Fiction
Rahasia-Rahasia [1]

11 May 2012

Hari Kedua
Andari kehilangan sebuah dengkur. Selama delapan belas tahun dengkur itu tak hanya menjadi irama pengantar tidur, namun juga pertanda denyut hidupnya yang teratur. Dela­pan belas tahun Andari mengawali ritual istirahat malamnya dengan memilih gaun tidur, sikat gigi, membersihkan wajah, memakai krim malam, memasang rol kain kecil-kecil di rambut, mengatur nyala lampu temaram, lalu menggumam selamat malam seperti menukar tutur. Basa-basi seperlunya saja. Beku, seperti rangka tempat tidur cokelatnya yang berpelitur. Tak ada cium, apalagi tatap menghujam bola mata yang dulu begitu menghibur. Tak sempat bertukar kata-kata pelipur, apalagi bisik-bisik mesra yang membuat malam lebur.

Sepuluh tahun ini, hanya punggung Andari dan Bekti yang bertatapan. Tak bersinggungan, hanya bersisian semalaman. Seperti saling paham, memendam gelisah dalam diam. Tak ada sapa, tak ada tanya. Buat apa bicara, bisik Andari dalam hati, kalau hanya bikin ribut.

Namun, dua hari ini Andari uring-uringan. Tak ada dengkur yang mengalahkan dering alarm, ketika matahari menembus tirai kamar. Tidurnya gelisah, karena tempat tidur terasa begitu lapang. Ini sudah keterlaluan. Bekti menghilang seperti ditelan udara berpolutan. Tak seorang pun melihat dia berkeliaran. Di rumah ini atau di luar sana, dia tak ada. Tak mungkin dia pergi menembus kegelapan seperti setan. Tanpa telepon genggam, tanpa tas, juga pakaian cadangan. Ruang kerjanya seperti tak tersentuh, rapi, tak berantakan.

Andari ingat kapan terakhir kali didengarnya dengkur itu. Malam itu saat memakai pelembap, dia teringat jadwalnya bermanikur. Ditandainya agenda, seperti merapikan deret kegiatannya yang teratur. Lalu, dirapikannya celana Bekti yang tergeletak sekenanya, sambil menyesali mengapa dia tak pernah bisa melepaskan diri dari pria yang sama.

Di kamar mandi obat kumur-kumur selalu terbuka, dan handuk tak pernah tertata rapi di tempatnya. Tetek-bengek kecil ini menodai hidupnya yang tertata, seperti bunyi dengkur mengusik mimpi indahnya. Terkadang, dia ingin pria itu pergi diam-diam saja, seperti bulan yang beranjak, saat dia belum terjaga. Tapi, sungguh, itu hanya harapan pura-pura. Dia tak pernah membayangkan ini akan terjadi juga. Dia ingin dengkur itu tetap di sana, meskipun tak ingin direngkuhnya.

Pagi kemarin, Andari merasa aneh saat terjaga. Ada yang hilang. Ternyata, dengkur itu sudah menjadi musik latar kehidupannya yang tertata.

“Masa, sih, kamu nggak lihat apa-apa, Min?”

“Betul, Bu. Saya kan jaga semalaman.”

“Jaga atau jaga? Bagaimana saya tahu kalau kamu jaga? Buktinya, Bapak keluar, kamu meleng juga.”

“Itulah yang saya heran. Kok, bisa, ya, Bu?”

“Kok, malah nanya saya? Katanya, kamu satpam profesional?”

Andari meninggalkan Samin yang termangu.

“Kamu terus terang saja sama saya, Rud!”

“Sungguh, saya nggak tahu apa-apa, Bu.”

“Saya tahu sesuatu yang kamu nggak tahu,” Andari nyaris berbisik. Diperhatikannya pemuda tanggung berambut ikal itu. Tangannya meremas-remas lap mobil yang kering dan kuyu. Andari tahu, pasti ada sesuatu yang membuat mu­kanya sepagi ini tampak layu.

