Tiga tahun kemudian, 1960, pil kontrasepsi yang mengandung hormon sintetis pertama diproduksi dan ditujukan khusus untuk mencegah kehamilan. Estrogen dan progesteron adalah dua hormon yang mengatur proses dari siklus menstruasi. Keduanya membuat lingkungan uterus tidak nyaman untuk sebuah embrio dengan menyebabkan penipisan dinding rahim, sehingga bisa ‘mengelabui’ tubuh untuk tidak melakukan pembuahan. Penggunaan pil yang dianggap sangat mudah dan cukup efektif dalam mencegah kehamilan ini membuat pil menjadi alat kontrasepsi paling populer di Amerika.
Ada beberapa macam jenis pil kontrasepsi, ada yang hanya mengandung progestin saja, mengandung estrogen saja, dan ada pula yang jenis kombinasi antara estrogen dan progestin. Pil kontrasepsi terbukti efektif membuat seorang wanita berhenti ovulasi, dan menghentikan, mengurangi kemungkinan pembuahan. Tetapi, beberapa efek samping yang timbul banyak dikeluhkan, seperti mual, sakit kepala, atau bertambahnya berat badan. Yang paling berbahaya, efek komplikasi kardiovaskular yang dapat memengaruhi kinerja jantung.
Belum lama, muncul di pasaran pil kontrasepsi yang ditujukan untuk pria. Penelitian menemukan bahwa kimiawi spermalah yang memungkinkan mereka untuk membuahi sel telur. Pil kontrasepsi pria dirancang untuk ‘mengganggu’ kimiawi tersebut sehingga sperma yang mencapai sel telur tidak dapat membuahinya, tetapi langsung mati. Namun demikian, mengenai efektivitas dan bagaimana dampaknya terhadap kesuburan pria dalam jangka panjang, masih perlu penelitian lebih lanjut.
Ficky Yusrini