Travel
Praha: Sebuah Buku Yang Terbuka

21 Feb 2014


Di suatu siang yang gerimis, saya, Primarita S. Smita, menyusuri jalan bebatuan basah di Malá Strana, di sisi barat Sungai Vltava yang membelah Praha. Tak berbekal peta, saya menghilang dalam lorong-lorong, melewati pintu-pintu dan jendela-jendela kecil yang berhiaskan bunga warna-warni yang masih mekar di musim gugur. Tak lama kemudian, saya sampai di kaki sebuah bangunan megah, yang tak lain adalah hrad atau kastil Praha. Seketika saya merasa seperti sedang tersesat dalam cerita Disney. Melihat profil Kota Praha yang kecil tapi karismatik, tidak berlebihan rasanya jika kesan pertama saya pada  ibu kota Republik Ceko ini adalah seperti dongeng.


Kota Khayalan

Saat melewati gang-gang kecil di antara gedung-gedung tua yang seakan tak tersentuh zaman, sambil mendengar alunan musik klasik yang sayup-sayup, pikiran saya jadi imajinatif. Jangan-jangan, jika saya berputar cukup cepat, pakaian ‘gembel’ saya akan berubah menjadi gaun princess, dan saya akan terbawa kembali ke zaman kerajaan!

    Tapi, saya tidak mengada-ada. Lihatlah semua landmark Praha yang terlihat seperti membeku dalam waktu. Misalnya Charles Bridge, yang selalu menjadi lokasi idaman untuk foto wedding. Berdiri sejak abad ke-15, jembatan yang terbuat dari batu ini ‘dijaga’ oleh belasan patung baroque yang misterius. Ketika saya ke sana, matahari bulan Oktober sedang bersinar cerah dan trio pengamen berpakaian seperti pendeta zaman dulu sedang membawakan musik folk abad pertengahan. Seperti musik yang didengar para hobbit ketika sedang minum-minum…

     Lain lagi ketika saya naik ke menara Astronomical Clock yang menjulang di Old Town Square. Meski tak terlalu tinggi (59 m), menara ini dilengkapi lift bagi mereka yang terlalu malas untuk naik tangga. Begitu sampai di viewing deck yang melingkar 360°, saya langsung mendapat pemandangan ‘VIP’ akan Kota Praha, termasuk gereja Our Lady Before Týn dari abad ke-14. Saat melihat kereta kuda dan para pejalan kaki yang terlihat seperti semut di bawah. Saya membayangkan perasaan para raja dan ratu Bohemia zaman dulu, ketika melihat kerajaannya terbentang di depan mata.

    Atau ketika saya menjelajah kompleks kastil yang berdiri tinggi di atas Malá Strana. Dengan predikat kastil kuno terbesar di dunia, sepintas Hradcany tidak terlihat seperti kastil-kastil di Inggris atau Prancis. Bangunan-bangunannya justru lebih modern, dengan beberapa pengecualian, seperti St. Vitus Cathedral yang bergaya gothic dan St. George Basilica yang sudah berdiri sejak zaman Renaissance.

Bukan arsitektur yang membuat saya terkesima pada kompleks yang luasnya mencapai 74.100 meter persegi itu. Justru taman-taman kecil yang ‘menggantung’ di pinggir-pinggir kastil, memandang Kota Praha hingga ke seberang Sungai Vltava. Atap-atap bangunan rumah yang berwarna merah kecokelatan, dengan pot bunga warna- warni yang menyembul sana-sini, membuat saya iri pada siapa pun yang tinggal di sana dan bisa menikmati pemandangan indah itu  tiap hari.

    Keindahan kota yang memiliki banyak nama panggilan ini –Prague, Prag, Praha, Prahu- seakan tidak habisnya diabadikan dalam banyak foto dan lukisan. Tapi ironisnya, Praha lebih sering disorot dalam cahaya yang cenderung gelap dalam karya-karya literatur, yang versi bahasa Inggris-nya saya temukan di toko buku bekas Shakespeare a Synové di Mála Strana.


Dari Einstein hingga Kafka

Penulis-penulis hebat Ceko dari abad ke-20, seperti Franz Kafka atau Milan Kundera, banyak menulis tentang keresahan sosial dan politik Ceko pada zamannya masing-masing. Keduanya terkenal memakai Praha sebagai latar belakang cerita sekaligus karakternya yang suram dan tertekan.

Mood itu juga saya rasakan ketika menginjakkan kaki di Kafka Museum. Sepintas, museum yang masih berada di area kastil ini tampak seperti rumah biasa. Tapi, begitu memasuki lorong-lorong gelap di area galeri di lantai atas, saya langsung merinding.

