapa kamu tidak kapok kabur-kabur begini?”
Anakmu ini memang bandel, ya, Pak. Kusimpan rahasia seperti menimbun kelereng curian. Selama hidupku aku cuma menata keinginan tak terpuaskan. Karena, kalau tidak, aku akan ngambek tak keruan.
Hari ketujuh
Bekti
Andari pagi ini terlihat cantik sekali. Warna bajunya putih, dipadu rok hitam, serasi dengan warna gaun Dena yang kasual. Seharusnya, aku ada di sini, memakai kemeja putih seperti yang dipakai Kiran, juga celana hitam. Kami selalu tampil serasi dalam setiap pemotretan. Bukan hanya karena ingin kompak-kompakan, tapi karena kami tahu apa yang akan kami sajikan untuk media. Kami sudah hafal apa yang diinginkan media.
Studio sudah terang oleh lampu sorot. Kain putih menjadi latar. Seorang pengarah gaya sibuk bercakap dengan Dena, dan Andari menurut saja ketika seseorang merapikan bedaknya. Pemulas cokelat lembut membuat mata Andari dan Dena bercahaya. Namun, sungguh, aku bisa melihat sembap mata mereka. Tentu mereka tak melihatku berdiri di sini, menyaksikan mereka dan tersenyum seorang diri. Mereka tak tahu bagaimana perasaanku terhadap mereka. Biarlah ini menjadi rahasiaku saja.
Juru foto memberi isyarat. Pengarah gaya meminta mereka untuk saling memeluk. Santai saja, katanya, anggap kamera ini tak ada. Relaks saja, tambahnya, seperti sehari-hari di ruang keluarga.
Aku tertawa mendengarnya. Di mana kami saling memeluk mesra seperti itu, kalau tidak di depan kamera?
Kudekati Andari. Kupeluk bahunya. Dia tertawa, menatap kamera. Rapi giginya, seperti biasa. Cerah, seperti tak pernah terjadi apa-apa.
Saat kamera terbidik, kucium dia.
“Terima kasih, Ri, sudah bersamaku selama ini,” bisikku di telinganya. “Terima kasih sudah menjadi seorang istri dari suami yang tak tahu diri, yang suka kabur kalau keinginannya tak terpenuhi. Begitu banyak yang kumau, hingga kehadiranmu tak kusyukuri.”
Kamera tetap membidik beberapa kali.
“I love you,” bisikku.
Andari menatap kamera, tertawa.
Andari mengembuskan napasnya, lega. Sesi pemotretan ini tak pernah dilupakannya. Bukan hanya karena Bekti tak ada di sisinya, namun karena dia sudah berhasil membujuk Dena untuk keluar dari kamarnya. Entah berapa hari Dena mengurung diri, Andari lupa. Tadi pagi Andari khawatir Dena benar-benar tak mau menemaninya hari ini. Syukurlah itu tak terjadi. Dimintanya ibunya berbicara pada Dena pagi tadi.
Di depan kaca, Andari memeriksa rambutnya. Semua rapi. Make up-nya lembut, tak terlalu mencolok untuk seorang istri yang berduka. Yang penting, kelopak matanya yang muram tersamar sapuan warna, tak tampak bekas tangisan malam tadi.
Andari memeriksa make up Dena, memastikan tak ada jejak duka di sana. Diperhatikannya putrinya itu berbincang dengan pengarah gaya. Rupanya, mereka sudah mengenal sejak lama. Lampu sorot mulai menyala. Juru foto memberi isyarat.
“Santai saja, anggap kamera ini tak ada,” kata pengarah gaya.
“Relaks, ya, seperti sehari-hari di ruang keluarga.”
Andari tersenyum mendengarnya. Kapan terakhir kali dia memeluk anak-anaknya seperti ini di rumah? Tentu saja itu sudah lama, sewaktu mereka masih balita. Sejak itu, tak pernah lagi.
Dipeluknya Dena yang tertawa, menatap kamera. Kiran berdiri di antara dia dan Dena, memeluk mereka berdua. Biasanya, Bekti akan duduk di sebelah kirinya, memeluknya. Tanpa Bekti di sisinya, Andari merasakan sesuatu yang tak semestinya. Tak sempurna. Tak pernah dia merasa kehilangan seperti ini. Dulu, meskipun Bekti pergi berhari-hari, tak pernah dia merasa sepi. Rasa rindu ini membuatnya bahagia.
Sayang, Mas Bekti tak pernah mengetahuinya. Biarlah ini menjadi rahasiaku saja.
Belum sempat Andari mengganti baju, Sari tergopoh-gopoh menyusulnya ke dalam studio.
“Bu, sepertinya kita harus buru-buru. Pak Samyono baru saja telepon, menanyakan Ibu.”
“Dia meninggalkan pesan?”
Sari mengangguk. Andari memberi isyarat, “Tunggu!”
Dimasukinya ruang ganti. Dena ada di sana, menyembunyikan wajahnya.
“Terima kasih, ya, Na, sudah menemani Mama,” bisiknya pada Dena yang duduk di sampingnya.
Dena diam saja.
Andari mencoba menguasai dirinya. Dia terpejam, teringat mimpi-mimpinya beberapa malam ini. Seandainya firasatnya benar....
“Ini tentang penemuan mayat di sungai yang Sari dengar tadi pagi itu, Bu. Pak Samyono minta Ibu datang ke rumah sakit untuk mengidentifikasi, apakah mayat itu betul Pak Bekti.”
Suara Sari bergetar. Andari melihat sekeliling. Untunglah, Dena tak ada di sekitarnya. Andari mengemasi tasnya, berusaha tenang, seperti tak terjadi apa-apa. Dia tahu saat ini akan tiba. Dia memahami ini sudah menjadi bagian dari kehidupannya yang tertata.
(Tamat)
Penulis: Sofie Dewayani
Pemenang Kedua Sayembara Mengarang Cerber femina 2006