Demi mempersiapkan diri berperan sebagai pembunuh yang kejam di film The Night Comes For Us, misalnya, ia mati-matian melatih fisik dan belajar ilmu bela diri selama tiga bulan. Sementara, demi peran di film Skakmat yang akan tayang akhir tahun ini, ia memanjangkan poni ala alay. Di film Surga yang Tak Dirindukan, ia sengaja pergi ke Lombok untuk berjemur selama tiga hari agar kulitnya menghitam. Meski akhirnya film The Night Comes For Us batal diproduksi, Tanta tetap merasa beruntung bisa mendapat pengalaman baru. ”Yang belum pernah, berubah jadi gendut,” ujarnya, tersenyum.
Bagi pria kelahiran 16 Oktober 1981 ini, bukan perubahan fisik yang terlihat dari luar saja yang menurutnya membuat seorang aktor hebat, tapi kemampuan untuk mendalami sebuah karakter. ”Saya mungkin enggak ganteng-ganteng amat, tapi saya mampu menjadi sebuah karakter dalam waktu singkat dengan kualitas akting yang bagus,” ujar pengagum Lukman Sardi dan almarhum Robin Williams ini, percaya diri.
Selain menjadi salah satu pemain tetap di sitkom The East, tahun ini bisa dibilang jadwal syutingnya terisi penuh. Ia bahkan terlibat dalam berbagai produksi film yang berbeda genre. Selain bermain dalam film bergenre komedi, Skakmat dan Tiga Dara, ia juga beraksi dalam film laga fantasi, 3, serta film epik sejarah berjudul Guru Bangsa: Tjokroaminoto.
”Tinggal film horor saja yang belum pernah saya lakoni. Pasti menantang untuk mengekspresikannya, soalnya saya bukan penakut,” ungkap pria yang mengaku hampir tak pernah menampik peran yang disodorkan ini.
”Saya bukan sekadar cari duit, tapi cari pengalaman. Karena itu, saat memilih film saya selalu mempertimbangkan sutradaranya terlebih dahulu, baru kemudian ceritanya, dan bujetnya. Pokoknya, kalau sutradaranya belum pernah kerja bareng, saya mau banget ikut,” ujar pria yang hobi olahraga Brazilian jujitsu dan krav maga ini. ”Saya penasaran banget ingin kerja bareng Riri Riza, Joko Anwar, Fajar Nugros, dan masih banyak lagi,” ujar pria Libra ini. (f)