Detak jantungnya hampir saja berhenti, ketika ia melihat langsung mayat yang terbujur kaku di kamar mayat sebuah rumah sakit di Jakarta. Wajahnya hampir sama dengan ibunya. Tapi, bukan, itu bukan ibunya. Ibunya memiliki tahi lalat di hidung dan dagu. Wanita itu tidak.
Vivi kebingungan, mau mencari ibunya ke mana lagi. Semua tempat sudah ditelusuri. Ia juga sudah melaporkan kasus kehilangan ini ke kepolisian. Tapi, hasilnya nihil.
Apakah Mama menyimpan dendam padaku dan sudah tidak lagi menganggap aku sebagai anaknya? Mengapa ia tidak mau pulang?
Di tengah kebingungan, Vivi teringat akan Tante Uli, kakak ibunya, yang tinggal di Medan. Mungkinkah Mama sekarang berada di Medan? Tapi, mungkinkah ia pergi sejauh itu? Tapi, siapa tahu….
“Selamat malam, Tante Uli. Ini Vivi. Apa kabar, Tante?” tanya Vivi.
”Oh, kamu. Ada apa kamu telepon ke sini?” kata Uli, dingin.
“Tante, apakah Mama di sana?” suara Vivi tersendat, sedikit takut.
“Kalau ada, kenapa?” ujar Uli, tetap dingin.
“Saya mau menjemput Mama!”
“Menjemput? Tidak bisa! Tante tidak mengizinkan kamu menjemput mamamu sebelum kamu minta maaf padanya. Bagaimana kamu tega membiarkan mamamu pergi dari rumah? Kamu tidak tahu kan apa yang terjadi selanjutnya?”
“Selanjutnya? Maksud Tante?”
“Mamamu mengalami kecelakaan ketika baru tiba di Medan. Ia ditabrak mobil yang melaju kencang. Sialnya, si pengendara kabur. Untunglah, di dompetnya ada nomor teleponku. Mamamu sempat koma.”
”Mengapa Tante tidak memberitahukan?”
“Apa perlunya? Setelah siuman, mamamu berpesan agar tidak menghubungimu. Karena, ia tidak mau disakiti lagi olehmu!” ujar Uli, tegas.
Vivi menarik napas panjang. “Jadi, bagaimana keadaan Mama sekarang?”
Desah napas Uli terdengar berat, seperti ada beban yang mengimpit dan sulit dikatakan.
“Mamamu…,” Uli tak melanjutkan kata-katanya.
“Tante, ada apa dengan Mama? Tante, saya memang salah. Saya memvonis Mama bersalah, tanpa mau mendengarkan alasan apa pun. Saat itu, Vi kalut dan bingung. Semua media massa memojokkan saya. Mereka tidak memedulikan kondisi saya sama sekali. Tante, izinkan saya bertemu dan memohon ampun pada Mama,” pinta Vivi.
“Saat ini kesehatan mamamu sudah pulih, meski kadang-kadang Tante sering mendapati ia menangis dan memanggil-manggil namamu. Tapi, akibat kecelakaan itu, kaki kanannya diamputasi. Inilah yang sempat membuatnya depresi. Dan, ia sempat nekat ingin bunuh diri!”
Rumah di Jl. Kakatua 19, Deli Serdang, Medan, terlihat lengang. Sebuah taksi berhenti tepat di depan gerbang berwarna cokelat perak.
“Terima kasih, Pak! Kembaliannya ambil saja!”
“Sebanyak ini?” tanya sopir taksi, kaget. Selama menjadi sopir taksi, ia belum pernah mendapat tip sebesar itu. Penumpangnya mengangguk.
Seorang pria gagah turun dari taksi dan masuk ke rumah itu.
“Mama! Mama!” ia memanggil ibunya dari depan pintu gerbang.
Tak ada tanda-tanda pintu gerbang akan dibuka, ia berteriak lagi. Namun, beberapa menit menunggu, tak juga ada yang muncul. Ia lalu mencoba menghubungi ponsel ibunya. Setelah beberapa kali dering, barulah diangkat.
“Kok, baru diangkat teleponnya, Ma!”
“Hei, Troy. Maaf, Mama agak tidak enak badan. Setelah minum obat baru bisa tidur.”
”Ma, Troy ada di luar. Dari tadi sudah teriak-teriak panggil Mama, tapi tidak ada yang membukakan pintu.”
Mira mengintip jendela ruang tamu. Setelah melihat siapa yang berdiri di balik pagar, ia bergegas menuju pintu gerbang.
“Kok, tidak bilang kalau mau pulang?” kata Mira, sambil menggandeng Troy masuk ke rumah. Ia ambilkan minuman dingin, lalu duduk di sebelah Troy, yang sedang beristirahat di ruang keluarga.
”Kamu sehat, Nak? Waduh… anak Mama makin tampan saja. Hmm… jangan-jangan di sana sudah punya kekasih,” kata Mira.
“Memang sudah!” jawab Troy, mantap. ”Tapi, dia orang Jakarta, kok. Dia cantik dan pintar. Pokoknya, Mama pasti akan bangga punya menantu seperti dia,” kata Troy, bangga.