“Terus-terang saja. Apa, sih, yang mau kamu sembunyikan dari saya? Toh, saya sudah tahu.”

“Maksud Ibu?”

“Kamu masih suka antar Bapak ke rumah wanita itu, ‘kan?”

“Siapa, Bu?”

“Ah, kamu masih pura-pura nggak tahu. Pasti kamu antar Bapak ke sana kemarin malam.”

“Saya tidur sepanjang malam. Nggak kelayapan. Sumpah, Bu.”

“Sumpah, sumpah! Antar saya ke rumah wanita itu nanti siang.”

“Siapa, Bu?”

“Berapa, sih, Bapak kasih kamu? Sa­ya bisa kasih kamu lebih, tahu?”

“Ah, saya betul-betul nggak tahu siapa yang Ibu maksud....”

“Ah, kamu...!”

Andari menghampiri meja makan dengan tergesa. Semua persekongkolan ini tak biasa. Selama ini, tak ada yang tersembunyi dari matanya. Tak ada yang cela, karena semua tertata. Bahwa suaminya mudah tergoda oleh wanita, bukankah semua pria itu sama? Wajar kalau itu cuma hiburan sesekali saja. Namun, menghilang tanpa jejak selama dua hari itu keterlaluan. Ini insiden yang bisa menoreh cacat, lalu mengusik karier politik dan rumah tangganya yang rapi, seperti deret kalender di buku agenda.

Andari mengunyah sarapannya. Roti bakarnya terlalu kering. Jus seledri menyentuh lidahnya dengan rasa manis yang tak biasa. Mengapa pagi ini tak sempurna? Mengapa sulit sekali meminta orang lain untuk bekerja sebaik dia?

“Miii...!”

Sosok wanita paruh baya datang tergopoh-gopoh.

“Kenapa jus seledri ini diberi gula? Kenapa, sih, kamu selalu lupa?”

Mimi mengambil gelas itu tergesa. Andari mengelap serpihan roti di bibirnya yang bersepuh jingga menyala. Pagi masih muda, dan rasa laparnya lenyap seketika. Kali ini siapa? Lidya, Lisa, atau Myrna? Satu demi satu perselingkuhan Bekti diendusnya, tanpa gonjang-ganjing, tanpa prahara, seperti memunguti pakaian Bekti yang berceceran di kamarnya. Dia paham sepenuhnya bahwa pria seperti suaminya butuh cinta yang masih membara. Sesuatu yang tak dia punya.

“Aku tidak peduli kamu tidur dengan siapa, Mas. Asal jangan mengusik ketenangan rumah tangga, perusahaan, dan rencana karier kita,” katanya.

Andari menatap rumpun melati yang rimbun di luar sana. Sesungguhnya, dia ingin istirahat dari mengurusi seorang pria. Dia ingin menepi dari tetek-bengek rumah tangga, lalu mengabdi untuk dirinya sendiri. Dibukanya agenda bersampul merah hati. Hari ini dia harus membuka rapat direksi, lalu menyusul rapat dengan yayasan sosial yang mengurusi puluhan anak yatim yang ia santuni. Sore nanti, dia harus rapat dengan tim sukses untuk membahas rencana kampanyenya nanti. Dengan jadwal serapi ini, bagaimana dia mesti menyisihkan waktu untuk memikirkan seorang pria yang pergi untuk mencari hiburan sendiri?

Tangan Andari menekan-nekan tombol di telepon genggam. Sari, bisa ketemu saya lebih pagi? Saya tunggu di ruangan jam setengah delapan, ya.

Andari beranjak, merapikan blazer jingganya, sewarna bibirnya. Dulu dia selalu memulai pagi dengan bertanya pada Bekti, “Hari ini kamu ingin aku pakai baju apa?” Bekti suka warna lembut, biru langit atau cokelat tanah yang menenteramkan hati. Kini, tanya itu menjelma menjadi basa-basi konyol yang tak perlu.

