Celebrity
Pilih-pilih Peran

18 Dec 2014


Memulai karier di dunia entertainment di usia 18 sebagai presenter acara musik, Herjunot Ali (29) kini menjelma sebagai bintang film jaminan mutu untuk film berbujet besar. Aktingnya di beberapa film, seperti 5 cm dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, menarik perhatian penikmat film. Totalitasnya di dunia film ternyata tak main-main, dia telah menyiapkan segalanya untuk terjun kembali setelah vakum beberapa waktu.

Pilih-Pilih Peran

Film Supernova, Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh menjadi bukti produktivitas Junot yang terus membintangi film-film besar. Tiap tahun sejak 2011, bisa dipastikan ia muncul di film baru. Peran-peran yang ia mainkan pun berbeda satu sama lain. Menjadi remaja artsy di 5 cm, penulis yang kasihnya tak sampai di Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, sampai seorang pengusaha muda sukses dan kaya di film terbarunya, Supernova.  
“Saya enggak akan ambil peran kalau enggak punya referensi untuk peran itu karena nantinya akan sulit untuk merasakannya,” ungkapnya. Diakui Junot, di tiap peran yang ia ambil, pasti ada sebagian karakter yang ia nilai mewakili dirinya. “Untuk peran Ferre di Supernova, saya dan dia sama-sama orang yang gila data statistik,” lanjutnya.
Film Supernova diangkat dari novel fiksi ilmiah dengan judul sama karya Dewi ‘Dee’ Lestari. Film yang dibuat dengan bujet superbesar ini siap tayang 11 Desember 2014. Supernova digarap serius, dengan melakukan syuting di beberapa tempat, salah satunya Washington DC. Menurut sang produser, Sunil Soraya, tingginya antusiasme pembaca novel Supernova membuatnya tak bisa setengah-setengah dalam penggarapan film ini. Ia ingin penonton film, baik yang sudah maupun yang belum membaca novel, merasa puas.
Hal ini juga yang membuat Junot senang untuk kembali bekerja sama di bawah naungan Soraya Films. Menurutnya, ia seperti menemukan tim yang solid dan memiliki tujuan serta visi yang sama dalam menghasilkan sebuah karya sinema.
Advertisement
“Kami ingin memberikan sebuah cinema experience yang lengkap. Seperti untuk setting adegan di Washington DC, meski hanya beberapa scene,  syuting pun dilakukan di sana agar atmosfer yang terbentuk bisa tetap terjaga,” jelas pria yang tahun depan siap meluncurkan album perdananya ini.
Tak hanya di Amerika, film ini juga syuting di beberapa tempat  indah Indonesia, seperti Bali, Jakarta, Medan, hingga Labuan Bajo. Ini menjadi kesempatan membahagiakan bagi Junot yang memang sudah memendam hasrat untuk mengeksplorasi alam Labuan Bajo. “Kami syuting di tempat-tempat yang indah sekali. Ini juga pertama kalinya saya ke Labuan Bajo dan berlayar dengan yacht. Pengalaman yang seru,” ungkap pria yang pernah menjadi murid sekolah sepak bola di West Ham, London, ini.
Berperan sebagai Ferre, si eksekutif muda dan terkenal, Junot mengaku tak begitu menemui kesulitan. Dalam proses reading yang memakan waktu 3 bulan, Junot berulang kali membaca novel yang sebelumnya pernah ia baca saat di bangku SMA. Ia juga mengaku selalu membawa novel ketika syuting guna mendalami karakter Ferre. Bagi Junot, mendalami karakter yang diangkat dari sebuah novel seperti ini, bukan pertama kali ia lakukan. Pengagum berat Leonardo Da Vinci ini sadar tidak bisa meng-capture fantasi pembaca novel ke sebuah medium film, sehingga ia tak pernah merasa terbebani.
Aktor yang meraih penghargaan sebagai Pemeran Pria Terpuji di Festival Film Bandung ini mengatakan, ia bukanlah tipe aktor yang rajin observasi untuk sebuah karakter. Ia setuju dengan pendapat George Clooney bahwa saat seorang aktor telah dipercaya pada sebuah karakter dan peran, maka berikan ruang yang luas untuk berkreasi menghidupkan peran dan karakter itu. Jadi, fokus pada skrip dan setia pada pembentukan karakter jadi trik Junot berakting dari hati. “Terlalu banyak pikiran tidak baik dan terkadang membunuhmu di set,” katanya.
Saat ditanya apa yang ia lakukan jika terlibat cinta terlarang seperti yang dialami Ferre, sambil tertawa Junot menjawab, dirinya bukanlah drama king. “Sepertinya enggak mungkin terjadi. Hidup yang terlalu drama hanya buang energi.”(Ayu Widya S)





 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?