“Masih terlalu dini. Kami tidak ingin berprasangka dan menduga-duga. Biar polisi yang menyelidiki semuanya.”
“Bagaimana Ibu menanggapi pernyataan salah satu kader PAS, yang juga sahabat Ibu, bahwa Pak Subekti mungkin diculik, dengan motif politik terkait dengan pencalonan Ibu itu?
“Belum ada bukti yang mengarah ke sana.”
“Lalu, bagaimana dengan ancaman dan teror yang Ibu terima?”
Andari tersenyum, sambil melambaikan tangannya, “Biasalah... itu risiko pejuang keadilan seperti saya. Saya sudah terbiasa sejak dulu. Kalian kan tahu saya bagaimana.”
“Kapan terakhir kali Ibu melihat Bapak?”
Andari terdiam sesaat, lalu menunduk ke bawah. Saat memandang kamera, dikerjapkannya matanya yang memerah.
“Senin pagi kami masih menikmati sarapan bersama-sama. Kami ngobrol seperti biasa. Tak ada perbincangan yang penting. Topiknya pun ringan saja. Hanya masalah seputar anak dan liburan. Sungguh, ketika itu saya tak mendapatkan firasat apa-apa....”
Andari berhenti sejenak, menarik napas, lalu mengusap ujung matanya perlahan agar hitam maskara tak berpindah ke tisu di tangannya.
“Apa harapan Ibu terhadap peristiwa ini?”
Andari memain-mainkan tisu, lalu kembali menatap kamera.
“Sebagai seorang istri dan ibu, tentunya saya berharap suami saya kembali berkumpul di tengah keluarga seperti dulu lagi. Tak terbilang rindu kami selama ini...,” Andari lalu menunduk lagi.
Suaranya serak saat matanya kembali menatap kamera dan melanjutkan ucapannya, “Tetapi, sekali lagi, kami menyerahkan sepenuhnya kepada polisi, dan kami siap melakukan apa pun untuk membantu penyelidikan ini.”
Andari melirik jam tangannya.
“Maaf, ya, waktu saya sudah habis. Saya sudah ditunggu di ruang rapat oleh rekan-rekan kerja saya,” katanya, sambil tersenyum dan mengangkat tubuhnya dari sofa.
Lampu-lampu kamera langsung mati. Dua orang wartawan itu menjabat tangannya, mengucapkan basa-basi dan simpati. Tak hanya mereka yang tampak lega, Andari juga. Usai sudah kepura-puraan ini. Formalitas sekadar untuk menenangkan hati.
Dinyalakannya ponselnya. Ada pesan dari Alex.
Aku menunggu, Sayang. Kapan kamu akan meneleponku?
Andari menatap benda kecil merah hati hadiah ulang tahun dari Bekti tahun lalu. Dia ingin membalas pesan itu, tetapi ragu-ragu. Diletakkannya lagi ponsel itu di tas tangannya, sebelum berlalu.
Merapikan rambutnya, Andari teringat wawancaranya tadi. Sesungguhnya, dia tak pernah menikmati sarapan bersama Bekti. Memang duduk di meja yang sama, namun sarapan mereka berbeda. Andari hanya minum jus sayuran dan roti bakar tanpa isi, sedangkan Bekti harus makan mi atau nasi. Basa-basi menjadi ucapan basi, apalagi obrolan dari hati. Tak ada senyum sama sekali. Mereka hanya melakukan ritual pagi suami-istri tanpa menyelami. Itu tak salah, bukan? Tak selamanya suami-istri harus bersama.
Saat mendekati pintu lift, seorang pegawai buru-buru menekan tombol untuknya. Sebelum pintu lift terbuka, ia menyapa dengan ramah.
“Selamat pagi, Bu. Tadi pagi saya melihat berita di televisi. Saya ikut berdoa semoga Bapak cepat kembali.”
Andari tersenyum, lalu mengucapkan terima kasih dengan lirih. Lift membawa tubuhnya naik. Andari merasa melayang, tubuhnya ringan. Tak ada di dunia ini yang mengerti. Tak ada sama sekali.
Bekti
Aku berdiri di depan sesuatu yang serupa jendela raksasa. Andari terbaring di sana, dibalut gaun tidur berwarna jingga. Dulu tak pernah kuperhatikan gaun tidurnya. Namun, entah mengapa, jingga itu mengingatkanku pada dua kuntum mawar yang kuselipkan di jaket hitamku. Jaket hitam itu tak lagi membungkus tubuhku. Hei, bahkan tubuhku tak setambun yang dulu. Perutku ramping, bahkan kurus kering. Kuraba rambutku. Tak ada botak di ubun-ubunku.
Kudekati ranjang di tengah ruangan itu, teringat kami sering bertengkar malam-malam. Aneh rasanya mengingat betapa pertengkaran itu dulu sangat menyakitkan hati, sampai kami tak bicara berhari-hari. Sedangkan kini, semua masalah seperti taburan kotoran, yang meskipun porak-poranda, lumat dalam satu usapan tangan saja. Tak terasa, tak ada bekasnya.
Andari terbangun saat kuhampiri. “Mas, kamu ke mana saja?” bisiknya, seperti melihatku pulang dari rapat direksi berjam-jam lamanya.
“Maafkan aku, ya, Ri.”
Aku ingin bergerak lebih dekat, tetapi sesuatu menahanku.
Andari menggerakkan tangannya ingin menggapaiku, lalu terisak.
“Kamu mau maafkan aku kan, Ri?”
Andari terus terisak seperti dulu, waktu baru menemukan SMS mesra Lidya di ponselku. Ya, mungkin ini terdengar seperti basa-basi. Ucapan maafku kepadanya sudah berulang kali. Biarlah hanya aku yang mengerti bahwa ucapan maaf kali ini sepenuhnya terlontar dari lubuk hati.
“Sampaikan juga maafku untuk Kiran dan Dena.”
“Mas mau ke mana? Aku butuh Mas di sini....”
Andari memandangku, dan aku tercekat. Tak pernah dia memohonku seperti itu. Selama ini dia hanya minta ditemani saat wawancara, pemotretan, rapat perusahaan, dan acara-acara keluarga. Kupikir dia membutuhkanku hanya untuk menggenapkan sebuah citra keluarga. Tak pernah kutahu dia juga membutuhkanku untuk menggenapkan kehidupannya.
Kubalikkan tubuhku cepat-cepat. Aku tak tahan melihat raut mukanya yang pucat. Aku harus pergi, aku harus pergi. Namun, kuputuskan untuk berbalik yang terakhir kali, menatap wajahnya yang masih pasi. Oh, betapa raut muka itu sangat kukenali.
Tangis itu tangisnya dulu, saat kupinang dia menjadi istri. Tak kulamar dia dengan janji-janji, materi, segala yang tak kumiliki. Kukatakan kepadanya, aku hanya punya nyali. Aku tak peduli, jawabnya, dengan air mata di pipi. Kupikir, kami bisa saling menggenapkan diri. Ternyata, cinta tak cukup untuk membuat kami memberikan diri.
Kali ini aku akan pergi. Aku tak mau berbalik lagi, meski hanya sekali. Cepat-cepat kulangkahkan kaki. Entah kenapa, aku melayang, bagai berlari begitu kencang. Menyambut sesuatu yang seperti kembali hadir di sini.
Penulis: Sofie Dewayani
Pemenang Kedua Sayembara Mengarang Cerber femina 2006