Andari melirik jam tangan mewah yang melingkar di tangannya. Setengah tujuh. Dena sudah pergi ke sekolah, dan mungkin Kiran sudah pergi ke kampusnya sejak tadi. Aneh. Anak itu selalu saja pergi pagi-pagi belakangan ini. Andari memeriksa tas tangannya untuk terakhir kali. Tak ada waktu untuk berbasa-basi. Rudi menanti, asap rokoknya menari-nari. Mobil sudah dipanaskan sedari tadi. Andari teringat ucapannya pagi tadi. Apakah dia akan menyuruh Rudi untuk mengantarkannya ke rumah wanita itu siang nanti?

Ah, persetan dengan semua ini. Dia masih punya harga diri. Toh, Bekti hanya sesaat pergi. Mungkin, dia hanya jenuh dengan semua ini, seperti dirinya yang ingin menepi. Tak akan lama lagi. Dua puluh tahun dia mengenal Bekti. Suaminya itu akan tahu ke mana dia harus kembali.

“Ibu ingin saya lapor polisi? Sudah dua kali dua puluh empat jam Bapak pergi,” Sari tak mengangkat wajahnya dari buku catatan.

“Oh, tidak perlu. Pak Bekti memang suka begitu. Besok atau lusa pasti dia kembali.” Andari menyembunyikan wajahnya. Dengan gejolak hati seperti itu, sulit rasanya tampil pura-pura.

“Lalu, apa yang harus saya katakan di rapat direksi?”

Advertisement
“Bilang saja, Pak Bekti pergi ke luar kota, urusan mendadak.”

Andari menatap Sari yang tampak ragu.

“Jangan sampai media tahu.” Andari seperti tak mengenali suara itu, desis yang ambigu, tercekat di kerongkongannya yang terasa beku.

Sari hanya mengangguk.

“Wawancara dengan majalah itu?”

“Lima hari lagi, ‘kan?” Andari melirik kalender mejanya. Sebuah majalah wanita telah menganugerahinya predikat ‘The Woman of the Year’. Tak hanya itu, fotonya akan terpajang di sampul edisi tahunan. Foto keluarga. Ya, potret keluarga yang sesungguhnya; harmonis, romantis, akrab, berprestasi, terpandang, dengan senyum-senyum yang ramah tak berdusta.

Andari tersentak dari lamunannya. Sari menghilang di balik pintu yang tertutup tanpa suara. “Lima hari lagi, ‘kan?” Gumamnya. Ditandainya kalender dengan tinta merah. Lima hari lagi semua akan kembali seperti semula. Mereka akan berpose bersama, memasang topeng pura-pura, lalu tersenyum di depan kamera. Klik. Seluruh Indonesia akan menjadi saksi kemesraan mereka. Lihatlah, istri politisi kawakan, kandidat wali kota. Suaminya pengusaha ternama. Keluarga dermawan. Anak-anaknya cantik dan tampan. Tak hanya keluarga yang mereka tumbuhkan, namun perusahaan atas nama bersama, juga kasih sayang. Betapa beruntungnya.

“Apa rahasia sukses karier Ibu?” Andari menggambar sosok jurnalis majalah wanita itu di benaknya. Jawabnya, tentu saja keluarga. “Keluarga saya adalah suporter saya. Mereka tim sukses saya, pendukung yang tak meminta imbalan politik apa-apa.” Lalu, suaminya akan menghadiahinya kecupan di kening. Cup. I love you. Klik. Kamera akan mengabadikan cium mesra itu. Tawa spontan dan tatap mesra, basa-basi sesaat. Hanya menyapa, tak bersentuhan. Seperti punggung mereka setiap malam.

“Lima hari lagi,” gumamnya. Telepon genggam Bekti tergeletak di depannya. Oh, dia tak akan lupa. Bekti selalu menghargai janji dengan media. Dua puluh tahun, Andari tahu Bekti akan kembali pada saatnya. Bekti akan memenuhi janjinya.