Diiringi musik ilustrasi yang sendu dan lampu yang redup, pengunjung diajak napak tilas kehidupan pria keturunan Yahudi ini, termasuk membaca surat-surat pribadinya kepada ayahnya, dan sejarah percintaannya dengan beberapa wanita yang kebanyakan kandas.
Di kota besar seperti Jakarta, kafe atau restoran khas Eropa bukan sesuatu yang asing lagi. Tapi menurut saya, ada sensasi yang kurang dari duduk-duduk di bistro Prancis di tengah keramaian mal mewah, yaitu nostalgia masa lalu. Berniat untuk merasakan sensasi ini, saya berkunjung ke dua kafe bersejarah peninggalan era Kerajaan Austria-Hungaria yang paling terkenal di Praha, yaitu Café Louvre dan Kavarna Slavia (kavarna adalah bahasa Ceko untuk kafe).

    Tadinya, saya berharap bisa mojok dan menyepi di Café Louvre sambil membaca The Unbearable Lightness of Being karya Kundera, atau menulis tentang perjalanan saya di blog. Nyatanya, begitu saya tiba di sana sekitar pukul 3 sore, Louvre begitu hiruk pikuk sampai saya harus menunggu beberapa menit untuk mendapatkan meja. Meski sangat sibuk, seorang pelayan kafe yang memakai seragam dan celemek hitam putih menyapa dengan ramah dan mempersilakan saya duduk di meja kecil dekat jendela.
Advertisement

    Kafe yang berlokasi di lantai dua Narodni 22 ini dulunya adalah tempat hang out Kafka dan tokoh-tokoh sejarah Ceko lainnya. Albert Einstein yang sempat mengajar di Prague German University sebelum Perang Dunia I adalah salah satu pelanggan setianya. Louvre dibangun tahun 1902 dan sempat hancur tahun 1948 ketika para komunis datang dan melempar semua perabotannya ke luar jendela. Baru di tahun 1992 Louvre direnovasi sepenuhnya dengan desain interior baru yang tetap klasik.

    Sambil menyeruput minuman cokelat panas dengan rum, saya mengamati sekeliling. Semua pengunjung tenggelam dalam percakapan dan tidak ada satu pun yang terlihat sedang memegang smartphone ataupun sibuk dengan ritual foto makanannya. Bisa jadi, suasana ini mirip dengan yang dialami Einstein dulu saat duduk dan menuliskan ide-ide briliannya. Hmm, kira-kira dulu ia duduk di mana, ya…?

    Keesokan harinya, saya berkunjung ke Kavarna Slavia, yang dibangun tahun 1884, bersamaan dengan National Theater yang berada tepat di seberang jalan. Dulu, Slavia adalah tempat ngopi bagi orang-orang yang akan menonton pertunjukan di sana. Kini, kafe bergaya art deco ini tidak menyambut para pencinta seni dan budaya saja, tapi juga wisatawan dari seluruh dunia. Untuk menghindari keramaian turis, orang-orang lokal biasanya menikmati me time di pagi hari dengan membaca koran.

    Kavarna Slavia berada di pojok jalan seberang Sungai Vltava. Saat cuaca sedang baik, jendelanya yang besar-besar menyuguhkan pemandangan Malá Strana dan hrad yang berdiri megah di kejauhan. Dinding-dinding interiornya dipenuhi foto-foto tamu istimewa Slavia selama beberapa dekade, termasuk mendiang Presiden Ceko, Václav Havel, yang kini diabadikan sebagai nama bandar udara Praha. Hanyut dalam mesin waktu, saya menyeruput secangkir kopi dengan susu dan madu, menikmati dentingan piano yang dimainkan live  tiap sore, sambil menyaksikan orang lalu-lalang.


Surga Pejalan Kaki

Salah satu kelebihan Praha dibanding kota-kota besar Eropa lain, menurut saya, adalah ukurannya yang terbilang kecil. Saking kecilnya, banyak tempat di daftar must-visit yang tidak sempat saya cari, akhirnya malah tidak sengaja ketemu. Bus-bus tur besar yang biasa memadati jalanan dan sering kali merusak pemandangan, seperti di Paris atau Berlin, sama sekali tidak ada di sana. Gantinya adalah mobil van, kereta kuda, atau becak.