“Mama jadi penasaran. Ada fotonya nggak?”
“Mama lebih baik langsung berkenalan dengan orangnya. Ia baik sekali. Rencananya, minggu ini saya akan ke Jakarta untuk melamarnya.”
“Hebat, datang-datang memberikan kejutan. Tapi, Mama juga punya kabar gembira untukmu!”
“Kabar gembira? Tanah Mama sudah terjual?” Troy menerka.
“Bukan itu. Ini tentang sakit hati Mama yang sudah sembuh! Perasaan benci, dendam, dan sakit hati Mama pada Henny sudah terbalas.”
“Henny? Henny siapa, Ma?” tanya Troy, bingung.
“Mantan istri Bram, ayah tirimu. Masih ingat?”
“Ya, ingat. Tapi, ada apa dengannya?”
“Kamu ingat nggak, gara-gara dia, mamamu masuk penjara!”
“Tapi, semua itu kan karena ulah Mama juga. Mengapa Mama berencana membunuhnya? Padahal, Om Bram sudah meninggalkannya,” ujar Troy, seakan membela Henny.
“Kamu, kok, malah membela dia! Dengar, ya, Troy, Mama tidak mau ditinggalkan untuk kedua kalinya oleh pria yang Mama cintai. Kamu tentu masih ingat tingkah laku ayahmu. Katanya, ia sudah meninggalkan perempuan selingkuhannya itu. Sampai ia bersumpah untuk tidak mengulangi lagi. Nyatanya, ia masih bersama perempuan itu dan akhirnya lebih memilihnya daripada Mama. Kamu ingat, betapa Mama menderita karena ulahnya!”
Ya, Troy ingat. Masa lalu kembali membayang di pelupuk matanya. Ibunya seperti orang hilang ingatan ketika harus berpisah dari orang yang dicintainya. Ibunya secara tiba-tiba sering menangis, berteriak, tertawa, bahkan memukul-mukul tanpa sebab. Untunglah, adik ibunya dengan cepat membawa ibunya untuk menjalani perawatan.
“Mama tidak ingin Bram kembali lagi padanya!” lanjut Mira berapi-api.
“Tapi, bukankah ketika itu Om Bram mengatakan bahwa ia sudah menceraikan istrinya?”
“Katanya, begitu. Tapi, kenyataannya, setiap kali Mama ingin melihat bukti surat cerainya, ia tidak pernah bisa memberikan. Perasaan takut kehilangan orang yang Mama cintai makin menghantui. Apalagi, Mama dengar, saat itu Henny sedang berbadan dua. Mama tidak mau Bram berpaling dan meninggalkan Mama. Jadi, lebih baik dilenyapkan saja!” suara Mira terdengar ringan, tanpa beban.
“Ha? Dia sedang hamil? Mama benar-benar kejam! Apakah Mama tidak merasa berdosa ikut membunuh janin yang dikandungnya?” tanya Troy, yang tidak pernah mengikuti perkembangan kasus ibunya. Karena, pada saat ibunya memutuskan untuk berumah tangga dengan Bram, ia sudah berada di negeri Belanda untuk menuntut ilmu. Keluarga dari pihak ayahnya banyak yang bermukim di sana dan ingin menyekolahkannya.
“Sayangnya, Henny dan anak itu masih diizinkan menghirup udara dunia. Tapi, Aron malah mati terbunuh. Itulah yang membuat Mama makin membenci perempuan itu. Karena, sebelum mati, Aron buka mulut bahwa dalang pembunuhan itu adalah Mama. Troy, kamu boleh marah atau protes. Tapi, dendam ini sudah bertahun-tahun Mama pendam. Akhirnya, Mama mendapatkan saat yang tepat untuk membalasnya. Putri Henny sekarang sudah tumbuh menjadi gadis cantik dan menarik. Kariernya makin berkibar di dunia hiburan. Mama sengaja membeberkan masa lalu ibunya pada media. Hasilnya, karier putrinya itu hancur,” kata Mira, sambil tertawa.
“Ma, Mama sadar atau tidak bahwa perbuatan Mama itu menghancurkan kehidupan mereka. Apa, sih, salah mereka, Ma?” tanya Troy, terheran-heran. Ia tidak menyangka ibunya sanggup melakukan semua itu
“Sangat, sangat sadar, Troy. Mama puas! Mereka semua hancur. Bicara tentang kesalahan, Mama tidak tahu siapa yang salah dalam hal ini. Tapi, gara-gara Henny, harga diri Mama hancur. Coba kamu bayangkan, semua koran memuat berita tentang seorang pengusaha cantik yang masuk penjara. Betapa malunya Mama saat itu. Sekarang, kondisi yang sama pun dirasakan oleh Henny dan anaknya. Media massa menyorot sisi kelam kehidupan Henny. Satu sama, ’kan?” ucap Mira, tersenyum puas.
Troy tidak bisa berkata-kata lagi. Suasana siang itu jadi terasa hampa.