Hari Ketiga
Andari melihat sekeliling, lalu mengetuk pintu apartemen itu ragu-ragu. Setelah seminggu berlalu, apakah dia marah? Andari memandang gagang pintu bergerak, terkesiap. Seraut wajah menyembul di celah pintu. Andari mendorong daun pintu tergesa. Degup di dadanya reda. Sepasang tangan kekar merengkuhnya. Andari luluh. Dibenamkannya wajahnya di dada bidang berkaus putih itu. Sejenak, dia mencium sesuatu.

“Kamu belum mandi, ya?” katanya, setengah merajuk. Dilepaskannya tubuhnya dari rengkuhan pria itu.

“Aku kangen. Sibuk mikirin kamu. Mana sempat aku mandi?”

Andari tertawa. “Gombal!” Dadanya bergemuruh lagi. Itu yang disukainya dari pria ini. Bagi Andari, dia ombak. Kata-katanya melenakan, lalu memabukkan. Menghujam, lalu mengempas. Tak ada yang terduga, semuanya tiba-tiba. Tak pernah membosankan. Tidur pria ini pun tak mendengkur. Napasnya naik-turun, berima seperti puisi. Tak seperti Bekti.

“Ke mana saja, sih, seminggu ini? Aku tunggu-tunggu teleponmu setiap hari. Hampir saja aku nekat menelepon kamu.” Pria itu memeluk pinggang Andari dari belakang, saat mereka berjalan menuju pantry.

“Kenapa? Bekti berulah lagi?”

“Dia pergi.” Andari mengeluarkan minuman dari kulkas.

“Pergi?”

“Ya. Menghilang, Tidak bilang-bilang.”

“Lalu?”

“Lalu? Aku bingung. Dia tidak biasanya begini.”

“Ah, paling-paling dia pergi dengan wanita itu lagi.”

“Sudah tiga hari.”

“Hmm, enak, dong. Kamu seharusnya senang. Aku nggak perlu sembunyi-sembunyi lagi.”

Pria itu menciumi lehernya. Andari melepaskan tubuh darinya. Sejenak, matanya tertumbuk pada lukisan kanvas setengah jadi. Sosok wanita berkebaya ungu muda, namun kain batiknya belum berwarna. Andari tahu, wajah wanita itu seharusnya anggun. Namun, di tangan pria itu, senyumnya tampak genit.

“Itu aku?” Andari mendekatinya.

Pria itu tertawa. “Kamu suka?”

“Gila kamu.”

“Kenapa?”

“Kamu akan pajang ini di pameranmu nanti?”

“Kamu suka? Ini masterpiece-ku.”

“Kamu gila, Lex.”

“Kenapa? Takut tercium media?”

“Gila kamu.” Andari mendorong pria itu pelan, menyembunyikan senyum di wajahnya. “Kita tak bisa begini. Kamu tahu, media kita seperti apa. Mereka bisa saja mengarang cerita tentang kita.”

“Ah, santai aja. Tidak akan ada yang berprasangka. Semua orang tahu, kamu penyandang dana pameran ini.”
Andari berjalan menjauh. Lantai yang diinjaknya seperti bergoyang. Lukisan dirinya itu seperti tak tersenyum, tetapi menyeringai menakutkan.

“Jangan, Lex. Please... kamu tidak serius, ‘kan? Jangan mengacaukan kampanye ini. Kamu tahu apa artinya ini buatku.”

“Ah....”

“Kamu tidak paham politik, Lex....”

“Kamu yang terlalu serius. Sini, aku bikin kamu relaks....”

Andari membiarkan pria itu merengkuhnya. Mereka bertatapan, merasakan bola mata yang seperti terbakar, dirajam rindu yang menghujam.


Penulis: Sofie Dewayani
Pemenang Kedua Sayembara Mengarang Cerber femina 2006




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?