Karena atraksi dan tempat-tempat bersejarah di Praha banyak yang berdekatan, menurut saya, cara terbaik untuk menjelajah adalah dengan berjalan kaki (atau segway, semacam skuter yang dinaiki berdiri, bila Anda cukup adventurous). Banyak perusahaan yang menyediakan kombinasi tur naik mobil dan berjalan kaki. Ada pula yang menyediakan tur jalan kaki gratis. Anda cukup memberi tip serelanya bagi sang pemandu.  Anda juga bisa mengikuti Kafka walking tour untuk menelusuri jejak langkah Kafka dari ia lahir di Old Town Sq, hingga dimakamkan di kuburan keluarganya di Jewish Quarter.

    Salah satu penemuan saya ketika sedang berjalan kaki di sekitar Václavské námestí (Wenceslas Sq.) adalah Lucerna Pasaz. Seperti di kebanyakan kota Eropa, Praha memiliki jalan-jalan potong (passageway) di dalam gedung-gedung toko atau perkantoran. Saya takjub dengan interior Lucerna yang bergaya art deco dengan tegel hitam putihnya, sementara di langit-langit yang tinggi tergantung patung St. Wenceslas yang menunggangi kuda terbalik. Rasanya saya seperti menemukan salah satu rahasia Praha yang hebat.

Tapi, saya ingin mendapatkan cerita lebih tentang Praha. Jadi, saya memutuskan untuk mengambil tur keliling kota yang berdurasi sekitar 3 jam dengan naik mobil dan jalan kaki. Kebetulan, waktu itu saya satu-satunya wisatawan yang berbahasa Inggris. Maka, saya diikutkan ke dalam rombongan orang Rusia. Pemandunya, Oleg, adalah pria paruh baya keturunan Rusia yang gesit, ramah, tapi tanpa basa-basi, khas orang Eropa Timur.
Mobil van pun membawa kami berkeliling dari Staré Mesto (Old Town), Nové Mesto (New Town) hingga Josefov (Jewish Quarter), melewati berbagai tempat menarik. Mulai dari Jalan Parizska yang penuh dengan  butik mewah, gedung kantor The Dancing House yang meliuk seperti sepasang penari, sampai ke kompleks makam kuno Yahudi yang terlihat lumayan spooky di bawah pohon-pohon rindang.

Setelah mobil menyeberang sungai ke Malá Strana (Lesser Town), tur dilanjutkan dengan jalan kaki. Berjalan kaki di bawah rintik hujan menyusuri jalan-jalan bebatuan di sekitar kastil, Oleg menceritakan tentang Praha dengan bahasa Inggris fasih (entah mengapa, penjelasannya dalam bahasa Rusia terdengar lebih panjang). Menurutnya, peninggalan sejarah dan budaya yang usianya beberapa abad membuat Praha seperti buku terbuka yang mengundang untuk dibaca. Namun, pembaca (maksudnya pengunjung)  lebih tertarik pada ‘bab’ cerita yang romantis ketimbang   kisah masa lalu yang gelap.

“Jembatan ini adalah lokasi foto idaman bagi para pengantin baru,” ujar Oleg, saat kami mendekati Charles Bridge yang hari itu begitu sesak oleh turis, penjual suvenir, dan pelukis jalanan. “Sepintas, jembatan itu begitu cantik dan romantis. Tapi, jika Anda lihat lebih dekat, patung-patungnya kebanyakan adalah replika, karena yang asli sudah hancur dimakan waktu. Bahkan, salah satu menaranya tak lagi simetris, karena dibom saat perang,” tutur Oleg, menutup acara jalan-jalan hari itu.


TIP

  1. Penerbangan dari Jakarta via Dubai atau Istanbul langsung ke Praha. Waktu tempuh sekitar 15 jam. 
  2. Cicipi bir Ceko (harganya lebih murah dari air mineral!) yang rasanya tidak sepahit bir Jerman, seperti Pilsner Urquell atau Krušovice.
  3. Meski agak mahal (400 czech koruna/porsi), coba Old Prague Ham yang dijual di kios-kios di Wenceslas Square atau di Old Town Square.
  4. Beli sebotol anggur madu (medovina) yang dijual di kios di Námestí Republiky (Republic Dari Charles Bridge, susuri Sungai Vltava ke arah selatan untuk bertemu angsa-angsa cantik yang akan segera berkerumun bila diberi potongan roti.
  5. Mampir ke Petrin Hill, jangan lupa bawa perbekalan untuk piknik di bukit rumput atau taman bunga.
  6. Beli aneka suvenir Praha di tempat yang paling murah (magnet sekitar 50 Kc), yaitu di  Havelská Market yang menyempil di salah satu jalan di Old Town.
  7. Borong aneka produk kecantikan buatan lokal merek Botanicus atau Manufaktura yang tokonya tersebar di pusat kota dan bandara. (PRIMARITA S. SMITA)




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?