“Buat apa kita berlibur jauh-jauh ke Orlando, kalau Andari nggak boleh naik itu, Pa?” pintanya. Matanya penuh harap.
“Ini negeri orang, dan kita cuma ingin senang-senang. Papa nggak mau kamu luka. Kalau ada apa-apa, bagaimana?”
Andari menyelinap di kerumunan orang yang berpotret bersama Mickey, selagi mama-papanya sibuk menenangkan Andi yang menangis ingin naik merry-go-round berkali-kali. Andari duduk di roller coaster, tersenyum-senyum sendiri. Namun, sungguh, saat roller coaster itu meluncur, rasanya ia ingin mati oleh ketakutannya sendiri. Bagaimana kalau ia benar-benar mati?
Andari menjerit. Dilepaskannya ketegangannya. Saat orang-orang terpekik kegirangan, Andari menangis kecil. Dia ingin melompat, tapi tubuhnya terikat. Betapa aneh. Saat roller coaster berhenti, Andari tak ingin beranjak. Dia merindukan sensasi itu lagi; ketakutan, kengerian, nikmat menggelitik hingga tubuhnya meregang. Dia ingin naik roller coaster lagi, lagi, dan lagi.
Mungkin, karena itu Alex tak membuatnya jera. Hanya dia yang bisa membuatnya menjerit. Nikmat, sebab lelah terhambur dari kerongkongannya yang tersumbat. Meskipun, itu tak lama. Setelah jerit reda, Andari terempas. Sesal dan ketakutan menelannya hingga lumat.
“Aku benci... aku benci perasaan bersalah ini,” sedu Andari, di dada Alex. Alex membungkus tubuhnya dengan seprai putih, lalu membelai rambutnya yang tak lagi rapi.
“Tapi, aku ketagihan.”
Alex mengecup kening Andari.
“Kamu pikir aku tidak tersiksa? Aku capek begini, pacaran sembunyi-sembunyi, menulis banyak puisi tentang kamu, tapi ingin ketemu kamu susah setengah mati.”
Andari mengembuskan napas, berat. Di balik kaca taksi yang gelap, lalu lintas di luar tampak padat, seperti dadanya yang tercekat. Orang-orang selalu keluar gedung pada saat yang sama, lalu menyesaki jalan dengan euforia. Penat tertumpah di kios pinggir jalan hingga restoran berpendingin. Seperti dirinya saat ini. Andari mengusap peluh di dahi. Mengapa taksi berpendingin ini pengap sekali?
Andari mengerling ke kaca spion lagi. Dibenahinya kacamata hitamnya. Dari baliknya dia bisa mengerling, mereka-reka apakah sopir taksi ini mengenali wajahnya yang sering tampil di layar kaca. Dipandangnya jalanan, kemacetan yang tak juga beranjak tua. Sedangkan tahun ini usianya menginjak empat puluh lima. Namun, tubuh dan wajahnya, menurutnya, masih pantas berumur tiga puluh lima. Tak tampak di tubuhnya, sisa kepenatan seorang ibu beranak dua. Kulitnya kencang dan langsat berkat perawatan rutin dan luluran. Perutnya seperti perawan, tanpa selulit dan guratan, mulus oleh operasi kecantikan. Tubuhnya ramping terjaga, tertata seperti kehidupannya. Masih pantas bersanding dengan Alex yang masih tiga puluh dua.
“Lex, peluk aku. Aku kedinginan,” katanya. “Mungkin kamu betul, aku paranoid. Tapi, rasanya aku belum siap menghadapi pemilihan ini. Bagaimana kalau aku gagal?”
“Kenapa, sih, kamu takut setengah mati? Aku gagal berkali-kali, dan nggak pernah peduli.”
“Ini kan panggung politik, bukan pementasan seni!”
“Apa bedanya?”
Andari meraba rambutnya yang belum kering sempurna. Dia dan Alex jauh berbeda. Alex adalah ombak tak terduga, dan dia adalah karang yang tertata indah terencana. Alex meletup-letup dan dia menerima. Dia merasa utuh, karena ombak itu mengisi rongga yang selama ini menganga. Andari meraba bibirnya yang tadi dipoles tergesa. Apakah dia belahan jiwa? Mengapa bukan Bekti saja? Dia, yang menurunkan benih anak-anaknya?
“Kita tak bisa terus begini. Paling tidak, sampai beberapa bulan.”
“Kamu paranoid lagi.”
“Terserah mau bilang apa. Aku tidak mau ceroboh. Ini demi kita.”
Alex tertawa. Asap rokok melingkar terembus dari mulutnya.
“Demi kamu kali?”
“Lex, fotoku sudah dipajang di mana-mana. Dari koran sampai ke papan reklame di pinggir jalan sana. Tidak mungkin lagi aku kelayapan ke sini, menyamar jadi karyawati.”
“Iya, Bu Kandidat Wali Kota. Aku kan cuma pengamen jalanan yang menadahkan kaleng di perempatan....”
“Ah, kamu...!”
Andari melirik jam tangannya. Pukul satu tiga puluh lima.
