“Why didn’t you write me? I waited for you for 7 years, and now it’s too late!” Allie berseru marah kepada kekasih lamanya, Noah, yang tak pernah memberi kabar. Tapi, Allie tak bisa lagi membendung kerinduannya. Ia pun melompat ke pelukan Noah dan menciumnya dengan mesra di bawah guyuran air hujan di atas dermaga sebuah danau.
Adegan romantis nan dramatis dalam film The Notebook ini rupanya begitu membekas di hati banyak orang. Sampai-sampai Rachel dan Ryan yang memerankan Allie dan Noah memenangkan penghargaan Ciuman Terbaik di ajang MTV Movie Award 2005. Mengulang kesuksesan adegan tersebut di atas panggung MTV malam itu, keduanya pun langsung menjadi pasangan terfavorit.
Lain lagi dengan perannya dalam The Time Traveler’s Wife, yang ia perankan bersama Eric Bana. Rachel memerankan Claire, seorang wanita muda yang menikahi lelaki dengan bakat time-traveling. Kemampuan akting Rachel sangat memukau di film ini, terutama ekspresi wajahnya ketika ia melihat suaminya selalu menghilang begitu saja dari pandangannya di saat-saat penting dalam hidupnya. Dalam film ini, Rachel berperan sebagai Claire, mulai dari usia 16 tahun hingga 30-an, dan ia menunjukkan akting yang sangat menawan sebagai gadis remaja dan wanita dewasa.
Eric, yang berperan sebagai suaminya, pun memuji wanita ini sebagai pribadi yang menyenangkan. “Rachel aktris yang sangat hebat, dan ia juga seorang wanita yang sangat menyenangkan. Begitu bertemu di set, kami langsung akrab, karena kami memiliki selera musik dan makanan yang sama.”
Dalam film terbarunya, The Vow, yang juga diangkat dari novel karya Nicholas Sparks, sekali lagi Rachel berbagi layar dengan salah satu aktor paling hot saat ini, Channing Tatum. Penonton seolah terbawa perasaan Paige melalui kalimat-kalimat yang meluncur dari mulutnya dalam film ini. Bagaimana ia berjuang mengingat kejadian-kejadian penting dalam kehidupannya, terutama pernikahannya, yang terhapus dari ingatan karena kecelakaan yang dialaminya, dan bagaimana ia berusaha jatuh cinta lagi pada suaminya, Leo.
Channing terpesona akan kepandaian Rachel mengutarakan dialog-dialognya dengan penuh perasaan, “Film-film seperti ini membutuhkan kaitan emosi yang sangat kuat, agar penonton bisa merasakan apa yang sesungguhnya terjadi pada karakter-karakter para tokohnya. Dan Rachel sangat luar biasa, ia bisa membuat siapa pun yang melihatnya mengucapkan kalimat-kalimat itu, langsung merasakan emosi karakternya. Aku rasa itu bukan lagi sebuah bakat, melainkan kutukan,” tuturnya.
Sering berperan sebagai wanita yang selalu menunggu sang pujaan hati dan membuat orang lain yang melihat berurai air mata, bukan berarti membuat Rachel lemah. Anda tentu masih ingat dengan perannya sebagai Irene Adler, tokoh wanita fiktif karya Sir Arthur Conan Doyle, satu-satunya orang yang mampu membodohi detektif terhebat sepanjang masa, Sherlock Holmes. Rachel memerankan Irene Adler dalam dua film Sherlock Holmes yang disutradarai Guy Ritchie. Dan, seperti ‘kebiasaan’-nya, dalam dua film itu Rachel beradu peran dengan Robert Downey Jr. dan Jude Law. Keakraban mereka bertiga di depan maupun di belakang kamera membuat iri banyak wanita.
Sebelum ia menjadi wanita tangguh di duologi Sherlock Holmes, Rachel sudah menunjukkan bahwa ia tidak selalu berperan sebagai wanita yang hanya mengharapkan bantuan orang lain. Dalam film Red Eye, ia berjuang sendirian di atas pesawat terbang, mencegah teror yang mengancam ayahnya dari penumpang aneh yang duduk di sampingnya dalam sebuah penerbangan tengah malam. Ketegangan demi ketegangan meluncur dari gerak-gerik dan ekspresi Rachel yang akan membuat Anda merasa terbawa ke dalam situasinya. (f)