Mengapa Alex dan bukan Bekti? Memang, dulu Bekti adalah pilihannya sendiri. Dia mati-matian meyakinkan orang tuanya bah-wa Bekti adalah pria yang dinanti. Dia mengayomi, melindungi, mengasihi sepenuh hati, dan berpendidikan tinggi. Meskipun ia tahu Andari dibesarkan dalam kelimpahan materi, Bekti bukan tipe pria yang suka mencari muka di depan calon istri. Dia bekerja keras membiayai kuliahnya sendiri. Dari tukang koran hingga kuli, semua dilakoninya dengan percaya diri.
Di matanya, Andari melihat pijakan yang kokoh, tempatnya bisa menambatkan hati. Bahkan, ketekunannya meluluhkan hati papa Andari. Tak ada cela pada diri Bekti, tak ada sama sekali. Andari hanya ingin naik roller coaster sesekali. Berdebar sesaat sebelum diisap rutinitas lagi. Bekti tak ubahnya seperti agenda merah hati. Setia, namun terlalu berbakti. Rapi, tak ada kejutan sama sekali. Namun, Andari tak mau kehilangan agenda merah hati. Dia tak bisa hidup tanpa Bekti. Pria itu telah membuat hidupnya rapi. Alex hanya aksesori.
Taksi memasuki pelataran gedung, membuyarkan lamunan Andari.
“Langsung ke parkiran belakang, Pak,” katanya, cepat, teringat rapat yang akan dipimpinnya nanti. Halaman parkir sepi, saat Andari menapakkan kaki. Sambil melangkah cepat, dirapikannya rambut sebahunya yang bersepuh warna tembaga. Sampai kapan dia akan bertahan di roller coaster ini?
“Rud?” Pria yang tertidur di bawah pohon itu tergagap.
“Sudah, Bu?”
“Kamu sudah makan?”
Rudi mengangguk. Andari mengamati wajah pemuda yang sudah sepuluh tahun bekerja untuknya. Wajahnya pucat yang tak biasa (mungkin, hanya dia yang pura-pura tak terjadi apa-apa).
Andari memasuki mobilnya yang wangi. Digigitnya bibirnya sendiri. Di sini, semuanya terkendali. Tak ada yang menyangka dia pergi naik taksi, mengunjungi sebuah apartemen dua kilometer dari sini. Mereka hanya tahu dia rapat dengan Yayasan Melati, di lantai dua gedung mewah ini.
Mobil melaju pelan. Rudi tampak lebih pendiam. Andari meliriknya, merasa bersalah sudah tiga hari menginterogasinya.
“Sudah terima kabar dari Bapak, Rud?”
“Belum, Bu.”
Andari melayangkan matanya ke luar jendela. Kemacetan di luar masih tetap sama. Ya, ya. Dia tahu ini rumah tangga sandiwara. Bekti lebih banyak menghubungi Rudi ketimbang dia, istrinya.
Andari terkesiap saat telepon genggamnya berbunyi. Selalu begitu selama tiga hari. Namun, kali ini dari Dena, bukan Bekti yang dinanti-nanti.
“Ma?”
“Ya?”
“Dia nggak akan ikut. Boleh nggak Nana pergi besok?”
“Dena....”
“Ayolah, Ma. Mama tahu Nana sudah lama latihan untuk pendakian ini.”
Andari menarik napas. Kenapa gadisnya ini tak seperti abangnya, Kiran, yang penurut dan pendiam?
“Mama kan sudah bilang, ini bukan cuma tentang Tonny. Waktunya tidak tepat. Kamu tahu, dua hari lagi....”
“Pemotretan di majalah itu lebih penting, ya, daripada Nana?”
“Ini kan potret keluarga.”
“Iya, sih, tapi, apa tak ada yang lebih penting daripada kampanye Mama?”
“Na....”
“Kenapa Mama nggak terus terang saja sama wartawan?”
“Kamu ngomong apa, sih, Na?”
“Bilang saja Mama nggak didukung oleh keluarga. Nana nggak suka Mama mencalonkan diri jadi wali kota. Papa juga. Karena itu Papa pergi. Lalu, Mama terlalu takut untuk lapor polisi. Mama takut ketahuan wartawan, lalu karier Mama berantakan.”
“Na, nanti malam kita bicara, ya? Kamu mau dibawain apa?”
“Nggak usah. Nanti Nana kelaparan nungguin Mama pulang. Nana mau makan sama teman-teman.”
“Dena....”
“Nana bosan di rumah. Nana capek pura-pura!”
Klik.
Andari menggigit bibir. Dipergokinya Rudi sedang melirik dari kaca spion.
Oh, tentu saja itu tak benar. Bekti mendukung apa pun yang dilakukannya. Tepatnya, dia tak pernah punya waktu untuk memberi saran, apalagi mengkritiknya. Bekti tahu kehidupan mereka tak pernah bisa bersentuh, meskipun mereka selalu bersama.
Andari mengusap matanya yang basah. Bekti, Bekti. Tak ada yang bisa berbicara dengan Dena seakrab dia. Dena anak Papa. Sejak lahir, Bekti lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya. Bekti selalu menemukan cara untuk membujuknya. Dipandangnya potret Dena di dompetnya. Cemburu mencubit perih dadanya. Dena menganggap Bekti sahabatnya, sedangkan dia tak bisa menemukan damai pada sosoknya, selama delapan belas tahun mereka bersama. Aku bukan sahabat siapa-siapa. Bahkan, anak gadisku menganggap aku seterunya.
Penulis: Sofie Dewayani
Pemenang Kedua Sayembara Mengarang Cerber femina 2006